Hantavirus adalah Virus dari Tikus yang Bisa Berujung Cuci Darah, Kok Bisa?

Hantavirus adalah penyakit akibat paparan tikus yang diam-diam dapat memicu gagal ginjal akut.

Diterbitkan 10 Mei 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rumah sakit di Belanda, Leiden University Medical Center (LUMC), dilaporkan bersiap menerima pasien dari kapal pesiar mewah, MV Hondius, yang diduga terpapar hantavirus. Meski bukan virus baru, hantavirus tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk gagal ginjal akut hingga pasien membutuhkan cuci darah.

Internist Konsultan Ginjal Hipertensi, dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD menjelaskan bahwa hantavirus ditularkan melalui paparan kotoran, urine, atau air liur tikus yang terhirup manusia. Virus ini bukan menular antarmanusia seperti COVID-19. Namun, tetap berbahaya bila tidak dikenali sejak dini.

"Hantavirus itu bukan virus baru, ya. Dia sudah ada puluhan tahun yang lalu. Ditularkan bukan dari orang ke orang, tapi dari kotoran tikus, urine, atau air liur tikus yang terhirup manusia," kata Decsa yang pernah menjadi mahasiswa di LUMC dikutip Kesehatan Liputan6.com dari unggahan video di Instagram pribadinya, @dokterdecsa pada Minggu, 10 Mei 2026.

Secara umum, hantavirus memiliki dua bentuk penyakit utama. Di kawasan Amerika, kata Decsa, virus ini lebih sering menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan jantung.

Sementara di Eropa dan Asia, termasuk beberapa wilayah Asia Tenggara, bentuk yang lebih dikenal adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

Menurut Decsa, HFRS memiliki kaitan erat dengan kerusakan ginjal. Pada kasus berat, pasien bahkan bisa mengalami penurunan fungsi ginjal secara drastis dalam waktu singkat.

"Ini relevan buat saya sebagai nefrolog, karena sekitar 40 persen pasien HFRS berat itu membutuhkan dialisis atau cuci darah akibat gagal ginjal akut," ujarnya.

 

Gejala Hantavirus adalah Flu

Gejala awal hantavirus sering kali menyerupai flu biasa sehingga banyak orang tidak menyadarinya. Penderita umumnya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas. Namun, dalam beberapa hari kondisi dapat memburuk dengan cepat.

Pada kasus yang menyerang ginjal, pasien bisa mengalami penurunan produksi urine, tekanan darah tidak stabil, hingga gangguan fungsi organ lainnya. Oleh sebab itu, diagnosis dan penanganan dini menjadi sangat penting.

Sayangnya, hingga saat ini belum tersedia vaksin hantavirus yang digunakan secara luas. Pengobatan yang diberikan pun masih bersifat suportif, yakni membantu menjaga kondisi tubuh pasien agar organ vital tetap bekerja optimal selama masa infeksi berlangsung.

 

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Decsa Medika Hertanto (@dokterdecsa)

Apakah Hantavirus Menular dari Manusia ke Manusia?

Meski terdengar mengkhawatirkan, Decsa menegaskan bahwa risiko hantavirus menjadi pandemi global relatif kecil karena virus ini tidak mudah menular dari manusia ke manusia.

"Hantavirus memang perlu diwaspadai, tetapi masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Fokus utama adalah menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan area yang banyak tikus," kata Decsa.

Untuk mencegah penularan, masyarakat disarankan menggunakan masker saat membersihkan gudang atau area kotor yang berpotensi menjadi sarang tikus.

Hindari menyentuh kotoran tikus secara langsung dan pastikan lingkungan rumah tetap bersih serta memiliki sirkulasi udara yang baik.