Anak Bisa Minus 11 Meski Orang Tua Hanya Minus 3, Ini Penjelasannya

Minus mata anak bisa jauh berbeda dari orang tua. Ini alasan dan faktor risikonya menurut dokter.

Diterbitkan 22 Juli 2026, 15:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ukuran mata minus atau miopia pada anak tidak selalu sama dengan orang tuanya. Meski faktor genetik berperan, kondisi tersebut tidak secara langsung menentukan seberapa tinggi minus yang akan dialami anak.

Banyak orang tua mengira bahwa jika mereka memiliki minus ringan atau sedang, anaknya akan mengalami kondisi serupa. Padahal, ukuran minus pada anak bisa berbeda jauh, bahkan dapat mencapai angka yang lebih tinggi.

Dokter Spesialis Mata Anak dr. Indah Saraswati, BMEDSC(Hons), Sp.M, menjelaskan bahwa genetik merupakan salah satu faktor risiko terjadinya miopia pada anak, tetapi bukan penyebab langsung yang menentukan ukuran minus seseorang.

"Misalnya saya minus 3, suami saya minus 3, bukan berarti anaknya pasti minus 3. Itu tidak seperti itu. Bisa jadi anak mendapatkan gen yang memang tinggi, sehingga minusnya langsung mencapai 11 atau 12," ujar Indah dalam diskusi media Healthy Vision Day pada Selasa, 21 Juli 2026.

Menurut Indah, anak juga bisa mendapatkan kombinasi gen dengan risiko miopia yang lebih rendah. Oleh sebab itu, kondisi mata anak tidak bisa dipastikan hanya berdasarkan ukuran minus yang dimiliki orang tua.

"Atau bisa juga mendapatkan gen yang rendah, misalnya hanya minus 0,5 atau 0,75. Itu bisa terjadi," kata Indah.

Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz, mengatakan, Healthy Vision Day merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan EssilorLuxottica untuk meningkatkan edukasi dan kesadaran mengenai miopia agar lebih mudah dipahami serta diterapkan oleh keluarga.

"Miopia dapat dikelola melalui intervensi dini, kebiasaan menjaga kesehatan mata yang lebih baik, serta pilihan perawatan yang dirancang untuk memperlambat perkembangan miopia dari waktu ke waktu," ujar Dailami.

Genetik Jadi Salah Satu Faktor Risiko Miopia Anak

Indah, menjelaskan, hubungan antara faktor genetik dan miopia masih terus menjadi bahan penelitian. Hingga saat ini, para peneliti masih mencari berbagai gen yang berkaitan dengan kondisi mata minus.

"Genetik saat ini masih diteliti. Jadi, banyak teori yang menyebutkan bisa sampai 20 gen yang berhubungan dengan miopia, tetapi hal tersebut masih terus dicari tahu," ujarnya.

Dia, mengatakan, riwayat keluarga dengan penggunaan kacamata perlu menjadi perhatian orang tua. Anak yang memiliki anggota keluarga dengan mata minus disarankan untuk menjalani pemeriksaan mata.

"Kalau misalnya mama, papa, om, tante, kakak, adik, atau sepupunya ada yang menggunakan kacamata, kita sarankan tetap untuk melakukan pemeriksaan. Karena ada kemungkinan faktor risiko. Belum tentu, tetapi ada kemungkinannya," tambahnya.

Semakin banyak anggota keluarga yang memiliki riwayat miopia, risiko anak mengalami mata minus juga dapat meningkat.

Faktor Etnis Juga Berhubungan dengan Risiko Miopia

Selain genetik, dr. Indah menyebut faktor etnis atau ethnicity juga menjadi salah satu aspek yang berkaitan dengan peningkatan risiko miopia.

"Yang kedua adalah ethnicity atau etnis. Terutama Tionghoa atau Chinese. Makanya banyak penelitian yang dilakukan menggunakan populasi dari Cina. Kenapa? Karena prevalensi miopia pada mereka sangat tinggi," katanya.

Menurutnya, tingginya angka miopia pada kelompok populasi tertentu membuat faktor etnis menjadi salah satu hal yang terus diteliti dalam perkembangan mata minus.

Meski demikian, faktor genetik dan etnis tidak berarti seseorang pasti mengalami miopia. Ada berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi kesehatan mata anak, seperti kebiasaan melihat jarak dekat dalam waktu lama, kurangnya aktivitas di luar ruangan, hingga pola penggunaan perangkat digital.

Oleh sebab itu, pemeriksaan mata secara rutin penting dilakukan, terutama bagi anak yang memiliki riwayat keluarga dengan mata minus. Deteksi sejak dini dapat membantu mengetahui kondisi penglihatan anak dan menentukan langkah penanganan yang sesuai.