Tak Sekadar Permainan, Main Layangan Bantu Cegah Mata Minus Anak

Main layangan ternyata bantu cegah mata minus anak. Simak tips dokter di sini.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 16:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ber-main layangan ternyata bukan sekadar permainan tradisional. Di balik aktivitas sederhana ini, terdapat manfaat yang dapat membantu menjaga kesehatan mata anak sekaligus mengurangi risiko pertambahan mata minus.

Dokter Spesialis Mata Anak, dr. Indah Saraswati, BMedSc(Hons), Sp.M, mengatakan anak sebaiknya rutin melakukan aktivitas di luar ruangan selama minimal dua jam setiap hari. Bermain apa pun diperbolehkan, termasuk bermain layangan yang dinilai menjadi pilihan menarik karena bisa dilakukan sendiri maupun bersama teman.

"Outdoor activity jangan lupa minimal dua jam. Main apa pun boleh, silakan. Aku biasanya bilang, ayo belajar main layangan saja sama sepak bola. Sepak bola harus ada teman, layangan kan bisa sendiri ya. Jadi, layangan lebih seru ya," kata Indah dalam diskusi media Healthy Vision Day pada Selasa (21/7/2026)

Selain memperbanyak aktivitas di luar ruangan, orang tua juga perlu membatasi kebiasaan anak menatap layar dari jarak terlalu dekat. Saat menggunakan ponsel, tablet, atau menonton televisi, anak sebaiknya tetap menjaga jarak pandang.

"Kalau misalnya memang lagi screen time, diingat-ingat ya, dijauhkan. Kalau (nonton) TV juga jauh, jangan dekat-dekat," ujarnya.

Tak kalah penting, orang tua jangan menunggu anak mengeluh penglihatannya buram. Sebab, banyak anak tidak menyadari bahwa kemampuan melihatnya mulai menurun.

Indah menyarankan orang tua memperhatikan tanda-tanda awal mata minus, seperti anak sering menyipitkan mata saat melihat benda di kejauhan, menonton televisi atau bermain gawai dari jarak sangat dekat, hingga kesulitan melihat tulisan di papan tulis saat duduk di bangku belakang.

"Jangan lupa tanya anak-anaknya, kalau di sekolah duduk di belakang itu kelihatan nggak sih papan tulisnya? Jangan tunggu gurunya yang bilang," katanya.

Indah, menambahkan,"Kadang-kadang guru enggak ngeh, anak-anak juga enggak ngomong. Baru usia 10 tahun ke atas ketahuan ada mata malas. Nah, itu sudah terlambat kalau di atas 10 tahun."

 

Mata Minus pada Anak Apa Bisa Disembuhkan?

Menurut Indah, penanganan mata minus pada anak kini tidak lagi hanya berfokus pada penggunaan kacamata untuk memperjelas penglihatan. Target utamanya adalah mengendalikan agar pertambahan minus tidak berlangsung semakin cepat.

"Target kita bukan hanya koreksi, tapi kita juga harus concern apakah ini minusnya akan nambah atau enggak. Itu yang sekarang ini kita targetkan," katanya.

Dia, menjelaskan, lensa kacamata biasa hanya memfokuskan penglihatan sentral. Sementara itu, bayangan pada penglihatan perifer tetap jatuh di belakang bola mata. Kondisi tersebut dapat merangsang bola mata memanjang, yang menjadi salah satu penyebab bertambahnya mata minus.

Oleh sebab itu, kini telah dikembangkan lensa khusus atau defocus lens yang berfungsi mengarahkan fokus penglihatan perifer agar jatuh ke dalam bola mata.

Teknologi tersebut terus berkembang, salah satunya melalui Highly Aspheric Lenslet Target (HALT) yang digunakan pada lensa Essilor. "HALT ini titik lenslet-nya banyak. Tidak cuma di perisentral. Ada 11 rings dan lenslet-nya bisa sampai sekitar 1.021," ujar Indah.

Menurutnya, jumlah lenslet yang lebih banyak membuat kualitas bayangan perifer menjadi lebih baik dibandingkan teknologi sebelumnya.

Berdasarkan penelitian yang dipaparkannya, teknologi tersebut bahkan mampu memperlambat pemanjangan bola mata hingga 67 persen, sehingga berpotensi membantu mengendalikan progresivitas mata minus pada anak.