Stroke Butuh Penanganan Cepat, Pencitraan Otak Bantu Tentukan Langkah Medis

Stroke butuh penanganan cepat karena kondisi itu menyebabkan jaringan otak tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi.

Diterbitkan 22 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tangerang - Stroke merupakan kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Saat seseorang mengalami stroke, aliran darah ke otak terganggu, berkurang, atau mengalami penyumbatan. Kondisi ini menyebabkan jaringan otak tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi.

Dalam penanganan stroke, dokter perlu segera mengetahui kondisi yang terjadi di otak untuk menentukan langkah medis yang sesuai.

“Pada kasus stroke, ketepatan dan kecepatan diagnosis sangat penting,” tutur dokter spesialis radiologi Tio Ananda Steven dari Bethsaida Hospital Gading Serpong.

Tio mengatakan salah satu pemeriksaan yang berperan penting adalah pencitraan otak. Pemeriksaan seperti CT Scan dan MRI membantu dokter mengetahui jenis stroke, melihat area otak yang terdampak, serta menilai kondisi pasien sebelum terapi diberikan.

Jenis pemeriksaan pencitraan yang digunakan akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan medis pasien. MRI, misalnya, memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran jaringan otak secara lebih detail. Teknologi MRI 3 Tesla juga dapat menghasilkan resolusi gambar yang lebih tinggi sehingga membantu dokter melihat perubahan pada jaringan otak dengan lebih jelas.

“MRI 3 Tesla dapat memberikan gambaran otak yang lebih detail, sehingga membantu kami melihat area yang terdampak dengan lebih jelas. Dengan dukungan teknologi AI, kualitas pencitraan dapat semakin optimal untuk menunjang keputusan klinis dokter,” lanjut Tio.

Dokter Cek Kondisi Klinis Pasien Stroke

Hasil pencitraan bukan satu-satunya dasar dalam menentukan terapi stroke. Dokter juga perlu melihat kondisi klinis pasien secara menyeluruh. Salah satunya dokter akan menentukan stroke yang terjadi disebabkan oleh sumbatan pembuluh darah maupun perdarahan di otak. Masing-masing membutuhkan penanganan berbeda.

“Dalam kasus stroke, setiap pasien memiliki kondisi klinis yang berbeda. Ada pasien yang cukup ditangani dengan terapi medis dan observasi ketat, namun ada juga yang membutuhkan evaluasi bedah saraf, terutama bila terdapat perdarahan, pembengkakan otak, atau peningkatan tekanan di dalam kepala,” kata dokter spesialis bedah saraf Muhammad Ichsan Fachrudin Firdaus.

Penanganan stroke membutuhkan kolaborasi berbagai bidang medis. Hasil pemeriksaan pencitraan perlu dipadukan dengan pemeriksaan klinis dan penilaian dokter spesialis saraf untuk menentukan terapi yang paling sesuai dengan kondisi pasien.

“Penanganan stroke harus dilakukan secara komprehensif, cepat, dan tepat berdasarkan kondisi pasien serta hasil pemeriksaan penunjang,” lanjutnya.

Pola penanganan terintegrasi seperti ini diterapkan melalui Stroke Response Unit di Bethsaida Hospital Gading Serpong. Unit tersebut melibatkan tim medis terkait dalam penanganan pasien stroke akut, sehingga proses evaluasi dapat dilakukan secara terkoordinasi.