Ini Cara Tepat Menyusun Bekal Anak, Jangan Asal Kenyang Doang

Simak cara tepat menyusun bekal anak agar kebutuhan gizi terpenuhi dan tidak sekadar kenyang.

Diterbitkan 12 Juni 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang tua masih mengira menyusun bekal anak cukup dengan memberikan makanan yang mengenyangkan saja. Padahal, komposisi bekal anak perlu diperhatikan agar sesuai dengan kebutuhan gizi harian, seperti protein, karbohidrat, lemak sehat, vitamin, dan mineral.

Ahli Gizi & Pendiri Gizi Nusantara, Esti Nurwanti, S.Gz, RD, MPH, Ph.D, mengatakan kesalahan umum orang tua adalah terlalu fokus pada karbohidrat tanpa menyeimbangkan asupan nutrisi lainnya, terutama protein.

"Kita pastikan dulu kebutuhan anak sesuai usianya. Misalnya umur 6 s.d 9 tahun sekitar 1.400 kalori per hari. Kalau 30 persen untuk sarapan sekitar 400 kalori, siang 400, malam 400, dan sisanya camilan," ujar Esti kepada Kesehatan Liputan6.com di sela-sela peluncuran MILO Tiga Keunggulan belum lama ini.

Dia menekankan bahwa setiap kali makan, anak sebaiknya mendapatkan komposisi gizi lengkap. Tidak hanya karbohidrat, tapi juga protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral.

Esti menyebut protein sering kali menjadi komponen yang terlewat dalam bekal anak, padahal kebutuhan protein anak sekitar 40 gram per hari.

"Kalau dari susu (Milo) saja bisa sekitar 14 gram protein, itu sudah sangat membantu. Apalagi kalau ditambah dari makanan pagi, siang, dan malam yang lengkap," tambahnya.

Dia, menegaskan, bekal anak tidak boleh hanya mengutamakan rasa kenyang, tapi juga harus mendukung pertumbuhan dan aktivitas harian anak.

Menurut Esti, orang tua perlu lebih kreatif dalam menyiapkan bekal anak. Sumber protein bisa berasal dari telur, ayam, ikan, hingga susu. Sementara buah seperti pisang dan jeruk bisa menjadi pilihan praktis.

"Kalau anak banyak aktivitas, protein bisa ditambah. Misalnya telur ditambah ayam, bisa juga ditambah susu. Itu praktis," katanya.

Memberikan Sayuran Jadi Tantangan Tersendiri

Sayuran memang sering menjadi tantangan karena banyak anak kurang menyukainya. Namun, hal ini bisa disiasati dengan memilih buah dan sayur yang disukai anak.

Esti juga mengingatkan bahwa kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua terlalu fokus pada karbohidrat dalam makanan anak. Padahal, yang dibutuhkan adalah keseimbangan gizi.

"Kita coba fokusnya ke protein. Karena kalau hanya karbohidrat terus, kebutuhan energi memang naik, tapi tidak seimbang," tambahnya.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa orang tua juga perlu memperhatikan jumlah kalori agar tidak berlebihan. Jika kebutuhan anak 1.400 kalori per hari, tidak perlu dinaikkan menjadi 2.000 kalori tanpa alasan aktivitas yang jelas.

Sesuaikan dengan Kebutuhan Anak

Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, tergantung usia, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas. Oleh sebab itu, bekal anak perlu disesuaikan secara individual, bukan disamakan dengan orang lain.

"Sesuaikan dengan usianya, jenis kelaminnya, dan aktivitasnya," pungkas Esti.