Rahasia Menikmati Odeng dan Ramen Instan Lebih Sehat

Tak banyak yang tahu, odeng dan ramen instan bisa lebih sehat dengan langkah sederhana.

Diterbitkan 16 Juli 2026, 12:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang memilih makanan yang praktis, menghangatkan, dan mengenyangkan. Odeng serta ramen instan menjadi dua hidangan yang populer di berbagai negara. Meski identik dengan makanan praktis, keduanya memiliki sejarah panjang dan dapat diolah menjadi sajian rumahan yang lebih lezat sekaligus bergizi.

Odeng atau eomuk merupakan kue ikan khas Korea yang banyak dijual sebagai jajanan kaki lima, terutama saat musim dingin. Rasanya gurih, teksturnya kenyal, dan biasanya disajikan dalam kuah kaldu hangat yang juga kerap diminum sebagai pelengkap.

Sementara itu, ramen instan telah mengubah cara masyarakat menikmati makanan cepat saji. Harganya terjangkau, penyajiannya praktis, dan rasanya akrab di lidah sehingga menjadi pilihan banyak mahasiswa, pekerja, hingga siapa saja yang membutuhkan makanan dalam waktu singkat, dikutip dari Kanal Lifestyle Liputan6.com pada Kamis (16/7/2026)

Odeng berasal dari kata Jepang oden, tetapi di Korea dikenal sebagai eomuk. Sejarahnya dapat ditelusuri hingga Dinasti Qin pada abad ke-3 SM. Di Jepang, varian kamaboko mulai dikenal pada periode Heian, sedangkan catatan mengenai saengseon sukpyeon di Korea ditemukan pada tahun 1719.

Popularitas odeng di Korea meningkat pada masa pendudukan Jepang, terutama di Busan yang berkembang menjadi pusat produksi karena letaknya yang dekat dengan Jepang. Setelah Perang Korea, eomuk menjadi sumber protein yang terjangkau bagi masyarakat di tengah krisis pangan.

Odeng teruat dari apa? Odeng umumnya dibuat dari ikan putih giling, seperti pollock Alaska, cod, atau tilapia, yang dicampur tepung serta sayuran cincang, seperti wortel dan bawang bombay. Adonan kemudian dibentuk menjadi lembaran, bola, atau oval, lalu digoreng hingga matang.

Di Korea, odeng biasanya ditusuk seperti sate dan direbus dalam kaldu gurih. Meski sebagian masyarakat menganggap odeng kemasan kurang sehat, makanan ini tetap merupakan sumber protein yang baik karena berbahan dasar ikan. Bahkan, beberapa produsen di Busan menawarkan eomuk premium dengan kandungan daging ikan lebih dari 90 persen.

Di sisi lain, ramen instan merupakan inovasi kuliner yang diciptakan oleh Momofuku Ando di Jepang pada 1958 sebagai solusi atas krisis pangan pasca-Perang Dunia II. Mi yang telah dimasak sebelumnya cukup diseduh dengan air panas sebelum disantap.

Pada 1971, Ando memperkenalkan Cup Noodles yang membuat ramen instan semakin praktis. Kini, konsumsi ramen instan mencapai lebih dari 120 miliar porsi setiap tahun di seluruh dunia, dengan Korea Selatan menjadi negara dengan konsumsi per kapita tertinggi.

Meski praktis, ramen instan kerap dikritik karena kandungan gizinya. Produk ini umumnya rendah serat, protein, vitamin, dan mineral, seperti vitamin A, C, B12, kalsium, magnesium, serta kalium.

Masalah utama lainnya adalah kandungan natrium yang tinggi. Satu bungkus ramen instan dapat mengandung hingga 1.760 mg natrium atau sekitar 88 persen dari batas asupan harian WHO, yaitu 2 gram. Konsumsi natrium berlebihan dapat meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.

Sebuah penelitian terhadap 6.440 orang dewasa di Korea menunjukkan bahwa mereka yang sering mengonsumsi ramen instan memiliki asupan protein, fosfor, kalsium, zat besi, kalium, niasin, serta vitamin A dan C yang lebih rendah. Konsumsi berlebihan juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko sindrom metabolik, seperti penumpukan lemak di perut, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan gangguan kadar lemak darah.

Selain itu, mi instan yang sangat diproses lebih sulit dicerna, bahkan setelah dua jam. Ilmuwan nutrisi Janae Cox menjelaskan bahwa proses penggorengan cepat atau pengeringan dengan udara panas mengubah struktur pati pada mi sehingga indeks glikemiknya menjadi lebih tinggi, yakni sekitar 55–70, dibandingkan mi segar yang berada di kisaran 40–50. Kondisi ini membuat kadar gula darah meningkat lebih cepat sehingga pankreas harus bekerja lebih keras.

Meski demikian, odeng dan ramen instan tetap bisa diolah menjadi menu yang lebih sehat dengan penambahan bahan bergizi dan pengurangan penggunaan bumbu instan.

Untuk odeng, salah satu pilihan adalah membuat eomuk-guk atau sup odeng di rumah. Kaldu dapat dibuat dari dashi atau ikan teri kering dan rumput laut, lalu ditambahkan lobak Korea, kecap asin Korea, serta bawang putih. Setelah itu, masukkan odeng hingga mengembang dan sajikan dengan daun bawang serta irisan cabai segar.

Sementara untuk ramen instan, langkah pertama yang disarankan adalah mengurangi atau hanya menggunakan sebagian bumbu instan agar asupan natrium lebih rendah. Sebagai gantinya, gunakan kaldu ayam atau kaldu sayuran sebagai dasar kuah.

Lengkapi ramen dengan sumber protein, seperti telur, ayam, daging sapi, tahu, atau tempe agar lebih mengenyangkan sekaligus bernilai gizi lebih tinggi.

Tambahkan pula aneka sayuran, seperti daun bawang, bok choy, bayam, jamur shiitake, wortel, atau kimchi untuk meningkatkan asupan serat, vitamin, dan mineral. Sayuran hijau bisa direbus bersama mi, sedangkan sayuran lainnya dapat ditumis terlebih dahulu atau dijadikan pelengkap.

Agar cita rasa semakin kaya, gunakan miso sebagai pengganti sebagian bumbu instan atau tambahkan minyak cabai, kecap asin, minyak wijen, mentega, selembar keju, hingga sedikit selai kacang sesuai selera. Dengan modifikasi sederhana, ramen instan dan odeng tetap bisa menjadi hidangan yang praktis, lezat, sekaligus lebih seimbang dari sisi gizi.

Penulis: Vinsensia Dianawanti/Fimela