Mengejutkan! Mata Manusia Masih Aktif Berjam-jam Setelah Kematian

Peneliti menemukan cara menjaga mata tetap merespons cahaya hingga 10 jam setelah kematian.

Diterbitkan 09 Agustus 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mata manusia ternyata masih dapat mempertahankan fungsi penting hingga 10 jam setelah kematian. Temuan ini menjadi kemajuan dalam penelitian kesehatan mata karena menunjukkan bahwa jaringan mata masih dapat merespons cahaya dalam waktu yang jauh lebih lama dibandingkan temuan sebelumnya.

Peneliti menemukan bahwa dengan mengalirkan darah dan oksigen ke mata donor, struktur retina serta jaringan di sekitarnya dapat dipertahankan hingga 24 jam. Bahkan, sebagian mata donor masih menunjukkan respons listrik terhadap cahaya hingga 10 jam setelah kematian.

Temuan ini dinilai dapat membuka peluang baru untuk pengembangan transplantasi mata di masa depan.

"Penelitian ini bisa menjadi langkah penting kemungkinan transplantasi mata seutuhnya," ujar Thomas Johnson dari Johns Hopkins University di Baltimore, Maryland, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Menurut Johnson, kemampuan mempertahankan respons mata terhadap cahaya setelah berada di luar tubuh merupakan pencapaian yang sangat mengesankan.

Dikutip dari New Scientist pada Sabtu (18/7/2026), lebih dari satu juta orang di Inggris mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan akibat kerusakan permanen pada mata, termasuk degenerasi makula yang menyerang retina.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengembangan teknologi untuk memulihkan fungsi penglihatan, seperti dikutip dari Tekno Liputan6.com pada Minggu, 9 Agustus 2026.

Salah satu prosedur yang telah berkembang adalah transplantasi kornea. Prosedur ini menggantikan lapisan bening di bagian depan mata dengan jaringan donor sehingga dapat membantu memperbaiki gangguan penglihatan akibat kerusakan kornea.

Namun, transplantasi retina jauh lebih kompleks karena retina memiliki hubungan erat dengan sistem saraf pusat. Retina juga sangat rentan mengalami kerusakan ketika kekurangan oksigen atau iskemia.

Eimear Byrne dari Barcelona Institute of Science and Technology di Spanyol bersama timnya kemudian mencari cara untuk mempertahankan kondisi mata donor agar tetap menyerupai keadaan ketika masih berada di dalam tubuh.

Tim Byrne mengembangkan sistem bernama Eye-in-Care-Box. Perangkat ini memungkinkan darah atau larutan kaya oksigen dialirkan ke mata melalui arteri oftalmik. Sistem tersebut juga dilengkapi sensor yang secara otomatis mengatur tekanan dan aliran larutan agar kondisi mata tetap terjaga.

Penulis: Aisyah Mustika Zamani/Tekno

 

Peneliti Ambil Mata dari 6 Donor

Untuk menguji sistem tersebut, peneliti mengambil mata dari enam donor. Salah satu mata dari setiap donor mendapat perfusi, sementara mata lainnya tidak diberi perfusi sebagai pembanding.

Hasilnya, mata yang mendapat perfusi mampu mempertahankan struktur retina dan kesehatan jaringan di sekitarnya hingga 24 jam. Sebaliknya, mata yang tidak mendapat perfusi mengalami kerusakan lebih cepat.

Peneliti kemudian melakukan perfusi terhadap 36 bola mata donor. Sebanyak 15 mata menunjukkan respons listrik terhadap cahaya pada retina, menyerupai respons yang ditemukan pada mata manusia yang masih hidup.

Respons tersebut dapat bertahan hingga 10 jam setelah kematian. Durasi ini dua kali lebih lama dibandingkan penelitian sebelumnya pada 2022 yang hanya berhasil mempertahankan respons hingga lima jam.

Meski demikian, peneliti belum mengetahui mengapa 21 bola mata lainnya yang juga mendapat perfusi tidak menunjukkan respons serupa.

Temuan ini tetap belum menyelesaikan tantangan terbesar dalam transplantasi mata secara utuh. Dokter masih perlu menemukan cara untuk meregenerasi serat saraf optik yang terputus sehingga dapat kembali terhubung dengan pusat penglihatan di otak.

"Tanpa hal itu, mata donor tidak akan memiliki cara untuk mengirimkan sensasi visual ke otak penerima," jelas Johnson.

 

Saraf Optik

Saat ini, beberapa kelompok peneliti tengah mengembangkan metode untuk mendorong pertumbuhan kembali saraf optik. Menurut Johnson, berbagai penelitian tersebut perlu mulai diintegrasikan untuk mendukung pengembangan transplantasi mata secara utuh.

Meski belum dapat mengembalikan penglihatan, penelitian Byrne menunjukkan bahwa menjaga metabolisme mata tetap aktif setelah kematian dapat memperpanjang waktu sebelum jaringan mengalami kerusakan akibat iskemia. Kondisi ini berpotensi memberikan lebih banyak waktu bagi peneliti untuk mengembangkan terapi pemulihan penglihatan.

Selain untuk transplantasi, tim Byrne menilai Eye-in-Care-Box dapat digunakan untuk menguji terapi mata langsung pada jaringan mata manusia, bukan hanya melalui penelitian pada hewan.

Johnson juga melihat teknologi tersebut berpotensi menjadi model in vitro untuk menguji obat dan terapi, sekaligus membantu ilmuwan memahami berbagai proses biologis dan penyakit yang berkaitan dengan mata.

Dengan demikian, meski transplantasi mata secara utuh masih menghadapi banyak tantangan, kemampuan mempertahankan fungsi retina selama berjam-jam setelah kematian memberikan dasar baru untuk penelitian dan pengembangan terapi pemulihan penglihatan di masa depan.