Lagu MBG Mas Bahlil Ganteng Mudah Terngiang di Kepala, Ini Kata Psikiater

Psikiater menjelaskan alasan lagu MBG Mas Bahlil Ganteng mudah terngiang dan sulit hilang dari kepala.

Diterbitkan 29 Mei 2026, 16:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lagu-lagu viral seperti MBG alias Mas Bahlil Ganteng dan lainnya kerap terngiang-ngiang di kepala. Otak dengan mudah menghafalnya. Bahkan, ketika ada orang yang memainkan temponya, kita bisa langsung masuk ke liriknya. Fenomena seperti ini bukan hal baru jika dilihat dari sisi psikologi.

Menurut dokter spesialis kedokteran jiwa, Lahargo Kembaren, istilah yang sering digunakan untuk fenomena ini adalah earworm atau Involuntary Musical Imagery (IMI). Ini adalah kondisi ketika potongan lagu, melodi, atau lirik muncul berulang di pikiran tanpa disengaja.

"Mengapa lagu viral mudah terngiang-ngiang? Otak manusia memang dirancang untuk mengenali pola dan mengingat informasi yang sederhana, berulang, dan emosional," kata Psikiater dari RS Marzoeki Mahdi Bogor dalam keterangan tertulis yang diterima Kesehatan Liputan6.com pada Jumat, 29 Mei 2026.

Lahargo, menambahkan, lagu-lagu viral biasanya memiliki beberapa karakteristik, yakni:

  • Melodi sederhana dan mudah ditebak
  • Lirik pendek dan repetitif
  • Ritme yang mudah diikuti
  • Sering muncul berulang di media sosial
  • Dikaitkan dengan humor, emosi, atau tren tertentu.

"Ketika suatu lagu terus-menerus terpapar melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, Reels, atau platform lain, otak akan menganggap lagu tersebut sebagai informasi yang 'penting' sehingga lebih mudah tersimpan dalam memori jangka pendek," kata Lahargo.

Saat mendengar musik, beberapa area otak aktif secara bersamaan, termasuk:

  • Korteks auditori (memproses suara)
  • Hippocampus (memori)
  • Amygdala (emosi)
  • Sistem reward dopamin (rasa senang dan penasaran).

Ketika lagu diputar berulang kali, jalur saraf tertentu menjadi semakin kuat. Akibatnya, otak dapat "memutar ulang" lagu tersebut meskipun musiknya sudah berhenti.

"Ibaratnya, lagunya sudah selesai diputar, tetapi otak masih menekan tombol replay," kata Lahargo.

Dialami Hampir Semua Orang

Lahargo menambahkan, sebagian besar earworm adalah fenomena normal dan dialami hampir semua orang. Namun, mekanismenya memang memiliki sedikit kemiripan dengan proses kecanduan ringan, yaitu:

  • Paparan berulang
  • Aktivasi sistem dopamin
  • Muncul dorongan untuk mendengar kembali.

Bedanya, earworm umumnya tidak sampai menyebabkan gangguan fungsi berat seperti kecanduan zat atau judi.

“Mengapa justru lagu yang dianggap ‘receh’ sering viral? Karena otak tidak selalu mengingat hal yang paling cerdas.”

Otak lebih sering mengingat hal yang:

  • Unik
  • Lucu
  • Berulang
  • Mengejutkan
  • Mudah diprediksi.

Secara psikologis ini disebut efek mere exposure, yaitu semakin sering terpapar sesuatu, semakin akrab dan mudah disukai oleh otak. Otak manusia kadang tidak menyimpan yang paling penting, tetapi yang paling sering lewat.

Cara Hentikan Earworm

Lahargo pun membagikan tips sederhana untuk menghentikan earworm, yakni:

Dengarkan lagunya sampai selesai, kadang earworm muncul karena otak merasa lagunya "belum tuntas". Mendengarkan versi lengkap dapat membantu memberi rasa selesai (closure).

Alihkan dengan aktivitas yang melibatkan konsentrasi seperti membaca, berhitung, bermain teka-teki, atau percakapan yang fokus dapat mengurangi ruang bagi lagu tersebut.

Ganti dengan lagu lain, cara ini sering disebut "mengusir earworm dengan earworm yang lebih jinak."

Jangan dilawan terlalu keras, semakin dipaksa untuk tidak memikirkan sesuatu, justru semakin sering muncul.

Earworm umumnya tidak berbahaya, bahkan pada sebagian orang dapat:

  • Meningkatkan suasana hati
  • Menimbulkan rasa senang
  • Menjadi hiburan ringan
  • Memunculkan rasa kebersamaan karena mengikuti tren yang sama.

Namun jika berlebihan, pada sebagian kecil orang, terutama yang sedang stres, cemas, atau sulit berkonsentrasi, earworm dapat:

  • Mengganggu fokus
  • Mengurangi produktivitas
  • Membuat sulit tidur
  • Menimbulkan rasa jengkel.

Sampai saat ini tidak ada bukti kuat bahwa lagu viral menyebabkan kerusakan mental jangka panjang pada orang sehat. Yang lebih perlu diperhatikan adalah pola konsumsi media sosial yang berlebihan, karena dapat meningkatkan distraksi, menurunkan rentang perhatian (attention span), dan membuat otak terbiasa mencari stimulasi cepat.

Earworm adalah fenomena psikologis yang normal. Lagu viral mudah menempel karena sederhana, repetitif, emosional, dan terus-menerus muncul di lingkungan digital kita. Lagu viral itu seperti tamu yang awalnya cuma mampir, tapi karena sering dibukakan pintu oleh algoritma, akhirnya betah tinggal di kepala,” pungkasnya.