Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, Ini yang Dikhawatirkan Ahli

Kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius bikin ahli waspada. Ada ancaman yang dinilai tak boleh disepelekan.

Diterbitkan 07 Mei 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Spanyol tengah ramai jadi perbincangan. Terkait virus ini, ahli epidemiologi, Pandu Riono mengatakan transportasi publik seperti kapal pesiar seharusnya bebas vektor.

“Kejadian hantavirus artinya di kapal itu tidak ada penjagaan supaya tidak ada vektor. Vektor tuh membawa kuman. Jadi, Indonesia harus siap mengantisipasi agar semua transportasi publik, terutama yang jarak jauh apalagi kapal pesiar benar-benar dijamin tidak ada vektor yang memungkinkan adanya penularan,” kata Pandu dalam temu media di Jakarta (7/5/2026).  

Memastikan kapal pesiar bersih dari vektor adalah tanggung jawab kepala kesehatan pelabuhan, sambung Pandu. Kepala kesehatan pelabuhan bertugas memeriksa dan melihat kemungkinan adanya vektor-vektor yang berpotensi membawa penyakit. Salah satu vektor yang erat kaitannya dengan hantavirus adalah tikus.

Dengan kata lain, kesehatan manusia bukan satu-satunya fokus yang perlu diperhatikan. Kesehatan hewan juga tak kalah penting. Keduanya menjadi satu kesatuan yang disebut one health.

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang menular dari hewan ke manusia. Namun, penularan dari manusia ke manusia juga memungkinkan. Pasalnya, virus amat mudah bermutasi dan yang ditakutkan adalah virus itu bisa lompat lintas spesies, dari hewan ke manusia dan manusia tidak punya daya tahan terhadap virus yang ada di hewan.

“Kalau virus bisa berkembang biak di dalam tubuh manusia dan menularkan dari manusia ke manusia, nah itu potensial mewabah,” ujar Pandu.

Maka dari itu, penularan dari hewan ke manusia harus dicegah. “Asal kita mempunyai respons yang cepat. Banyak orang bilang ‘Oh kasusnya masih jauh, kejadiannya di sana’ artinya kita anggap remeh bahwa ada potensi yang bisa mengancam siapa pun dan di mana pun,” ujarnya.

Menkes Budi Koordinasi dengan WHO

Dalam acara yang sama, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin turut angkat bicara soal temuan kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik.

Menurutnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) untuk mendapatkan panduan skrining.

“Virus hanta ini kan virus yang lumayan berbahaya. Kita sudah koordinasi dengan WHO, kita minta guidance (panduan) untuk bisa lakukan skriningnya,” kata Budi saat ditemui di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Dari hasil koordinasi itu, Budi mendapat informasi bahwa kasus hantavirus di kapal itu belum menyebar ke mana-mana.

“Hasil masukan yang kita terima memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu, jadi belum nyebar kemana-mana,” ucapnya.

Siapkan Skrining Hantavirus

Kini, pihak Budi mempersiapkan skrining sebagai langkah pencegahan penularan atau penyebaran kasus di Indonesia.

“Yang kita lakukan, kita mempersiapkan agar kita punya skriningnya, apakah itu dalam bentuk rapid test kayak kita COVID dulu maupun reagen-reagen yang digunakan di mesin PCR,” katanya.

“Kita beruntung sekarang kan mesin PCR kita udah banyak. Jadi, untuk deteksi virus ini harusnya bisa lebih mudah, cuma dipastikan reagennya masih khusus. Jadi sekarang kita masih fokus ke surveillance supaya kalau ada apa-apa kita bisa cepat,” pungkas Budi.