Perempuan Kerap Dicap Mandul, Wamenkes Ungkap Penyebab Infertilitas

Wamenkes ungkap penyebab infertilitas tak sesederhana stigma mandul pada perempuan yang selama ini beredar.

Diterbitkan 26 Mei 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Wamenkes RI), Dante Saksono Harbuwono, tak memungkiri bahwa perempuan kerap menjadi korban stigma ketika suatu pasangan sulit memiliki keturunan. Padahal, masalah infertilitas adalah gabungan dari kedua belah pihak.

"Memang stigma masalah reproduksi itu yang disalahkan kaum perempuan. Padahal ini adalah gabungan antara embrio dan sperma," kata Dante kepada Kesehatan Liputan6.com saat ditemui di Jakarta pada Selasa, 26 Mei 2026.

Dia, menambahkan, para pria kerap tidak menyadari bahwa masalah sperma kerap dipicu kebiasaan yang tidak baik, seperti kebiasaan merokok.

"Masalah sperma banyak juga disebabkan perilaku-perilaku yang tidak baik yang sekarang masih beredar di kalangan bapak-bapak. Misalnya merokok, merokok adalah salah satu yang menurunkan kualitas sperma," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Budi Wiweko, mengatakan, masalah sperma menyumbang 35 persen dari gangguan kesuburan.

"Melanjutkan yang disampaikan oleh Pak Wamen tadi, bahwa data di Indonesia justru menunjukkan 35 persen penyebab gangguan kesuburan adalah faktor sperma," ujarnya dalam Re-Launching Klinik Yasmin di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana.

"Oleh karena itu, salah satu inovasi kita adalah nomor satu harus diperiksa adalah suaminya dulu jadi jangan sentuh perempuan sebelum ada hasil sperma-nya," tambahnya. 

Sementara, dari sisi perempuan, masalah infertilitas kerap terjadi lantaran adanya gangguan pematangan telur.

"Dan, untuk perempuan yang paling besar adalah gangguan pematangan telur, pasien-pasien yang siklus haidnya tidak teratur, kemudian pasien-pasien yang nyeri haid karena kista coklat atau kista endometriosis," ujar Budi.

Angka Fertilitas Semakin Turun

Sebelumnya, Dante menyoroti soal angka fertilitas total (total fertility rate/TFR) nasional yang kian menurun. Dari 2,18 pada 2020 menjadi 2,13 dari survei penduduk 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan jumlah pasangan usia subur yang sulit mendapat keturunan.

"Di Indonesia, tahun 2022 ada enam juta (15 persen) pasangan usia subur yang melakukan intervensi medis," kata Dante.

Secara global, kata Dante, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan ada sekitar satu dari enam pasangan usia subur di seluruh dunia mengalami infertilitas (ketidaksuburan). Angka ini tergolong sangat banyak.

"Pernahkah kita membayangkan betapa beratnya perjalanan seorang perempuan atau sepasang suami istri yang datang ke klinik fertilitas. Mereka datang bukan untuk berobat karena sakit fisik tapi untuk memperjuangkan sebuah kehidupan yang belum hadir," ujar Dante dalam sambutannya.

"Mereka datang bukan karena keluhan tetapi karena harapan. Dan harapan ini sudah bertahun-tahun dirawat, dijaga dengan air mata, doa, dan keberanian yang luar biasa," tambahnya.

Hal inilah yang membuat fasilitas layanan fertilitas berbeda dengan layanan kesehatan lainnya. Mereka tidak sakit tapi mereka butuh pertolongan.

"Guna menjawab tantangan ini, saat ini sudah ada 67 klinik fertilitas di seluruh Indonesia, tersebar di 15 provinsi," ujarnya.