Liputan6.com, Jakarta - Siapa sangka, di balik kemampuan manusia yang bisa langsung mengenali aroma kopi, mencium bau asap sebagai tanda bahaya, hingga mengingat kenangan lama hanya karena aroma tertentu, para ilmuwan ternyata masih belum sepenuhnya memahami bagaimana hidung bekerja mengenali bau.
Kini, misteri tersebut mulai menemukan titik terang setelah peneliti dari Harvard Medical School berhasil menemukan pola tersembunyi di dalam hidung yang selama ini tidak pernah disadari.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Cell Press itu menunjukkan bahwa reseptor penciuman di hidung ternyata tidak tersusun secara acak seperti yang selama ini diyakini. "Penciuman adalah sesuatu yang sangat misterius," kata profesor neurobiologi di Blavatnik Institute, Harvard Medical School, Sandeep Robert Datta.
Advertisement
Menurut Datta, dibandingkan penglihatan, pendengaran, atau sentuhan, pemahaman ilmuwan tentang indra penciuman masih tertinggal jauh.
Hidung Ternyata Punya 'Peta Rahasia'
Dalam penelitian tersebut, Datta dan timnya mempelajari jutaan neuron penciuman pada tikus. Mereka mencoba melihat bagaimana reseptor bau tersusun di dalam hidung.
Hasilnya cukup mengejutkan. Neuron-neuron penciuman ternyata membentuk pola yang sangat rapi berupa garis-garis horizontal dari bagian atas hingga bawah hidung. Pola ini tersusun berdasarkan jenis reseptor bau yang dimiliki setiap neuron.
Selama puluhan tahun, banyak ilmuwan mengira reseptor penciuman tersebar secara acak. Namun, penelitian baru ini membuktikan sebaliknya.
“Hasil penelitian kami membawa keteraturan pada sistem yang sebelumnya dianggap tidak memiliki pola. Ini mengubah cara kita memahami cara kerja indra penciuman," ujar Datta dikutip dari sciencedaily pada Kamis, 21 Mei 2026.
Temuan ini juga memperlihatkan bahwa pola di hidung ternyata terhubung langsung dengan pola pemrosesan bau di otak. Artinya, sejak pertama kali aroma masuk ke hidung, otak sebenarnya sudah menerima 'peta' informasi bau yang tersusun rapi.
Â
Mengapa Penelitian Ini Penting?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5358242/original/046170500_1758601347-94ff1791-bde2-4426-aaa1-39698fd5e724.jpg)
Indra penciuman bukan hanya soal menikmati aroma makanan atau parfum. Kemampuan mencium bau punya peran besar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk untuk keselamatan dan kesehatan mental.
Manusia menggunakan penciuman untuk mendeteksi asap kebakaran, makanan basi, hingga kebocoran gas. Aroma tertentu juga bisa memicu memori dan emosi yang sangat kuat.
Tak heran jika kehilangan penciuman dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang. Kondisi ini bahkan sering dialami pasien setelah infeksi virus tertentu.
"Kita tidak bisa memperbaiki indra penciuman tanpa memahami terlebih dahulu bagaimana sistem ini bekerja secara mendasar," kata Datta.
Oleh sebab itu, penemuan mengenai 'peta penciuman' di hidung dinilai bisa menjadi langkah penting dalam pengembangan terapi baru untuk gangguan penciuman.
Â
Advertisement
Bisa Jadi Harapan Baru Dunia Medis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5164862/original/028456900_1742183309-35593544ed96dc84959f451186758047.jpg)
Untuk mendapatkan hasil tersebut, tim peneliti menganalisis sekitar 5,5 juta neuron dari lebih dari 300 tikus.
Mereka menggunakan teknologi single-cell sequencing guna mengetahui reseptor yang dimiliki setiap neuron, lalu memadukannya dengan spatial transcriptomics yang mampu menunjukkan posisi neuron secara detail di dalam hidung.
"Ini mungkin menjadi jaringan saraf yang paling banyak dipetakan sejauh ini, tetapi kami memang membutuhkan data sebesar itu untuk memahami sistem ini," ujar Datta.
Penelitian juga menemukan bahwa molekul bernama asam retinoat berperan penting dalam membentuk pola reseptor penciuman tersebut.
Molekul ini membantu mengatur posisi neuron sehingga setiap bagian hidung memiliki susunan reseptor bau yang berbeda dan sangat presisi.
Peneliti kini sedang mencari tahu apakah pola serupa juga dimiliki manusia. Jika terbukti sama, temuan ini dapat membuka peluang besar bagi dunia medis.
Ke depan, pemahaman tentang cara kerja indra penciuman berpotensi membantu pengembangan terapi sel punca hingga teknologi brain-computer interface untuk memulihkan kemampuan mencium bau.
"Indra penciuman memiliki dampak yang sangat besar terhadap kesehatan manusia. Memulihkannya bukan hanya penting untuk keselamatan, tetapi juga kesehatan psikologis," pungkas Datta.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3835760/original/050425800_1640739830-IMG-20211228-WA0174.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5344257/original/055252700_1757482470-WhatsApp_Image_2025-09-10_at_11.23.02.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287484/original/056615100_1783229292-bansos_pkh_bpnt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287416/original/074940600_1783225116-cek_fakta_sandiaga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5205953/original/082000500_1746152557-401f63c7-722a-4d89-ad58-a38fbe853e6a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257144/original/052940400_1781226984-javier-aguirre.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258343/original/056341300_1781336647-063_2281311201.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261470/original/080593900_1781707583-haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287245/original/018106300_1783200103-ma8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287948/original/075704800_1783254081-AP26185782516118.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287278/original/006462200_1783206952-pra7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5245839/original/084355000_1749414399-lamine_yamal_bernardo_silva_portugal_spanyol_UNL_090625_ap_michael_probst.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264240/original/068596200_1782101163-tunisia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7090261/original/013225800_1779871665-Ria_Ricis_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4873827/original/018128300_1719282403-IMG-20240625-WA0063.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3514988/original/096801200_1626684374-gembok.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5473116/original/045115000_1768387441-WhatsApp_Image_2026-01-14_at_17.34.11__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5275349/original/098248000_1751875135-e788cf8e-a1ab-495b-862a-4d13aa2a65d4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6411192/original/003337900_1779283105-AHYEON_BABYMONSTER__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6425532/original/036767700_1779294706-WhatsApp_Image_2026-05-20_at_3.47.13_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515582/original/003394200_1772181056-obat_bahan_alam_ilegal.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5244561/original/042428800_1749194595-f340ce6b-659b-44f4-8173-c5158b20b87d.jpg)