Obat GLP-1 Apa Saja? Ini Jenis yang Ramai Dipakai untuk Diet

Cek di sini daftar obat GLP-1 yang banyak dipakai untuk diet menurunkan berat badan.

Diterbitkan 21 Mei 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Obat GLP-1 semakin populer karena disebut efektif membantu menurunkan berat badan. Beberapa jenisnya bahkan ramai dipakai untuk terapi obesitas dan diabetes tipe 2. Nama-nama seperti Ozempic, Wegovy, Mounjaro, dan Saxenda kini sering jadi perbincangan di masyarakat hingga dunia kesehatan.

GLP-1 atau glucagon-like peptide-1 adalah hormon alami tubuh yang berfungsi mengatur gula darah dan rasa kenyang. Obat GLP-1 bekerja dengan meniru hormon tersebut sehingga nafsu makan menurun dan seseorang merasa kenyang lebih lama.

Profesor John Wilding dari University of Liverpool, mengatakan, obat GLP-1 memang terbukti membantu penurunan berat badan sekaligus menurunkan risiko sejumlah penyakit.

"Penurunan berat badan yang lebih besar berkaitan dengan risiko penyakit yang lebih rendah," kata Wilding dalam presentasi di European Congress on Obesity 2026 seperti dikutip dari sciencedaily pada Kamis, 21 Mei 2026.

Obat GLP-1 apa saja? Ozempic menjadi salah satu obat GLP-1 paling dikenal. Obat ini mengandung semaglutide dan awalnya digunakan untuk pasien diabetes tipe 2, tapi kini juga banyak dipakai dalam terapi obesitas.

Selain Ozempic, ada Wegovy yang juga mengandung semaglutide. Bedanya, Wegovy memang diformulasikan khusus untuk membantu penurunan berat badan.

Saxenda mengandung liraglutide dan bekerja dengan membantu mengurangi rasa lapar sehingga pengguna makan lebih sedikit.

Sementara itu, Mounjaro dengan kandungan tirzepatide disebut memiliki efek penurunan berat badan yang cukup besar pada sebagian pasien obesitas dan diabetes.

 

Studi Ungkap Dampak Penurunan Berat Badan

Penelitian terbaru yang dipresentasikan di ECO 2026 menganalisis hampir 90 ribu pasien pengguna obat GLP-1 di Amerika Serikat.

Peneliti menemukan bahwa pasien yang berhasil menurunkan indeks massa tubuh (BMI) hingga minimal 15 persen memiliki risiko penyakit yang lebih rendah dibandingkan mereka yang hanya mengalami sedikit penurunan berat badan.

Risiko osteoartritis dilaporkan turun 37 persen, penyakit ginjal kronis turun 30 persen, dan obstructive sleep apnea turun hingga 69 persen pada pasien dengan penurunan BMI signifikan.

Sebaliknya, pasien yang berat badannya justru naik setelah menggunakan obat GLP-1 memiliki risiko kesehatan yang lebih buruk, termasuk peningkatan risiko gagal jantung.

"Tidak kehilangan berat badan berkaitan dengan hasil klinis yang lebih buruk, sementara penurunan berat badan yang lebih besar dikaitkan dengan penurunan risiko berbagai penyakit," ujar tim peneliti.

Obat GLP-1 Tidak Bisa Digunakan Sembarangan

Meski populer untuk diet, obat GLP-1 tidak boleh digunakan sembarangan tanpa pengawasan dokter. Penggunaan obat ini harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing pasien karena dapat menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, gangguan pencernaan, hingga penurunan nafsu makan berlebihan.

Selain itu, hasil penurunan berat badan juga tidak bisa hanya mengandalkan obat. Pola makan sehat, olahraga rutin, dan perubahan gaya hidup tetap menjadi bagian penting dalam terapi obesitas.

Para ahli juga mengingatkan bahwa tidak semua orang cocok menggunakan obat GLP-1. Oleh sebab itu, konsultasi medis tetap diperlukan sebelum memulai terapi agar manfaat yang didapat lebih optimal dan risiko efek samping bisa diminimalkan.