Sauna Bisa Pengaruhi Kualitas Sperma, Dokter Ungkap Risikonya

Kebiasaan sauna ternyata bisa berdampak pada sperma, dokter ungkap risiko yang sering tidak disadari.

Diterbitkan 28 Mei 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa faktor penyebab infertilitas atau ketidaksuburan sebetulnya bisa dicegah sebelum pasangan melangsungkan pernikahan.

Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Budi Wiweko, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempublikasikan cara mencegah gangguan kesuburan pada 2025.

"Pencegahan dari kejadian gangguan kesuburan itu sangat penting. Healthy lifestyle, gaya hidup sehat. Bagaimana sperma itu harus dijaga dengan baik, tidak boleh merokok," kata Budi kepada Kesehatan Liputan6.com saat ditemui di Jakarta pada Selasa, 26 Mei 2026.

Selain merokok, hal lain yang sebaiknya dihindari adalah kebiasaan-kebiasaan yang bisa meningkatkan suhu di sekitar buah zakar (testis).

"Seperti pakaian dalam ketat, bersepeda jarak jauh, mandi sauna, menyimpan dua ponsel di celana, itu biasanya secara tidak langsung dapat merusak kualitas sperma," ujar Budi.

Bagi perempuan, lanjut Budi, pihaknya mengedukasi supaya mereka dapat mencatat siklus datang bulan.

"Karena kalau perempuan haidnya teratur, 90 persen dia telurnya baik. Tapi kalau perempuan haidnya tidak teratur, tiga bulan sekali atau dua kali dalam sebulan, kemungkinan besar ada gangguan pematangan telur," ujarnya.

Tanda lain yang bisa merujuk pada infertilitas perempuan adalah nyeri haid, nyeri saat hubungan seksual, nyeri saat buang air besar dan berkemih ketika menstruasi.

Budi, menambahkan, sulit hamil bukan hanya hasil dari adanya masalah reproduksi perempuan. Dari sisi laki-laki, masalah sperma menyumbang 35 persen dari gangguan kesuburan.

"Data di Indonesia justru menunjukkan 35 persen penyebab gangguan kesuburan adalah faktor sperma," ujar Budi.

"Oleh karena itu, salah satu inovasi kita nomor satu harus diperiksa adalah suaminya dulu jadi jangan sentuh perempuan sebelum ada hasil spermanya," tambahnya.

Sementara, dari sisi perempuan, masalah infertilitas kerap terjadi lantaran adanya gangguan pematangan telur.

"Dan, untuk perempuan yang paling besar adalah gangguan pematangan telur, pasien-pasien yang siklus haidnya tidak teratur, kemudian pasien-pasien yang nyeri haid karena kista coklat atau kista endometriosis," ujar Budi.

Perempuan Kerap Jadi Korban Stigma

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Wamenkes RI), Dante Saksono Harbuwono, tak memungkiri bahwa perempuan kerap menjadi korban stigma ketika suatu pasangan sulit memiliki keturunan.

Padahal, masalah infertilitas adalah gabungan dari kedua belah pihak. "Memang stigma masalah reproduksi itu yang disalahkan kaum perempuan. Padahal ini adalah gabungan antara embrio dan sperma," kata Dante.

Dia, menambahkan, para pria kerap tidak menyadari bahwa masalah sperma kerap dipicu kebiasaan yang tidak baik, seperti kebiasaan merokok.

"Masalah sperma banyak juga disebabkan perilaku-perilaku yang tidak baik yang sekarang masih beredar di kalangan bapak-bapak. Misalnya merokok, merokok adalah salah satu yang menurunkan kualitas sperma," tambahnya.