Tren Skincare di Kalangan Anak Muda Ini Ternyata Bisa Berdampak ke Kulit

Dokter ungkap kebiasaan skincare yang sering dilakukan anak muda dan ternyata bisa merusak skin barrier kulit.

Diterbitkan 26 Mei 2026, 14:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tren skincare di kalangan anak muda makin meningkat. Namun, di balik tren tersebut, dokter mengingatkan adanya risiko kulit sensitif akibat penggunaan skincare yang berlebihan.

Dermfluencer sekaligus Founder Dermis Clinic, dr. Hafiza Fathan, Sp.DVE, FINSDV mengatakan bahwa salah satu masalah yang kini banyak ditemukan adalah kondisi kulit sensitif akibat penggunaan skincare berlebihan atau overtreatment.

Menurut Hafiza, lingkungan yang semakin buruk memang turut memengaruhi kesehatan kulit. Paparan polusi hingga sinar ultraviolet (UV) yang tinggi membuat kulit lebih rentan mengalami gangguan.

"Kita itu berada dalam era yang dalam lingkungan sendiri memang tidak baik-baik saja. Polusi bertambah, UV juga exposure, apalagi kita ada di negara ekuator," kata Hafiza kepada Kesehatan Liputan6.com di sela-sela acara ISISPHARMA Dermfluencer Movement belum lama ini.

Namun, Hafiza menilai faktor lingkungan bukan satu-satunya penyebab utama. Justru, tren penggunaan skincare yang terlalu agresif kini menjadi persoalan yang lebih sering ditemukan.

"Sebenarnya yang sekarang itu kenyataannya lebih banyak dari overtreatment. Jadi, aggressive treatment," tambahnya.

Dia menyoroti kebiasaan layering skincare yang banyak dilakukan anak muda setelah melihat tren di media sosial. Banyak orang menggunakan berbagai produk aktif secara bersamaan tanpa memahami kondisi kulit mereka sendiri.

Mulai dari penggunaan exfoliating product berlapis, serum dengan kandungan aktif tinggi, hingga kombinasi skincare yang tidak tepat, semuanya berpotensi merusak skin barrier apabila digunakan secara berlebihan.

"Kalau kita lihat di media sosial, kebiasaan layering skincare A, B, C. Sudah pakai exfoliate A, tambah lagi exfoliate B, tambah lagi serum. Ini yang sebenarnya karena informasi yang didapat setengah-setengah, salah, dan tidak akurat," ujarnya.

 

Bahaya bagi Kulit

Lebih lanjut Hafiza, mengatakan, kebiasaan tersebut tanpa disadari menjadi perilaku self-harming bagi kulit. Akibatnya, kulit menjadi lebih sensitif, mudah iritasi, kemerahan, hingga mengalami breakout.

Tak hanya itu, maraknya akses terhadap berbagai treatment kecantikan juga membuat masyarakat semakin mudah mencoba prosedur tertentu tanpa edukasi yang tepat.

"Nah, jadi expose terhadap faktor-faktor seperti ini yang sebenarnya membuat kulit kita tambah sensitif, tambah jauh dari apa yang harusnya diberikan dengan benar," ujarnya.

Hafiza mengatakan kondisi kulit sensitif saat ini paling banyak ditemukan pada orang yang memaksakan penggunaan produk tertentu hanya karena sedang tren.

Misalnya, penggunaan skincare dengan kandungan AHA-BHA, exfoliating acid, hingga polinucleotide atau yang populer disebut DNA salmon. Padahal, belum tentu semua kandungan tersebut cocok untuk setiap jenis kulit.

"Pasien itu yang tadinya mungkin harusnya menggunakan sensitive line atau basic line, tapi maksa pakai yang exfoliating karena lagi tren," kata Hafiza.

Oleh sebab itu, dia mengingatkan pentingnya memahami kebutuhan kulit sebelum mengikuti tren skincare yang viral di media sosial.

Penggunaan produk skincare sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing, bukan sekadar ikut tren.

Alih-alih mencoba terlalu banyak produk sekaligus, menjaga skin barrier dengan basic skincare yang sederhana dinilai jauh lebih aman untuk kesehatan kulit dalam jangka panjang.