Kesalahan Sepele Orang Tua Saat Menentukan Porsi Makan Anak

Banyak orang tua masih salah menentukan porsi makan anak. Simak penjelasan ahli gizi di sini.

Diterbitkan 11 Juni 2026, 13:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menentukan porsi makan anak sering kali dianggap mudah oleh banyak orang tua. Padahal, kebutuhan energi dan zat gizi anak berbeda-beda tergantung usia, jenis kelamin, hingga tingkat aktivitas fisiknya.

Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah menyamakan porsi makan anak yang usianya berbeda. Padahal, pemberian porsi makan yang tidak sesuai kebutuhan dapat berdampak pada kecukupan gizi anak.

Jika porsinya terlalu sedikit, anak berisiko mengalami kekurangan energi dan zat gizi. Sebaliknya, jika berlebihan, risiko kelebihan berat badan juga bisa meningkat.

Ahli Gizi dan Pendiri Gizi Nusantara, Esti Nurwanti, S.Gz, RD, MPH, Ph.D, mengingatkan bahwa kebutuhan energi anak akan meningkat seiring bertambahnya usia.

"Kalau anak usia 6 s.d 9 tahun itu sekitar 1.400 s.d 1.600 kalori, kemudian 10 s.d 15 tahun itu sekitar 1.500 s.d 2.400 kalori, jadi berbeda," ujar Esti di peluncuran MILO Tiga Keunggulan belum lama ini.

Menurutnya, perbedaan kebutuhan energi tersebut seharusnya tercermin dalam porsi makan sehari-hari. Oleh sebab itu, orang tua tidak disarankan memberikan porsi yang sama kepada anak SD dan anak SMP.

"Jadi, harusnya porsi antara anak SD sama SMP beda. Jadi jangan sama. Nanti kalau anak SMP porsinya anak SD kan kurang gizi," tambahnya. 

Selain kesalahan dalam menentukan jumlah porsi makan anak, Esti juga menyoroti pola makan masyarakat Indonesia yang masih didominasi oleh karbohidrat.

Dia menilai banyak menu harian yang mengandung sumber karbohidrat berlapis, tapi minim protein. Akibatnya, kebutuhan gizi seimbang anak tidak terpenuhi secara optimal.

"Orang Indonesia cenderung banyak karbonya. Jadi, nasi uduk pun isinya nasi, bihun, dan teman-teman karbohidrat lainnya. Jadi kurang protein," kata Esti.

 

 

Sarapan Anak Indonesia Masih Belum Ideal

Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena protein memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan, perkembangan otot, serta menjaga daya tahan tubuh anak.

Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya tidak hanya fokus pada jumlah makanan yang dikonsumsi anak, tetapi juga memperhatikan kualitas gizinya.

Esti juga mengungkapkan bahwa masih banyak anak Indonesia yang belum mendapatkan asupan energi yang cukup saat sarapan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dia paparkan, sekitar 40 persen anak Indonesia mengonsumsi sarapan yang belum memenuhi standar minimum kebutuhan energi harian.

"Dari hasil penelitian juga terlihat bahwa sekitar 40 persenan anak Indonesia sarapannya itu tidak memenuhi standar minimum energinya. Kemudian kualitas gizinya juga rendah," katanya.

Menurut Esti, kondisi tersebut terjadi karena menu sarapan anak sering kali terlalu didominasi karbohidrat dan kurang mengandung sumber protein, vitamin, serta mineral.

Untuk itu, dia menyarankan orang tua mulai menerapkan prinsip gizi seimbang dalam menu harian anak.

Selain membatasi konsumsi karbohidrat berlebih, menu makan juga perlu dilengkapi dengan protein, sayur, buah, serta sumber vitamin dan mineral lainnya.

"Perlu ada tambahan untuk menyempurnakan asupan protein dan juga vitamin dan mineralnya," pungkasnya.