Burnout Tak Hilang dengan Tidur, Ini Bedanya dengan Lelah Biasa

Lelah biasa bisa hilang dengan beristirahat yang cukup. Namun, burnout tak bisa hilang dengan tidur karena ini kelelahan yang kompleks libatkan unsur emosional.

Diterbitkan 16 Mei 2026, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kelelahan fisik biasa dan burnout sering dianggap sama oleh orang awam. Padahal keduanya beda secara psikologis seperti disampaikan psikolog klinis Kasandra Putranto.

Saat seseorang mengalami kelelahan fisik biasa umumnya muncul karena aktivitas yang intens atau kurang tidur. Kondisi ini bersifat sementara dan dapat pulih dengan istirahat yang cukup, tanpa meninggalkan dampak emosional yang berarti.

“Seseorang yang hanya mengalami kelelahan fisik tetap memiliki motivasi, minat, dan kemampuan untuk kembali menjalankan aktivitas seperti biasa setelah tubuhnya pulih,” kata Kasandra mengutip Antara.

Sementara itu, burnout sebagai kondisi kelelahan yang lebih kompleks lantaran melibatkan aspek emosional dan mental secara mendalam. Ditandai dengan kelelahan emosional, munculnya sikap sinis terhadap pekerjaan, serta menurunnya rasa pencapaian diri.

"Ketika seseorang mulai merasa kehilangan semangat, mudah lelah secara emosional, dan tidak lagi menemukan makna dalam pekerjaannya, itu bukan sekadar capek biasa, melainkan sinyal awal burnout yang tidak boleh diabaikan,” kata dia.

Kasandra mengatakan kondisi ini tidak hilang hanya dengan tidur atau libur singkat. Akar permasalahannya adalah stres yang berkepanjangan dan tekanan yang terus menerus, seperti yang sering dialami pelaku sampingan hiruk pikuk dengan beban kerja yang berlapis-lapis.

 

Jika kelelahan fisik hanya membutuhkan istirahat, sedangkan burnout membutuhkan penanganan yang lebih serius, seperti pengaturan ulang beban kerja, menjaga batas antara pekerjaan dan waktu pribadi, serta memperhatikan kesehatan mental.

 

Kelelahan Fisik Tak Diatasi Bisa Jadi Gangguan Kecemasan

Akumulasi kelelahan fisik akibat menjalani dua pekerjaan membuat tubuh berada dalam kondisi stres berkepanjangan. Kasandra menjelaskan ketika waktu istirahat terus berkurang, sistem saraf tidak memiliki kesempatan untuk pulih, sehingga hormon stres seperti kortisol tinggi. Kondisi ini dalam jangka panjang dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan psikologis.

Paparan stres kronis dapat mengganggu keseimbangan biologis tubuh dan berdampak langsung pada fungsi otak yang mengatur emosi, sehingga individu menjadi lebih mudah cemas, tegang, dan sulit merasa aman secara psikologis.

Selain itu, kelelahan kronis juga meningkatkan kemampuan regulasi emosi dan menurunkan suasana hati secara konsisten. Kurang tidur dan beban kerja berlebih membuat individu lebih rentan mengalami pikiran negatif hingga kehilangan tenaga.

“Jika kondisi ini tidak diintervensi, kelelahan fisik yang awalnya tampak 'biasa' dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan atau depresi dalam jangka panjang,” ujar dia.