Liputan6.com, Jakarta - Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius belakangan memicu kekhawatiran publik dunia. Bagaimana tidak? Virus yang selama ini dikenal menular dari tikus ke manusia itu disebut-sebut juga dapat menyebar antar manusia.
Kasus ini mencuat setelah sejumlah penumpang kapal pesiar berbendera Belanda tersebut terinfeksi hantavirus strain Andes (ANDV). Hingga kini, beberapa penumpang dilaporkan meninggal dunia dan sebagian lainnya masih menjalani perawatan intensif.
Situasi itu membuat banyak orang mulai bertanya-tanya, apakah hantavirus benar-benar bisa menular dari manusia ke manusia seperti COVID-19?
Advertisement
Para ahli penyakit infeksi menegaskan bahwa penularan antarmanusia memang mungkin terjadi, tapi tidak semudah virus pernapasan seperti SARS-CoV-2.
Spesialis penyakit infeksi dari Vanderbilt University Medical Center, William Schaffner menjelaskan bahwa hantavirus umumnya hidup pada hewan pengerat kecil, terutama di wilayah beriklim kering.
Virus tersebut keluar melalui urine dan kotoran tikus, lalu menginfeksi manusia saat debu yang terkontaminasi terhirup.
"Hantavirus hidup pada hewan pengerat kecil di beberapa wilayah dunia. Virus ini dikeluarkan melalui urine dan kotoran tikus. Manusia biasanya terinfeksi ketika menghirup debu kering yang mengandung virus," kata Schaffner dikutip dari Medical News Today pada Selasa, 12 Mei 2026.
Namun, kasus di MV Hondius berbeda karena melibatkan strain Andes hantavirus yang memang diketahui memiliki kemampuan menyebar antar manusia.
"Berbeda dengan jenis hantavirus lain, strain Andes dapat menyebar dari orang ke orang,"Â tambahnya.
Meski begitu, Schaffner menekankan bahwa penularannya membutuhkan kontak yang sangat dekat dan berlangsung cukup lama.
Â
Butuh Kontak Dekat dan Berkepanjangan
Pendapat serupa disampaikan spesialis penyakit infeksi dari NYU Langone Health, Justin Chan.
Menurut Chan, manusia biasanya terinfeksi hantavirus setelah kontak dengan urine, air liur, atau kotoran tikus yang membawa virus.
"Penularan antar manusia memang pernah terjadi pada wabah Andes hantavirus sebelumnya. Namun, penyebaran ini biasanya membutuhkan kontak dekat dan berkepanjangan sehingga seseorang terpapar cairan tubuh penderita," kata Chan.
Artinya, risiko penularan tidak terjadi hanya karena berpapasan dengan pasien di tempat umum.
Hal ini berbeda dengan COVID-19 yang dapat menyebar lebih mudah melalui droplet atau udara dalam situasi tertentu.
Spesialis penyakit infeksi dari University of California San Francisco, Monica Gandhi juga menegaskan bahwa strain Andes memang unik dibanding jenis hantavirus lain.
"Pada wabah sebelumnya, penularan terjadi melalui kontak sangat dekat dengan orang yang terinfeksi, termasuk kontak fisik langsung, berada lama di ruang tertutup, atau terkena cairan tubuh pasien," ujar Gandhi.
Â
Advertisement
Gejala Awal Hantavirus yang Sering Tidak Disadari
Salah satu hal yang membuat hantavirus cukup berbahaya adalah gejala awalnya yang kerap menyerupai flu biasa.
Menurut Schaffner, pasien umumnya hanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, dan badan terasa lemas pada fase awal infeksi.
"Gejala awalnya tampak ringan sehingga sering tidak membuat pasien merasa khawatir," katanya.
Padahal setelah beberapa hari, kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat.
Pasien dapat mengalami sindrom hantavirus kardiopulmoner, yaitu gangguan serius pada paru-paru dan sistem pernapasan yang menyebabkan sesak napas, tekanan darah turun drastis, hingga gagal napas.
Justin Chan menyebut gejala lain yang juga sering muncul meliputi:
- nyeri punggung
- sakit perut
- muntah, dan
- diare.
Pada fase berat, pasien bisa mengalami pneumonia dan kekurangan oksigen parah.
Â
Apakah Berpotensi Menjadi Pandemi?
Meski kasus di kapal pesiar memicu kecemasan global, para ahli menilai risiko wabah ini berkembang menjadi pandemi masih rendah.
Schaffner menilai wabah saat ini masih tergolong terkendali karena penyebarannya terbatas pada kelompok kecil penumpang.
"Risiko penyebaran besar sangat rendah. Ini tidak akan menjadi epidemi seperti COVID-19,"Â tambahnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut risiko penyebaran global masih rendah, walaupun pelacakan internasional tetap dilakukan terhadap para penumpang yang sudah kembali ke negara masing-masing.
Â
Advertisement
Cara Melindungi Diri dari Hantavirus
Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus untuk hantavirus.
Karena itu, langkah pencegahan menjadi hal terpenting.
WHO dan CDC menyarankan masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan mencegah tikus masuk ke rumah dengan menutup celah atau lubang kecil.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus.
"Publik secara umum sebenarnya tidak berada dalam risiko tinggi karena hantavirus membutuhkan kontak dekat untuk menular," kata Gandhi.
Meski demikian, dia mengingatkan agar masyarakat tetap waspada, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan tikus atau berada di wilayah yang pernah melaporkan kasus hantavirus.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/262/original/004103300_1521089203-WhatsApp_Image_2018-03-15_at_12.45.09.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579808/original/071698300_1778075971-2.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258188/original/054428500_1781325475-AP26164102653511.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264097/original/098152700_1782090739-AP26172582885325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4891677/original/000043600_1721008752-10_AP24196756280349.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8504143/original/019730100_1782424741-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/934935/original/034536700_1437647124-AP_173328494831.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264147/original/086220300_1782096373-063_2282523599.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/916085/original/009668100_1435788780-Cover.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261449/original/024360400_1781704034-000_B7CB6XN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8530300/original/023508000_1782462492-AP26175847717345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4698152/original/019329400_1703568085-1faffedd-4c3d-484a-96ff-b0bdf98ba24f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5765749/original/083366900_1778668872-Hantavirus__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/thumbnails/6331817/original/029356600_1779206703-pg19-hantavirus-a83374.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6307504/original/033003200_1779181803-Dinkes_Karawang.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5757035/original/061208800_1778659333-hantavirus.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5417253/original/039411000_1763526054-tikus__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5288790/original/071396100_1752992572-ChatGPT_Image_20_Jul_2025__13.22.26.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6216892/original/067994200_1779094277-1.jpg)