Sakit akibat Virus atau Paparan Asap Karhutla? Ini Perbedaan Gejalanya

Umumnya gejala akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) didominasi oleh mata perih, tenggorokan kering, batuk, hingga dada berat.

Diterbitkan 14 September 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam kesehatan masyarakat yang terpapar. Bahaya utama asap karhutla berasal dari kandungan Particulate Matter (PM) 2.5 yang dapat menembus hingga bagian terdalam paru-paru. Partikel mikro ini dapat memicu iritasi, peradangan, stres oksidatif, dan merusak pertahanan alami saluran pernapasan seperti disampaikan dokter spesialis paru konsultan Alfian Nur Rosyid.

“Jika paparan PM2.5 ini terjadi lama dan berulang, dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, memperberat kondisi penderita asma dan PPOK, serta meningkatkan risiko penyakit paru kronis,” terang Dosen Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini. 

Mengenai indikasi klinis, paparan asap karhutla memiliki gejala yang cukup khas dibandingkan ISPA akibat infeksi virus atau bakteri biasa. Serangan polutan asap umumnya didominasi oleh mata perih, tenggorokan kering, batuk, hingga dada terasa berat sesaat setelah terpapar.

“Sementara pada infeksi virus atau bakteri, gejala biasanya lebih sering ditandai dengan demam, pilek, nyeri tenggorokan, badan lemas, dan kadang dahak bertambah,” jelas Alfian mengutip keterangan resmi dari Unair, Senin (14/9/22026).

Namun, gejala itu tidak mudah dikenali awam. Maka jika memang terpapar asap dari kebakaran hutan yang menetap sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

“Keluhan akibat paparan asap dan infeksi memang bisa terlihat mirip. Namun, jika gejala sesak terasa berat atau menetap setelah terpapar asap, pemeriksaan medis tetap harus segera dilakukan,” tuturnya.

 

 

Upaya Minimalisasi Dampak Kabut Asap

Untuk meminimalkan gempuran PM2.5 akibat asap kebakaran hutan dan lahan, Alfian menekankan pentingnya penggunaan masker berstandar tinggi.

“Masker yang lebih efektif untuk menyaring partikel asap adalah N95, KN95, atau KF94 dengan syarat terpasang rapat di wajah. Masker bedah biasa perlindungannya terhadap PM2.5 lebih terbatas,” paparnya.

Ia juga meminta masyarakat di wilayah terdampak memantau kualitas udara, membatasi aktivitas fisik di luar, serta menghindari polusi indoor seperti rokok atau obat nyamuk bakar. Apabila seseorang telah terpapar asap, tindakan awal perlu segera diambil.

“Langkah pertolongan pertama, segera menjauh dari sumber asap ke tempat berudara lebih bersih. Istirahat, cukup minum, bersihkan wajah dan mata, serta kurangi aktivitas fisik,” jelasnya.

Di samping itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi obat sembarangan serta mewaspadai tanda bahaya klinis seperti sesak berat, bibir kebiruan, hingga penurunan kesadaran.

“Hindari langsung mengonsumsi antibiotik atau steroid tanpa pemeriksaan dokter, karena tidak semua keluhan akibat asap merupakan infeksi bakteri. Jika muncul tanda bahaya, segera ke fasilitas kesehatan,” pesan Alfian.