5 Fakta tentang Monkey Malaria, Penyakit Zoonotik yang Kasusnya Ada di Indonesia

Monkey malaria picu 357 kasus di Malaysia dengan satu kematian, begini lima fakta soal malaria knowlesi.

Diterbitkan 16 Mei 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Monkey malaria adalah penyakit malaria yang ditularkan dari monyet ke manusia. Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Jaya mencatat ada 30 laporan kasus monkey malaria dari awal tahun hingga April 2026. 

Masih banyak masyarakat awam yang tidak tahu tentang monkey malaria. Berikut fakta tentang monkey malaria alias malaria knowlesi seperti disampaikan dokter anak konsultan infeksi dan penyakit tropis, Inke Nadia Diniyanti Lubis.

1. Monkey Malaria adalah Penyakit Zoonosis

Malaria knowlesi adalah penyakit zoonosis atau ditularkan dari hewan ke manusia dalam hal ini dari monyet ekor panjang dan beruk ke manusia lewat gigitan nyamuk Anopheles. 

"Malaria knowlesi adalah malaria zoonotik disebabkan oleh parasit Plasmodium knowlesi (P. knowlesi) yang alaminya menginfeksi monyet ekor panjang dan beruk, lalu menular ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles tertentu," kata Inke dalam diskusi secara daring (dalam jaringan) bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Rabu, 13 Mei 2026.

Hadirnya P. knowlesi menambah daftar jenis plasmodium malaria yang awalnya empat menjadi lima.

"WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) mengakui P. knowlesi sebagai spesies kelima Plasmodium yang menginfeksi manusia sejak laporan wabah di Sarawak pada 2004," tambahnya.

Empat jenis sebelumnya menular dari manusia yang terinfeksi ke manusia lain lewat gigitan nyamuk. Artinya, nyamuk terlebih dahulu menggigit manusia terinfeksi, kemudian menggigit manusia lain.

Sementara malaria knowlesi menular dari monyet ekor panjang atau beruk yang terinfeksi. Artinya, nyamuk terlebih dahulu menggigit monyet, kemudian menggigit manusia hingga terinfeksi.

2. Pertama Kali Teridentifikasi pada 2004 di Malaysia

 

Malaysia melaporkan 357 kasus malaria knowlesi selama 2026. Bahkan, ada satu kasus kematian yang dilaporkan dari Sabah.

"Kenapa ini menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Malaysia? Karena Malaysia itu sudah sangat baik dalam mengontrol malaria yang ditularkan oleh manusia," jelas Inke.

Seperti diketahui, sebelum ditemukannya malaria knowlesi, ada empat jenis malaria yang menular dari manusia ke manusia lewat vektor nyamuk, yakni:

  • Plasmodium falciparum (P. falciparum) yang dikenal paling mematikan
  • P. vivax yang dikenal paling tersebar
  • P. ovale yang lebih jarang ditemukan
  • P. malariae dikenal dengan distribusinya yang luas.

Keempat jenis malaria ini sudah ditangani dengan baik di Malaysia hingga suatu ketika ada peningkatan kasus malaria lagi di negara tersebut. Ketika diteliti, penyebab kenaikan kasus ini disebabkan parasit plasmodium yang mirip dengan P. malariae.

Namun, P. malariae dikenal sebagai malaria dengan gejala klinis yang ringan, sementara saat kasus itu terjadi, gejala-gejala yang timbul cenderung berat.

"Sehingga dilakukanlah usaha untuk betul-betul mengidentifikasi dan pertama kalinya di tahun 2004 itu dilakukan identifikasi dengan menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction). Ternyata secara molekular ini adalah jenis yang sangat berbeda dari malaria yang sudah dikenal selama ini," ujar Inke.

Dari peristiwa inilah ditemukan malaria knowlesi yang belakangan disebut sebagai monkey malaria.

