Kasus ISPA Capai 400 Ribu per Minggu, Kebakaran Hutan Ikut Dorong Kenaikan

Selain musim kemarau, Kemenkes sebut kebakaran hutan jadi faktor yang mendorong kenaikan kasus ISPA.

Diterbitkan 21 Agustus 2026, 14:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menunjukkan tren peningkatan memasuki awal musim kemarau tepatnya pada minggu ke 27-31 tahun 2026. Bahkan kasus sempat mencapai 400 ribu per minggu.

Peningkatan kasus tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan minggu yang sama pada 2025. 

"Kalau lihat trennya, salah satu faktor utama karena masuk musim kemarau," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman di Jakarta, Jumat (21/8/2026). 

Aji menambahkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga turut memberikan dampak terhadap peningkatan kasus ISPA pada tahun ini.

"Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) juga memberi dampak," kata Aji dalam pesan tertulis. 

 

Aji menyebutkan, periode kemarau menjadi periode kewaspadaan karhutla. Aktivitas kebakaran hutan mulai meningkat sekitar bulan Juli dan mencapai puncak pada Agustus-September bila merujuk penelitian dan publikasi ilmiah. 

Jika cakupan vaksin influenza dan COVID-19 rendah, risiko infeksi meningkat terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. 

90 Nakes Dikerahkan ke Berbagai Wilayah Terdampak Kebakaran Hutan

Dalam kesempatan itu, dia juga menyebutkan bahwa per 17 Agustus 2026, sebanyak 90 tenaga kesehatan dan berbagai bantuan logistik kesehatan dikerahkan merespons gangguan kesehatan akibat karhutla di sejumlah wilayah tanah air.   

Tenaga kesehatan tersebut terdiri dari antara lain dokter, perawat, apoteker, bidan, ahli gizi, pengemudi ambulans, sanitarian, epidemiolog. 

Dia menyebutkan, para tenaga kesehatan dikirimkan ke wilayah terdampak karhutla, yakni 40 ke Kalimantan Selatan, empat ke Riau, 27 ke Kalimantan Tengah, sembilan ke Kalimantan Barat, lima ke Jambi, dan lima ke Kalimantan Timur.   

Kemudian, bantuan logistik untuk daerah-daerah tersebut mencakup 267.630 masker, 54 unit OC, 1.000 pasang handscoon, 36 tabung Oxycan, 33 dus PMT, 40 faceshield, dan delapan Alat Pelindung Diri (APD) mengutip Antara.

Pesan Kemenkes

Aji mengimbau masyarakat mengenali gejala dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat jika mengalami keluhan gegara terpapar kabut asap kebakaran hutan. 

"Jangan menunda berobat bila mengalami batuk yang tidak membaik, sesak napas, demam tinggi, nyeri dada, atau keluhan lain yang mengganggu, terutama pada kelompok berisiko," tutur Aji.

Ia juga meminta kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta penderita asma, penyakit paru, atau penyakit jantung menghindari paparan asap.

Jika mengalami gangguan kesehatan, kelompok tersebut segera berkonsultasi dengan dokter atau mendatangi faskes terdekat.

Selain mengenali gejala dan menghindari paparan asap, Aji mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan selama musim kemarau dan saat terjadi karhutla.

Masyarakat dianjurkan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) setiap hari, termasuk mengonsumsi makanan bergizi, mencuci tangan menggunakan air dan sabun, mencukupi waktu istirahat, serta menghindari rokok untuk menjaga daya tahan tubuh.

Masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan ketika udara berasap atau berdebu.

"Jika harus keluar rumah, gunakan masker yang menutupi hidung dan mulut dengan baik," pesan Aji. 

Kemenkes turut mengingatkan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan ketersediaan air bersih selama musim kemarau. Air minum dan makanan juga perlu dipastikan tetap bersih.

Selain itu, masyarakat diminta menerapkan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus agar tempat penampungan air tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk selama musim kemarau.

Â