Hantavirus adalah Penyakit dari Tikus, Ini Gejala dan Pengobatannya

Hantavirus tidak mudah menular. Tapi bila tertular angka kematian tinggi hingga 40 persen.

Diterbitkan 08 Mei 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hantavirus tengah menjadi sorotan internasional usai wabah di atas kapal pesiar MV Hondius yang tengah berlayar dari Argentina menuju Spanyol.

Sejauh ini, delapan kasus dilaporkan, lima diantaranya sudah terkonfirmasi hantavirus menurut laporan WHO pada 7 Mei 2026.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan bahwa strain hantavirus yang terdeteksi adalah virus Andes. "Ini bukan seperti COVID-19 tapi ini penyakit infeksi serius," tuturnya.

Kapal pesiar mewah ini mulai berlayar pada 1 April 2026 membawa 147 penumpang dan kru dari 28 negara. Seminggu pertama kondisi penumpang dan awak kapal tidak ada masalah. Namun, masalah kesehatan mulai terjadi sepekan kemudian.

"Kasus pertama terjadi pada seorang pria yang mengalami gejala pada tanggal 6 April dan meninggal di kapal pada tanggal 11 April,” kata Tedros.

Saat itu, tidak diambil sampel dari pria asal Belanda tersebut karena gejala mirip dengan penyakit pernapasan lain. "Tidak dicurigai sebagai hantavirus saat itu," kata Tedros.

Kemudian istri dari pria tersebut berlabuh di Pulau St Helena. Lalu, muncul gejala pada perempuan itu bahkan kondisinya sempat menurun saat perjalanan menuju Johannesburg pada 25 April 2026. Keesokan harinya, perempuan tersebut meninggal.

Pada 2 Mei, penumpang asal Jerman meninggal dunia di atas kapal. Ini adalah kematian kedua yang terjadi di atas kapal. Kepanikan mulai terjadi karena beberapa penumpang menunjukkan gejala serupa.

WHO pun mendapatkan notifikasi dari Britania Raya mengenai klaster penyakit pernapasan akut parah termasuk dua kematian dan satu penumpang sakit kritis di atas kapal berbendera Belanda itu.

Pada tanggal 2 Mei 2026, pengujian laboratorium di Afrika Selatan mengonfirmasi infeksi hantavirus pada satu pasien yang sakit kritis dan berada di perawatan intensif. Disusul pada tanggal 3 Mei, satu kematian tambahan dilaporkan.

Hantavirus adalah Penyakit yang Ditularkan dari Tikus

Kejadian tersebut pun ramai dibahas media internasional. Hantavirus pun menjadi sorotan. Epidemiolog Dicky Budiman mengatakan hantavirus bukanlah virus baru. Penyakit ini pertama kali teridentifikasi pada 1976 di Sungai Hantan di Korea Selatan.

"Hantavirus bukan penyakit baru, dia penyakit lama. Penyakit langka memang tapi serius juga tidak mudah menular," kata Dicky dalam pesan suara kepada Liputan6.com.

Penularan hantavirus umumnya dari tikus ke manusia. Seseorang bisa terinfeksi hantavirus melalui kontak dengan urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat (tikus) yang terinfeksi. Cara utama penularan adalah inhalasi (menghirup) aerosol partikel virus saat membersihkan area kotor atau tertutup, kontak langsung.

WHO menungkapkan bahwa strain hantavirus pada kasus di MV Hondius adalah virus Andes. Untuk diketahui hantavirus memiliki sekitar 40 strain.

Pakar penyakit menular dari University of Michigan Health, dokter Emily Abdoler mengatakan virus Andes adalah satu-satunya strain yang mampu menular antar manusia. Namun, penularan antar manusia bisa terjadi bila kontak dekat. Termasuk dapat menular melalui cairan tubuh termasuk pertukaran air liur dan kontak intim seperti mengutip laman NBC News.

Penularan Andes antar manusia hanya kecil sekitar 2-5 persen dari semua kasus akibat strain ini. Biasanya penularan terjadi pada mereka yang tinggal bersama, menjalin hubungan, atau petugas kesehatan yang merawat pasien yang sakit.

Gejala Hantavirus

Seseorang yang terinfeksi hantavirus pada awalnya tidak terdeteksi karena gejala samar.

“Seringkali dimulai dengan gejala yang tidak spesifik, artinya gejala tersebut dapat dialami orang dengan berbagai jenis infeksi dan penyakit, seperti sakit kepala, nyeri otot, sakit perut,” kata Abdoler.

Gejala ini cenderung terjadi dalam satu hingga tiga hari setelah timbulnya gejala. Kemudian dapat berkembang ke tahap yang lebih kritis di mana mengalami masalah pernapasan serta kolaps jantung.

“Ini menyebabkan kolaps sistem tubuh yang penting untuk bertahan hidup setiap detiknya,” kata Abdoler.

Infeksi hantavirus tergolong jarang terjadi tapi tingkat kematiannya bisa mencapai 40 persen. Angka kematian tinggi karena karena virus ini menyerang organ-organ vital seperti paru-paru dan ginjal yang berperan penting bagi kelangsungan hidup.

Dokter Pablo Vial yang mempelajari hantavirus di Institute of Sciences and Innovation in Medicine di Santiago, Chili, mengatakan, berdasarkan pengalamannya menangani pasien, strain Andes lebih sering menyerang pria muda yang sebelumnya sehat, terutama mereka yang berusia sekitar 30-an tahun.

Namun, tidak semua orang akan mengalami kondisi berat ketika terinfeksi virus ini. Sekitar 40 persen pasien mengalami infeksi ringan, sementara 60 persen lainnya berat yang dikenal sebagai sindrom kardiopulmoner. Kondisi ini dapat menyebabkan gagal napas hingga syok kardiovaskular. Secara keseluruhan, sekitar 30-40 persen pasien meninggal dunia, kata Vial.

Pengobatan Hantavirus

Abdoler mengatakan tidak ada pengobatan khusus atau spesifik pada pasien hantavirus. Pengobatan hantavirus adalah suportif. Misalnya bila pasien demam diberikan obat demam atau cairan infus untuk membantu dehidrasi.

Pasien terkadang memerlukan ventilator untuk mendukung pernapasan, atau bahkan menggunakan oksigenasi membran ekstrakorporeal (ECMO), sebuah mesin untuk membantu jantung dan ginjal yang bermasalah. 

“Itu perawatan suportif, yaitu mendukung oksigenasi dan mendukung sirkulasi,” kata Abdoler.