Doom Scrolling Tak Cuma Sita Waktu, Mental Bisa Terganggu

Ketahui cara meredam doom scrolling media sosial biar tak berimbas pada kesehatan mental.

Diterbitkan 10 Juni 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Doom scrolling adalah kebiasaan terus-menerus menggulir layar gawai untuk mencari atau membaca berita, informasi, maupun konten yang bernuansa negatif, mengkhawatirkan, atau memicu kecemasan.

Istilah ini berasal dari kata doom yang berarti malapetaka atau kehancuran, dan scrolling yang berarti menggeser layar. Awalnya seseorang mungkin hanya ingin mencari informasi atau mengikuti perkembangan suatu peristiwa, tanpa disadari aktivitas tersebut dapat berubah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.

Menurut dokter spesialis kedokteran jiwa, William Surya Atmadja dari RS EMC Pulomas dan Alam Sutera, fenomena ini semakin sering ditemukan sejak media sosial menjadi salah satu sumber informasi utama masyarakat.

“Ketika seseorang menemukan berita yang mengkhawatirkan, ia sering terdorong untuk mencari informasi tambahan dengan harapan mendapatkan kepastian atau rasa tenang. Namun yang kerap terjadi justru sebaliknya, semakin banyak informasi negatif yang dikonsumsi, semakin besar pula rasa cemas yang muncul,” katanya mengutip laman EMC, Rabu, 10 Juni 2026.

Membaca berita dan mengikuti perkembangan dunia tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan dan menjadi kebiasaan, doom scrolling dapat memberikan dampak yang kurang baik terhadap kesehatan mental, seperti:

Meningkatkan Kecemasan

Paparan terus-menerus terhadap berita buruk dapat membuat seseorang merasa bahwa dunia berada dalam kondisi yang jauh lebih berbahaya daripada kenyataannya. Akibatnya, rasa khawatir dan kecemasan menjadi lebih mudah muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Memicu Stres Berkepanjangan

Saat membaca informasi yang dianggap mengancam, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan kewaspadaan. Jika hal ini terjadi berulang kali, sistem stres dalam tubuh akan terus aktif sehingga pikiran menjadi lebih sulit rileks.

Mengganggu Kualitas Tidur

Banyak orang melakukan doom scrolling menjelang waktu tidur. Kombinasi antara paparan cahaya layar dan konsumsi konten yang memicu kecemasan dapat membuat otak tetap aktif sehingga proses tidur menjadi lebih sulit dan kualitas istirahat menurun.

Menurunkan Fokus dan Produktivitas

Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, bekerja, atau berinteraksi dengan orang-orang terdekat dapat habis untuk terus mengikuti arus informasi. Akibatnya, kemampuan berkonsentrasi dan produktivitas sehari-hari dapat menurun.

Memengaruhi Suasana Hati

Paparan konten negatif secara terus-menerus dapat membuat seseorang merasa lebih pesimis, mudah khawatir, atau kehilangan harapan terhadap berbagai hal di sekitarnya.

Cara Redam Doom Scrolling

William merekomendasikan beberapa cara untuk mengurangi kebiasaan doom scrolling, yakni:

Kenali Pola Penggunaan Gawai

Langkah pertama adalah menyadari kapan dan dalam situasi apa kebiasaan tersebut biasanya muncul. Apakah saat bangun tidur, sebelum tidur, ketika sedang bosan, atau saat merasa cemas.

“Kesadaran ini membantu Anda mengenali pemicu utama perilaku tersebut,” ujar William.

Batasi Waktu Penggunaan Media Sosial

Manfaatkan fitur screen time atau aplikasi pembatas penggunaan untuk membantu mengontrol durasi penggunaan media sosial setiap hari.

Tentukan Jadwal Mengakses Berita

Tidak semua informasi perlu dipantau setiap saat. Membaca berita satu atau dua kali sehari dari sumber yang terpercaya sering kali sudah cukup untuk tetap mendapatkan informasi yang relevan.

Kurasi Sumber Informasi

Pilih akun, kanal berita, atau sumber informasi yang kredibel dan seimbang. Mengurangi paparan terhadap konten sensasional dapat membantu menjaga kesehatan mental.

Ganti dengan Aktivitas yang Lebih Menyehatkan

Saat muncul dorongan untuk terus menggulir layar, cobalah menggantinya dengan aktivitas lain seperti membaca buku, berjalan santai, berolahraga ringan, melakukan hobi, atau berbincang dengan orang terdekat.

Beri Ruang untuk Menenangkan Pikiran

Jika suatu berita memicu rasa cemas atau tertekan, izinkan diri untuk berhenti sejenak. Ambil jeda dari layar dan lakukan aktivitas yang membantu tubuh serta pikiran kembali tenang.

Menjadi Pengguna Digital yang Lebih Sehat

Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan, bukan sumber tekanan yang terus-menerus membebani pikiran. Mengakses informasi memang penting, tetapi menjaga kesehatan mental juga tidak kalah penting.

Menjadi pengguna digital yang sehat bukan berarti menghindari berita atau menutup diri dari perkembangan dunia. Sebaliknya, hal ini berarti mampu memilih informasi secara bijak, mengetahui kapan perlu mencari informasi, dan memahami kapan saatnya berhenti.

“Dengan membangun kebiasaan digital yang lebih seimbang, kita dapat tetap terhubung dengan dunia tanpa harus mengorbankan ketenangan pikiran dan kesehatan mental. Informasi yang baik seharusnya membantu kita merasa lebih siap menghadapi kehidupan, bukan membuat kita terus hidup dalam kecemasan,” pungkas William.