Wamenkes Benny: Cetak Generasi Unggul Lebih Mahal dari Bangun Tol

Tingginya konsumsi rokok dalam pengeluaran rumah tangga menghambat upaya meningkatkan kualitas kesehatan.

Diterbitkan 22 Mei 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Surabaya - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan konsumsi rokok yang tinggi masih menjadi tantangan dalam upaya mencetak generasi unggul di Indonesia.

Benny mengungkapkan bahwa Indonesia sudah memiliki program pengentasan stunting senilai triliunan rupiah. Namun, program ini menghadapi tantangan besar dari perilaku konsumsi rokok yang tinggi. Ia melihat adanya kontradiksi nyata saat anggaran negara teralokasikan untuk gizi tapi pengeluaran rumah tangga justru dominan untuk belanja tembakau. 

“Mencetak manusia unggul itu jauh lebih mahal daripada membangun jalan tol Jakarta-Surabaya. Kita harus sadar, tugas negara adalah memastikan anggaran ini tepat sasaran untuk kecerdasan bangsa, bukan habis menjadi asap,” katanya dalam Conference on Tobacco Control (ICTOH) 2026 bertema Ungkap Adiksi Tembakau dan Nikotin untuk Indonesia Sehat di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya pada Kamis, 21 Mei 2026.

Tantangan tak cuma pada rokok konvensional, tapi juga vape atau rokok elektronik. Benny melihat saat ini tren vape yang juga menjadi medium peredaran narkotika. Terkait ini, ia telah berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN).

“Saya dan Kepala BNN akan terus mendorong pemeriksaan ketat dan regulasi yang tegas agar anak-anak muda kita tidak terjebak adiksi ganda. Jangan sampai mereka mau sehat dengan berolahraga, tapi justru terpapar narkoba lewat liquid vape yang mereka gunakan,” tegas pria yang juga dokter spesialis paru ini mengutip keterangan tertulis Unair.

Ancaman rokok tentu mengganggu kualitas generasi muda Indonesia, terutama ketika adiksi tersebut menyusup melalui tren gaya hidup modern yang terlihat sehat.”

 

Singgung Petani Tembakau

Di kesempatan itu, Benny menekankan bahwa pengendalian tembakau tidak boleh mematikan mata pencaharian para petani. Melainkan harus berbarengan dengan solusi transisi ekonomi yang berkeadilan.

Ia pun berkomitmen untuk menjadi jembatan antara aspirasi para petani tembakau dengan kebijakan kementerian terkait. Agar proses pengalihan komoditas tetap menjamin kesejahteraan hidup mereka di masa depan.

“Negara tidak akan meninggalkan petani tembakau sendirian. Kuncinya adalah komitmen politik. Kita benahi kesehatan bangsanya, tapi kita pastikan perut para petaninya tetap kenyang,” pungkasnya.