Liputan6.com, Jakarta - Jumlah perokok aktif di Indonesia kini telah menembus angka 70 juta orang, di mana 7,4 persen di antaranya berumur 10 s.d 18 tahun.
Ancaman ini kian nyata bagi anak-anak yang hidup bersama orang tua perokok. Mereka dapat menjadi perokok pasif dan perokok ketiga akibat menghirup residu racun rokok yang menempel di pakaian, kulit, hingga perabotan rumah.
Pajanan rokok bisa memicu pneumonia atau peradangan paru. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pneumonia memicu 740.000 kematian pada anak di bawah usia 5 tahun secara global setiap tahunnya.
Advertisement
Anak-anak yang berada di lingkungan orang tua perokok memiliki kerentanan jauh lebih tinggi untuk terkena pneumonia akibat asap rokok.
Krisis ini turut diperparah oleh lonjakan penggunaan rokok elektrik (vape) di kalangan remaja yang meningkat pesat hingga 10 kali lipat, dari 0,3 persen menjadi 3 persen.
Guna menekan angka perokok, Kemenkes memanfaatkan momen Hari Tanpa Tembakau Sedunia untuk meluncurkan kampanye #SehatTanpaRokok.
Kampanye ini merupakan buah kolaborasi Kemenkes dengan Kenvue, Guardian Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
"Akselerasi penurunan prevalensi perokok di Indonesia merupakan agenda krusial yang membutuhkan komitmen kolektif dari seluruh sektor. Tantangan kesehatan dan beban ekonomi akibat ketergantungan tembakau ini terlalu besar untuk dihadapi oleh pemerintah sendiri," kata Wakil Menteri Kesehatan, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, dalam peluncuran kampanye di Jakarta pada Rabu, 3 Juni 2026.
"Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi sinergi strategis dalam kampanye #SehatTanpaRokok ini. Dengan mengintegrasikan edukasi publik yang masif, penguatan kapasitas tenaga medis di puskesmas, serta penyediaan akses solusi Terapi Pengganti Nikotin (NRT) yang aman dan berstandar medis," tambahnya.
Dia mengajak semua pihak untuk bersama-sama membangun ekosistem pendukung yang kuat untuk membantu masyarakat terlepas dari jerat adiksi rokok demi masa depan Indonesia yang lebih sehat.
Â
Standarisasi Penanganan Adiksi
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/7690741/original/005170700_1780488225-bpom.jpeg)
Dari sisi pengawasan keamanan produk, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, William Adi Teja, menyoroti pentingnya standardisasi dalam penanganan adiksi.
"Perlindungan konsumen adalah prioritas mutlak. Dalam konteks pengendalian zat adiktif, kehadiran produk terapi yang berstandar medis dan memiliki izin edar resmi dari BPOM memberikan kepastian keamanan bagi masyarakat yang ingin melepaskan diri dari ketergantungan," kata William.
"Kami berkomitmen untuk terus mengawal edukasi masyarakat agar menggunakan produk terapi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah," tambahnya.
Â
Advertisement
Butuh Intervensi Klinis Terukur
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/7678653/original/091673200_1780474050-agus_dwi.jpeg)
Dalam kesempatan yang sama, Penasihat Pengurus Pusat PDPI, Agus Dwi Susanto menyampaikan bahwa penanganan ketergantungan nikotin membutuhkan intervensi klinis yang terukur.
"Dampak medis dari rokok konvensional maupun rokok elektrik sangat fatal, menjadi penyumbang utama angka Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan kanker paru. Hambatan terbesar pasien untuk berhenti merokok adalah gejala putus nikotin (withdrawal),"Â ujar Agus.
"Solusi berbasis bukti seperti Terapi Pengganti Nikotin (NRT) telah terbukti secara klinis meredakan gejala sakau dan melipatgandakan peluang keberhasilan berhenti merokok, terutama bila dipadukan dengan konseling perilaku dari tenaga medis," tambahnya.
Â
Perlu Pendampingan yang Tepat
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/7690742/original/012576600_1780488225-fika.jpeg)
Sadar akan pentingnya intervensi klinis yang terukur untuk membantu berhenti merokok, Marketing Director Kenvue Indonesia, Fika Yolanda, mengatakan, setiap individu yang memiliki niat untuk berhenti merokok perlu mendapatkan pendampingan yang tepat.
Ditambah pula dengan akses terhadap solusi medis yang terbukti secara ilmiah. "Rangkaian program kampanye kami tidak sekadar pemberian pelatihan medis, melainkan mencakup edukasi komprehensif bagi tenaga kesehatan dan masyarakat luas, serta penayangan Iklan Layanan Masyarakat (PSA) bersama Kemenkes dan PDPI," ujar Fika.
Sebanyak 150 tenaga kesehatan profesional, termasuk konselor Klinik Upaya Berhenti Merokok (UBM) dan apoteker, diberi pelatihan.
Materinya mencakup kebijakan pedoman UBM di Indonesia, aspek medis dampak rokok, pendekatan kombinasi farmakoterapi dan non-farmakoterapi, hingga teknik wawancara motivasional yang empatik dalam menangani pasien dengan adiksi nikotin.
Â
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/7690743/original/019934100_1780488225-guardian.jpeg)
Commercial Director Guardian Indonesia, Karlina Elisabet Wirian, menambahkan, pihaknya mendukung penerapan gaya hidup sehat melalui akses terhadap edukasi dan pendampingan kesehatan yang tepercaya.
Ratusan apoteker dan tenaga vokasi farmasi Guardian siap memberikan edukasi mengenai UBM. "Kami meyakini bahwa akses terhadap informasi yang akurat serta pendampingan yang tepat dapat membantu masyarakat lebih percaya diri dalam memulai perjalanan berhenti merokok," ujarnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301033/original/004849700_1784434276-blt_umkm_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298964/original/044978900_1784188695-Screenshot_2026-07-15_123742bbbb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299928/original/085453400_1784279402-cek_fakta_dana_hibah_prabowo_-_purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6454660/original/051756600_1779318782-1001276959.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/7690740/original/097610000_1780488224-sehat_tanpa_rokok.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301703/original/072952300_1784513338-AP26200795262872.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301623/original/095037200_1784505166-ar6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301645/original/011342100_1784508477-WhatsApp_Image_2026-07-20_at_06.14.43__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301615/original/050018500_1784504753-enzo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301648/original/090533900_1784509911-000_C2LJ4BG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301590/original/096790100_1784498446-063_2286805977.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301595/original/065930700_1784499809-000_C2LD9FF.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301642/original/073800100_1784506920-trump.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301606/original/080786700_1784502167-063_2286810313.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301593/original/066412700_1784499333-000_C2LD8RK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2906516/original/032562800_1568089909-trust-tru-katsande-HQM5jm12etE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5130439/original/091465400_1739343321-54318718348_fb712dec5a_c__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5285910/original/095796100_1752731667-16631cc1-b2ee-4f96-8d2f-d092078a7837.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293102/original/056382500_1783672625-WhatsApp_Image_2026-07-10_at_11.26.27_AM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292808/original/040556000_1783659740-WhatsApp_Image_2026-07-10_at_11.27.39_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292648/original/034116000_1783640945-menkes.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292354/original/015453200_1783592029-Wakil_Menteri_Kesehatan__Benjamin_Paulus_Octavianus.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4717452/original/082127600_1705391333-fotor-ai-20240116142046.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5474665/original/008475600_1768528677-Azhar.jpeg)