3. Monkey Malaria Sudah Ada di Indonesia

Di Indonesia, kasus malaria knowlesi ditemukan di beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya Aceh. Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Jaya melaporkan adanya 30 kasus penyakit malaria yang ditularkan dari monyet kepada manusia lewat vektor nyamuk di wilayah setempat dalam kurun waktu hingga April 2026.

Selain Aceh, beberapa daerah lain yang sempat melaporkan kasus serupa yakni:

Kalimantan

Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat

Sumatera

Aceh, Sumatera Utara (sekitar Taman Nasional Batang Gadis), Sumatera Selatan

Sulawesi

Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan

Lainnya

Bangka, Nias, dan area lain dengan habitat macaca.

Pola sebaran ini bergantung pada habitat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), beruk (Macaca nemestrina), dan vektor nyamuk Anopheles kelompok leucosphyrus. Banyak kasus terbatas pada daerah pinggir hutan.

“Angka resmi cenderung lebih rendah dari kondisi sesungguhnya. Banyak kasus knowlesi tercatat sebagai Plasmodium malariae (P. malariae) karena keterbatasan diagnostik,” kata Inke.

4. Istilah Monkey Malaria Kurang Tepat

Menurut Inke, istilah monkey malaria kurang tepat karena bisa memicu stigma pada semua jenis monyet.

“Kita harus berhati-hati dengan penggunaan istilah. Kita bisa menyebutnya malaria knowlesi atau malaria zoonotik dan menghindari penggunaan istilah malaria monyet (monkey malaria),” kata Inke.

Bukan tanpa alasan, penggunaan istilah malaria monyet bisa memicu stigma pada semua jenis monyet. Menurut Inke, hanya ada dua jenis monyet yang bisa menularkan malaria knowlesi, yakni monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk (Macaca nemestrina).

Kedua monyet ini juga belum tentu menularkan malaria karena yang menularkan hanyalah yang terinfeksi Plasmodium knowlesi secara alami. Penularan juga tergantung pada ada atau tidaknya nyamuk Anopheles kelompok leucosphyrus.

“Penggunaan istilah malaria monyet bisa menyebabkan stigma karena tidak semua monyet (menularkan malaria) dan jenis monyet yang sama juga belum tentu bisa menularkan ke kita. Dan kita tidak ingin menimbulkan isu-isu untuk mengeliminasi monyet karena dianggap memberikan risiko penularan kepada manusia,” jelas Inke.

5. Monkey Malaria Bisa Disembuhkan

Kabar baiknya, malaria knowlesi bisa disembuhkan, tapi penanganannya harus cepat.

“Malaria knowlesi masih bisa disembuhkan jika cepat ditangani. Pemberian obatnya sama dengan jenis obat malaria lain yang diberikan di Indonesia yakni Artemisinin-based Combination Therapy (ACT),” kata Inke.

“Tetapi tentunya ini harus segera ditangani, lebih baik ketika terjadi diagnosis maka pemberian obat itu diberikan dalam 48 jam untuk mencegah jangan sampai terjadi infeksi yang berat,” tambahnya.

Inke menjelaskan, deteksi cepat adalah kunci dan sebagian besar pasien dapat pulih bila terapi dimulai pada awal sakit. Dia mengingatkan untuk menghindari pengobatan sendiri dengan antibiotik, karena malaria tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik, melainkan harus dengan anti malaria.

Masyarakat juga diimbau untuk berhenti menganggap setiap gejala demam adalah demam berdarah dengue (DBD) atau flu, karena bisa saja ini merupakan gejala malaria knowlesi terutama jika ada riwayat pergi ke hutan. Pemeriksaan pun tidak boleh ditunda-tunda jika muncul gejala setelah pulang dari hutan.

“Untuk malaria knowlesi ini memang kita belum memiliki data yang cukup, kita belum mengetahui obat mana yang efektif untuk melakukan pencegahan. Jadi, rekomendasi untuk meminum obat-obat profilaksis atau obat-obat pencegah saat ini belum direkomendasikan,” jelas Inke.