Liputan6.com, Jakarta - Cara pasien Asia mengekspresikan kecemasan melalui berbagai keluhan fisik menjadi salah satu topik yang menarik perhatian peserta dari berbagai negara dalam ajang 13th Annual Scientific Conference of the European Association for Psychosomatic Medicine (EAPM) 2026 yang berlangsung di Florence, Italia.
Topik tersebut dibahas dalam sesi Clinical Case Presentations 2 pada 18 Juni 2026. Dalam kesempatan itu, psikiater Indonesia dr. Andri, SpKJ, FAPM dari EMC Hospital Alam Sutera mempresentasikan pengalaman klinisnya melalui materi berjudul “Cultural Somatization and Health Anxiety in Indonesia: A Clinical Case Experience of Multisystem Psychosomatic Presentations in an Asian Population".
Presentasi tersebut mengangkat fenomena yang sering ditemukan di Indonesia, yakni pasien dengan gangguan kecemasan yang lebih banyak mengeluhkan gejala fisik dibandingkan masalah emosional atau psikologis.
Advertisement
Melalui tiga kasus klinis yang ditemui dalam praktik sehari-hari, Andri menjelaskan bahwa faktor budaya memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang memahami dan mengungkapkan kecemasan yang dialaminya.
Menurutnya, banyak pasien datang dengan berbagai keluhan seperti sensasi mengganjal di tenggorokan, nyeri dada, jantung berdebar, pusing, gangguan lambung, hingga keluhan pada sistem saraf otonom lainnya.
Namun, kata Andri, tidak sedikit yang tidak menyadari bahwa gejala tersebut berkaitan dengan gangguan kecemasan.
"Dalam praktik sehari-hari di Indonesia, pasien jarang mengatakan bahwa mereka sedang cemas. Mereka lebih sering mengatakan bahwa asam lambungnya naik ke kepala, terkena masuk angin, atau mengalami gangguan fisik tertentu. Gejala yang mereka rasakan nyata tapi interpretasi terhadap gejala tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya," ujar Andri dalam presentasinya.
Fenomena yang Juga Ditemukan di Negara Barat
Menariknya, diskusi yang berlangsung selama sekitar 75 menit tersebut mendapat respons aktif dari peserta yang berasal dari Amerika Serikat, Jerman, Israel, dan sejumlah negara Eropa lainnya.
Mereka menilai fenomena yang dipaparkan Andri tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga ditemukan pada komunitas diaspora Asia yang tinggal di negara-negara Barat.
Pentingnya Memahami Faktor Budaya
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/8408522/original/077840600_1782291770-MbahNdi_2.jpg)
Beberapa peserta mengungkapkan bahwa pasien keturunan Asia yang mereka tangani di Eropa maupun Amerika Serikat sering menunjukkan pola serupa. Keluhan yang muncul lebih banyak berupa gangguan fisik, seperti masalah gastrointestinal, nyeri tubuh, sensasi tidak nyaman, atau keluhan kardiovaskular.
Sementara itu, lanjut Andri, aspek emosional dan psikologis biasanya baru terungkap setelah dilakukan eksplorasi klinis yang lebih mendalam.
"Banyak kolega dari luar negeri yang menyampaikan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Bahkan pada pasien Asia yang telah lama tinggal di Eropa atau Amerika, pola ekspresi emosional melalui gejala fisik masih sangat terlihat," katanya.
Dia, melanjutkan,"Ini menunjukkan bahwa faktor budaya memiliki pengaruh yang kuat dalam cara seseorang mengalami dan mengkomunikasikan penderitaan psikologis."
Selain membahas somatisasi budaya (cultural somatization) dan kecemasan kesehatan (health anxiety), diskusi juga menyoroti pentingnya pendekatan yang sensitif terhadap budaya dalam praktik psikosomatik dan psikiatri modern.
Para peserta sepakat bahwa memahami explanatory model atau cara pasien menjelaskan penyakit yang dialaminya merupakan langkah penting untuk membangun hubungan terapeutik yang baik serta meningkatkan keberhasilan terapi.
Istilah-istilah yang akrab di Indonesia, seperti “asam lambung naik ke kepala”, “cuaca panas menyebabkan stroke”, dan “masuk angin”, bahkan menjadi perhatian khusus audiens internasional.
Istilah tersebut dianggap sebagai contoh nyata idioms of distress, yaitu bentuk ekspresi penderitaan yang dipengaruhi oleh budaya setempat.
Partisipasi Indonesia dalam EAPM 2026 dinilai memberikan kontribusi penting bagi pemahaman global mengenai hubungan antara budaya, kesehatan mental, dan kondisi fisik.
Temuan ini juga mempertegas bahwa meskipun mekanisme biologis kecemasan bersifat universal, cara setiap individu memahami dan mengekspresikannya sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya yang dimiliki.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8414164/original/000004000_1782298740-Cek_fakta_-_rumor_ukraina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406223/original/090481000_1782289085-cek_fakta_-_insentif_guru_asn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256117/original/079954000_1781147945-Tugas__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/262/original/004103300_1521089203-WhatsApp_Image_2018-03-15_at_12.45.09.jpeg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/8408521/original/066435200_1782291770-psikiater_Indonesia_dr._Andri__SpKJ__FAPM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411714/original/008904900_1479708928-Italia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262510/original/043477700_1781827837-AP26169828495121-Kanada_Piala_Dunia_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542959/original/069384900_1775008055-Italia_vs_Bosnia-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264262/original/083963700_1782102827-senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263474/original/094364200_1781931705-paraguay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8415599/original/012053300_1782300444-turki.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263847/original/059626700_1782021744-000_B7RA6W8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263738/original/072928200_1781986742-Crysencio_Summerville.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259148/original/073901100_1781485988-diallo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261495/original/061029900_1781712600-Ivory_Coast_s_Elye_Wahi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259250/original/045793700_1781492796-curacao.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7942892/original/090201900_1780778139-AP26157707967919.jpg)