Kenaikan Suhu Bumi Bikin DBD Muncul di Wilayah yang Dulu Bebas Kasus

DBD dulu identik dengan negara-negara tropis tapi kini mulai muncul di beberapa negara Eropa seiring meningkatnya suhu Bumi.

Diterbitkan 11 Juni 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Peningkatan suhu Bumi akibat perubahan iklim ternyata dapat mengubah pola penyebaran penyakit menular. Kenaikan suhu global membuat wilayah yang sebelumnya relatif dingin kini menjadi lebih hangat. Kondisi ini memungkinkan vektor pembawa penyakit bisa berkembang biak. 

Anggota Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) IDAI, dr. Riyadi, Sp.A., Subsp.Inf.P.T(K), M.Kes, memberi contoh kasus demam berdarah dengue (DBD) yang bergantung pada keberadaan hewan atau vektor seperti nyamuk. 

Riyadi menjelaskan nyamuk memiliki ketergantungan terhadap suhu lingkungan. Tidak seperti manusia yang dapat melindungi diri ketika pergi ke negara dingin dengan pakaian tebal, nyamuk membutuhkan suhu tertentu agar dapat hidup, berkembang biak, dan menghasilkan telur yang menetas.

"Telur nyamuk itu kan butuh suhu tertentu ya biar menetas. Nah dulu pas daerah tersebut dingin, enggak bisa tapi karena makin hangat jadi bisa berkembang biak nyamuk," tutur Riyadi dalam seminar daring bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Selasa, 10 Juni 2026. 

Kondisi ini membuat penyakit yang sebelumnya hanya umum ditemukan di daerah tropis mulai muncul di wilayah yang sebelumnya tidak mengenal penyakit tersebut. Di Indonesia, DBD ditemukan hampir sepanjang tahun. Namun, di sejumlah negara yang dahulu memiliki suhu lebih dingin, kasus DBD kini mulai bermunculan karena suhu menjadi lebih hangat.

"DBD di Indonesia ada sepanjang tahun. Dulu banyak negara di Eropa bahkan tidak mengenal DBD. Sekarang mulai muncul kasus-kasusnya," kata Riyadi.

Selain kenaikan suhu, mobilitas manusia juga turut berperan dalam penyebaran penyakit. Perjalanan antarwilayah maupun antarnegara memungkinkan virus atau parasit berpindah ke daerah baru yang kini lebih mendukung kehidupan vektornya.

 

Selain DBD, Malaria Juga

Fenomena serupa juga dapat terjadi pada malaria. Riyadi menjelaskan bahwa penularan malaria membutuhkan tiga komponen utama, yaitu parasit penyebab malaria, manusia yang terinfeksi, dan nyamuk sebagai vektor penular.

Pada masa lalu, seseorang yang membawa parasit malaria ke suatu daerah belum tentu menularkan penyakit tersebut jika tidak terdapat nyamuk yang mampu hidup di wilayah itu. Namun, kondisi dapat berubah ketika suhu lingkungan menjadi lebih hangat.

"Dulu mungkin ada orang yang membawa parasit malaria ke suatu daerah, tetapi tidak terjadi penularan karena tidak ada nyamuk yang bisa hidup di sana. Ketika suhu berubah dan nyamuk dapat bertahan hidup serta berkembang biak, maka penularan malaria bisa mulai terjadi," jelas Riyadi.