Liputan6.com, Jakarta - Bagi banyak orang, pemulihan skizofrenia sering kali diidentikkan dengan minum obat secara rutin dan mengendalikan gejala. Padahal, ada aspek lain yang tak kalah penting, yaitu pemulihan emosional. Salah satu titik balik yang sering luput diperhatikan adalah munculnya kembali rasa bangga terhadap diri sendiri.
Hal tersebut diungkapkan oleh penyintas skizofrenia sekaligus penulis yang banyak membahas stigma dan harapan, Sarah Merritt Ryan, M.S., CPSS. Menurutnya, proses pemulihan skizofrenia bukan hanya soal mengurangi halusinasi atau delusi, tetapi juga tentang membangun kembali identitas diri yang sempat hilang akibat penyakit.
Sarah menjelaskan bahwa pemulihan emosional terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu belajar memercayai diri sendiri, meyakini kemampuan diri sendiri, dan kembali ingin menjadi diri sendiri.
Advertisement
"Dalam cara saya mendefinisikan pemulihan emosional, saya menekankan tiga komponen, yaitu memercayai diri sendiri, meyakini diri sendiri, dan kembali ingin menjadi diri sendiri," kata Sarah dikutip dari psychologytoday pada Senin (27/7/2026)
Rasa Bangga Jadi Titik Balik Pemulihan Skizofrenia
Menurut Sarah, tahap terakhir dalam pemulihan adalah kembali ingin menjadi diri sendiri. Untuk mencapainya, seseorang perlu membangun rasa bangga terhadap dirinya, baik sebelum, saat, maupun setelah mengalami episode psikosis.
Dia mengaku rasa bangga merupakan emosi terakhir yang berhasil ia rasakan kembali setelah mengalami gangguan psikosis. Meski demikian, justru perasaan tersebut menjadi fondasi yang membantunya mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Sarah bercerita bahwa dia sempat kehilangan rasa bangga terhadap dirinya ketika kemampuan berpikirnya menurun akibat skizofrenia. Perjalanan akademiknya terhenti, dia harus menjalani perawatan di bangsal psikiatri, serta kehilangan rasa mandiri.
Selain itu, dia juga dihantui rasa malu karena perilakunya saat mengalami psikosis membuat keluarga dan teman-temannya khawatir. Bahkan, halusinasi yang dia ceritakan kepada orang lain sempat membuat mereka ketakutan.
Â
Bangga karena Masih Bertahan Hidup
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5030062/original/072144300_1732950193-ciri-ciri-skizofrenia-paranoid.jpg)
Sarah mengatakan banyak penyintas skizofrenia tidak menyadari bahwa bertahan hidup merupakan pencapaian yang patut dihargai. Saat seseorang mengalami psikosis, dia hidup dalam realitas yang berbeda sehingga bisa mengambil keputusan yang membahayakan keselamatannya. Sarah mengaku pernah mengalami kondisi tersebut.
Meski begitu, dia menilai fakta bahwa seseorang masih hidup hari ini bukan hanya soal keberuntungan. Ada keputusan-keputusan penting, seperti menerima perawatan atau menjalani pengobatan, yang turut membuka jalan menuju proses pemulihan skizofrenia.
"Yang terpenting adalah Anda masih hidup dan masih bernapas saat ini. Artinya, Anda masih memiliki masa depan, meski mungkin belum mempercayainya," ujar Sarah.
Dia mengakui bahwa dirinya membutuhkan waktu cukup lama untuk benar-benar merasa bersyukur karena masih hidup. Namun, ketika perasaan itu muncul, ia mulai memandang hidup sebagai anugerah, bukan sekadar sesuatu yang dijalani.
Â
Advertisement
Jangan Biarkan Stigma Menentukan Harga Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5079941/original/070924700_1736153658-1735888810339_ciri-ciri-skizofrenia.jpg)
Dalam perjalanannya, Sarah juga pernah berpikir untuk pindah ke kota lain agar tidak ada orang yang mengetahui dirinya pernah mengalami gangguan mental. Namun, dia akhirnya memutuskan tetap tinggal dan menghadapi ketakutannya.
Menurut Sarah, berpindah tempat tidak akan menyelesaikan persoalan yang ada di dalam diri. Tantangan terbesar justru adalah belajar lebih menghargai diri sendiri dibandingkan terlalu memikirkan penilaian orang lain.
Dia mengingatkan bahwa stigma terhadap skizofrenia sering kali membuat penyintas menempatkan pendapat orang lain di atas kebutuhan dirinya sendiri. Padahal, penerimaan diri tidak boleh bergantung pada pengakuan dari lingkungan.
Sarah mengaku pernah merasa hidupnya tidak memiliki harapan. Setiap pagi dia bangun tanpa motivasi untuk memulai hari.
Namun, dia tetap berusaha melakukan aktivitas sederhana, seperti mencuci piring, mengajak anjing berjalan-jalan, membaca, atau sekadar merapikan diri.
Aktivitas kecil tersebut perlahan memberinya rasa pencapaian dan membantu membangun kembali kepercayaan diri.
Kini, setelah 14 tahun menjalani masa remisi, Sarah merasa bangga terhadap perjalanan pemulihan skizofrenia yang telah dia lalui. Dia terus menjalani kontrol ke psikiater, mengikuti terapi, dan memilih membantu orang lain yang mengalami perjuangan serupa.
"Saya adalah seorang penyintas, dan Anda juga bisa menjadi penyintas. Bangunlah dialog positif dengan diri sendiri, banggalah terhadap proses pemulihan yang telah Anda jalani, dan bentuklah masa depan yang membuat Anda menjadi pribadi yang lebih baik,"Â pungkas Sarah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308316/original/080408800_1785136454-cek_fakta_-_penggerak_HAM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299565/original/093541200_1784264989-cek_fakta_magang_nasional_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308116/original/010825900_1785129339-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-27T121435.797.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308041/original/019912700_1785126774-cek_fakta_-_magang_kemenimipas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4207050/original/025429700_1666953916-Skizofrenia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)