Hari Hipertensi Sedunia, Tren Kasus Tekanan Darah Tinggi Terus Naik Sejak 2009

Memperingati Hari Hipertensi Sedunia 2026, Direktur P2PTM Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi ingatkan pentingnya tensi darah rutin.

Diterbitkan 17 Mei 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hari Hipertensi Sedunia jatuh pada Minggu, 17 Mei 2026. Pada tahun mengusung tema Controlling Hypertension Together.

“Kalau kita lihat dari data The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), dari 2009 hipertensi selalu menduduki urutan pertama sampai 2023,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi dalam temu media bersama Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dan Beurer di Jakarta, Minggu (17/5/2026).

Artinya, sejak 2009 hingga 2023, kasus hipertensi terus mengalami kenaikan yakni dari 18 persen menjadi 30 persen. Di Indonesia, Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan bahwa kasus hipertensi mencapai 31 persen.

“Artinya, 30 persen itu sekitar 50-60 juta orang Indonesia menderita hipertensi. Dan kalau kita lihat, bertambahnya jumlah hipertensi diiringi dengan peningkatan kasus jantung, stroke, dan gagal ginjal,” jelas Nadia.

Penambahan angka komplikasi ini menjadi pemicu naiknya beban biaya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Maka dari itu, sebagai upaya pencegahan, maka pada 10 Februari 2025 pemerintah meluncurkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Kenapa CKG itu dikeluarkan? Karena kita tahu bahwa permasalahan hipertensi dan diabetes di Indonesia terus meningkat kasusnya. Hipertensi itu enggak ada gejalanya tiba-tiba tensinya naik,” ujarnya.

CKG Tunjukkan 15 Juta Orang Hipertensi

CKG pada 2025 sudah dilakukan pada 70 juta orang. Dari 70 juta itu, sambung Nadia, 15 juta di antaranya mengidap hipertensi.

“Dan kita mendapatkan sedikit angka yang masih kami coba verifikasi lagi, ada peningkatan tekanan darah pada anak usia SMA (Sekolah Menengah Atas).”

Menurut Nadia, temuan ini tengah dievaluasi dan dicari tahu apa penyebabnya. Pasalnya, naiknya tensi bisa terjadi hanya saat bertemu perawat atau dokter yang memeriksa, sementara dalam kondisi lain tekanan darahnya normal.

“Ini yang sedang kami validasi mengenai angkanya, apakah betul memang terjadi peningkatan tekanan darah pada usia anak SMA atau ada faktor-faktor lain,” jelas Nadia.

Sementara, kasus hipertensi di Indonesia secara umum angkanya merata di berbagai daerah. Hanya saja, angka komplikasinya seperti jantung, stroke, dan ginjal cenderung berbeda di setiap provinsi.

Maka dari itu, di Hari Hipertensi Sedunia ini Nadia mengajak masyarakat untuk rajin memeriksa tensi darah agar kondisinya dapat diketahui dan ditangani sejak awal.