Kanker Payudara Bisa Datang di Usia 20-an, Dokter Ingatkan Ini

Kanker payudara bisa menyerang usia 20-an dan dampaknya tak hanya fisik.

Diterbitkan 21 Mei 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kanker payudara bukan penyakit yang hanya diidap orang yang sudah berumur. Dokter ahli bedah payudara onkoplastik dan minimal invasif, Sabrina Ngaserin, mengatakan, kanker ini bisa terjadi pada usia berapapun tapa terkecuali.

"Pasien termuda saya adalah usia 21, di dunia ada kasus kanker payudara pada usia remaja, tapi itu tidak umum," ujar Sabrina kepada Kesehatan Liputan6.com dalam temu media di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.

Mengidap kanker payudara di usia 20-an bukanlah hal mudah. Sebab, di usia itu mereka masih dalam proses mencari pasangan hidup, menyelesaikan sekolah, atau memulai karier. Ini menjadi lebih menyedihkan ketika ekonomi keluarga tidak dalam kondisi baik.

"Ini bisa sangat berat bagi mereka, tapi saya juga merasa bahwa anak-anak muda zaman sekarang cenderung lebih memiliki kesadaran, mereka tahu bagaimana caranya riset, mencari informasi," ujar dokter yang bertugas di Mount Elizabeth Hospitals, Singapura.

"Saya juga merasa mereka cukup mampu mengadvokasi diri dan mungkin mereka lebih mampu memprioritaskan kesehatan mental. Jadi saya rasa, selama mereka terus maju dan mencari layanan kesehatan yang mereka butuhkan, maka mereka akan tertangani dengan baik," tambahnya.

Sabrina tak memungkiri bahwa kanker payudara memang bisa memengaruhi kesehatan mental karena ini adalah pertarungan panjang. Namun, para pasien perlu melihat sisi positifnya bahwa kanker payudara sangat bisa diobati.

Penyembuhan Kanker Payudara Tak Sebatas Masalah Fisik

Sabrina, menambahkan, kanker payudara tidak hanya memengaruhi payudara tapi juga kehidupan pengidapnya. Maka dari itu, penyembuhan tidak hanya terbatas pada penanganan fisik tapi juga emosional.

"Sebagai seorang dokter saya mengangkat kankernya, tapi sebagai komunitas kita perlu bantu juga pemulihan pasien (secara psikis). Secara fisik, mungkin kankernya remisi, tapi itu belum benar-benar usai, karena ada luka emosional dan luka lainnya," katanya.

Jadi, sambungnya, ini bukan sekadar soal citra tubuh tapi intimasi dan rasa percaya diri dalam membangun hubungan percintaan.

"Saya kira pesannya adalah, penyembuhan emosional sama pentingnya dengan penyembuhan fisik. Makanya kita butuh layanan holistik dan grup pendukung," pungkasnya.