Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, Irsan Hasan, menjelaskan soal perjalanan penyakit hati kronik yang kerap tak tunjukkan gejala awal. Perjalanan dimulai dengan hati terinfeksi virus hepatitis B, hepatitis C, fatty liver (perlemakan hati), alkohol dan lain-lain.
Infeksi dapat timbul akibat penularan virus lewat seks bebas maupun jarum suntik tidak steril. Sementara perlemakan dapat dipicu gaya hidup tidak sehat, misalnya kebiasaan mengonsumsi makanan berlemak atau minum alkohol berlebihan.
Berbagai pemicu ini dapat menimbulkan peradangan dan kerusakan hati hingga membentuk jaringan parut pada hati atau disebut sebagai fibrosis.
Advertisement
"Penyakit hati kronik ini bisa membaik jika ditangani di tahap fibrosis. Kalau sudah sirosis, tidak akan balik ke normal," kata Irsan dalam dialog di Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Jakarta pada Selasa, 2 Juni 2026.
Sirosis hati adalah kondisi serius ketika jaringan parut mulai mengganggu fungsi hati akibat kerusakan jangka panjang. Kondisi sirosis masih memungkinkan untuk dikembalikan pada tahap fibrosis lanjut, tapi tidak dapat kembali pada kondisi normal.
"Oleh karena itu, kalau mau mengatasi penyakit liver ini, harusnya dilakukan pada tahap fibrosis, jangan pada tahap sirosis apalagi kanker," kata Irsan.
Setelah memasuki tahap sirosis, hati yang seharusnya memiliki permukaan mulus berwarna merah kecoklatan akan berubah menjadi coklat gelap, permukaan berbenjol, keras, dan mengecil.
"Uniknya, meski sirosis mengubah hati sehebat ini, tapi keluhan tidak terasa, tidak ada nyeri karena di liver itu tidak ada sarafnya sehingga sinyal nyeri itu tidak muncul," ujar Irsan.
Memasuki Tahap Kanker Hati
Nihilnya gejala bahkan saat hati mengalami sirosis menjadi alasan mengapa banyak orang tak sadar dengan masalah hati yang dialami. Tak jarang, pasien datang ketika kondisi sirosis sudah masuk ke tahap kanker.
"Apa itu kanker? Kanker adalah lanjutan dari sirosis meski kanker juga bisa ditemukan sebelum terjadinya sirosis. Jadi, pada kanker itu terjadi pertumbuhan benjolan yang makin lama makin menguasai liver, mungkin bisa seluruh liver diisi oleh kanker," kata Irsan.
Dia, menambahkan, sirosis hati adalah salah satu dari delapan penyakit katastropik yang paling banyak menghabiskan biaya kesehatan. Penyakit-penyakit ini meliputi jantung, stroke, hemofilia, leukemia, kanker, gagal ginjal, talasemia, dan terakhir sirosis.
Pada 2024, penyakit-penyakit ini menghabiskan Rp 37 triliun atau 21, 32 persen dari total biaya pelayanan kesehatan dan meningkat 7,3 persen dari tahun 2023.
Advertisement
Skrining Hati Jadi Hal Penting
Maka dari itu, guna mencegah penyakit hati sampai pada tahap sirosis dan kanker, maka skrining atau penapisan menjadi hal penting.
Sayangnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa skrining hepatitis di Indonesia masih sangat rendah, yakni sekitar 10 persen.
"Deteksi dini, targetnya WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) seharusnya itu 90 persen hepatitis itu di-skrin, ditemukan. Indonesia nggak tahu, mungkin 10 persenan. Dunia juga masih sangat rendah, rendah sekali. Dan, dari 90 persen itu, 80 persen ditata laksana," kata Budi dalam kesempatan yang sama.
Budi pun mengungkap kendala di balik rendahnya angka skrining hepatitis di Indonesia. Menurutnya, hal ini terjadi lantaran rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini.
"Karena memang orang belum menganggap skrining itu penting. Targetnya WHO itu 90 persen harus diskrining. Dan ada CKG (Cek Kesehatan Gratis), tolong sosialisasikan skrining itu bagus buat diri kita sendiri, loh. Jadi kalau ketahuan sakit, kemungkinan sembuhnya lebih besar. Jangan nunggu sampai udah parah," kata Budi kepada Kesehatan Liputan6.com.
Skrining hepatitis dapat dilakukan dengan cek darah di laboratorium untuk mendeteksi virus hepatitis, tingkat kerusakan hati, dan fungsi hati secara umum.
Sedangkan penyakit hati lainnya, seperti perlemakan hati, bisa dicegah dengan menjaga berat badan ideal. Cek lingkar perut dan menjaga pola makan dapat mengurangi risiko obesitas yang bisa berujung pada perlemakan hati.
"Memang obesitas itu faktor risiko yang besar untuk ginjal, jantung, dan hati," ujarnya.
Prevalensi Sakit Hati
Sebelumnya, Budi menyampaikan bahwa sakit hati bukan hanya istilah yang menggambarkan kesedihan, tapi juga secara harfiah merujuk pada penyakit pada organ hati.
"Sakit hati itu bukan hanya karena kita sedih ya ternyata, tapi ada sakit hati yang benar-benar sakit hati. Saya juga kaget bahwa ternyata sakit hati ini di dunia prevalensinya tuh lebih tinggi dari HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan TBC (tuberkulosis), ada 300 juta," katanya.
Sementara itu, kasus meninggal akibat penyakit hati di dunia juga lebih tinggi dari tuberkulosis (TBC), yakni dua juta per tahun atau empat orang per menit.
"Di Indonesia, sakit hati ini disebabkan virus yaitu hepatitis B dan C, juga karena metabolisme tubuh yang tidak baik, biasanya karena obesitas, gula, dan alkohol. Di Indonesia ada 70 juta yang kena penyakit hati kronis," pungkasnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5523300/original/073953200_1772800710-IMG_0778.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8228972/original/000657200_1781089339-cek_fakta_-_bantuan_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2141080/original/044539900_1525361942-spbu_pertamina_palembang.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324106/original/075794500_1786690114-cek_fakta_-_alat_pertanian_tanam_padi_hingga_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7915429/original/091850100_1780746825-liver.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4767411/original/076205400_1709972059-spencer-davis-vJsj-hgOEG0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3685550/original/020313900_1639453104-cdc-UC9_itYaafM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4021658/original/017367600_1652423840-046382600_1483456921-Rubrik_20Higienitas_20Keluarga_Minimalkan-Penyebaran-Sakit-Kuning-Akibat-Hepatitis-A.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318264/original/084657500_1786090333-Screenshot_2026-08-07_143239.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2232858/original/095593700_1527693492-q.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/698290/original/hepatitis_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5298631/original/075133100_1753767968-man-sits-bed-with-stomachache-presses-his-stomach-with-his-hands.jpg)