Wamenkes Benny: Keselamatan Pasien Jadi Pilar Penting Pelayanan JKN

Benny mengungkapkan salah satu pilar penting dalam pelayanan JKN adalah keselamatan pasien.

Diterbitkan 22 Mei 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menegaskan keselamatan pasien (patient safety) menjadi salah satu pilar utama yang harus dijaga dalam penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). 

“Dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan empat hal: akses pelayanan bagi masyarakat, mutu pelayanan kesehatan, keberlanjutan pembiayaan, dan keselamatan pasien atau patient safety,” ujar Wamenkes Benny di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, pada Rabu, 20 Mei 2026 dalam acara bersama BPJS Kesehatan. 

Ia menjelaskan, keberhasilan pelayanan kesehatan tidak boleh diukur semata dari banyaknya tindakan medis, melainkan ketepatan tindakan. 

“Keberhasilan pelayanan kesehatan bukan semata-mata melakukan lebih banyak tindakan, melainkan memberikan tindakan yang tepat kepada pasien yang tepat, pada waktu yang tepat,” tegasnya.

Di kesempatan itu, Benny mengungkapkan pemerintah tengah berupaya memperkuat layanan penyakit jantung hingga ke daerah. Namun, menurut dia, pemenuhan fasilitas tersebut tidak bisa dilakukan secara instan karena perlu sumber daya manusia (SDM) dan pembiayaan yang besar.

Ia beban pembiayaan penyakit katastropik yang ditanggung BPJS Kesehatan juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Benny, biaya penanganan penyakit jantung yang dibayarkan BPJS Kesehatan pada tahun lalu mencapai lebih dari Rp 17 triliun. Sementara biaya untuk layanan cuci darah mencapai lebih dari Rp 13 triliun.

“Padahal pada 2020, biaya penyakit jantung baru sekitar Rp10 triliun, sedangkan cuci darah sekitar Rp2,2 triliun. Sekarang biaya cuci darah sudah mencapai Rp13,4 triliun,” ujarnya.

Kebanyakan Masyarakat Berobat Saat Berat

Benny menilai tingginya biaya tersebut dipengaruhi oleh banyaknya masyarakat yang baru datang berobat ketika kondisi penyakit sudah berat.

“Karena masyarakat kita banyak yang datang pada saat sudah sakit berat,” katanya.

Karena itu, pemerintah mendorong program Cek Kesehatan Gratis untuk menemukan kasus penyakit lebih dini sehingga masyarakat tidak sampai mengalami serangan jantung, stroke, maupun gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah.

“Maka program dari Presiden Prabowo adalah melakukan cek kesehatan gratis supaya menemukan kasus-kasus di awal sehingga tidak jatuh ke serangan jantung, cuci darah, ataupun stroke. Kita mencegah itu,” ujar Benny.

Ia menambahkan, dampak program deteksi dini tersebut diperkirakan baru akan terlihat dalam dua hingga tiga tahun mendatang.

Selain memperkuat deteksi dini, Kementerian Kesehatan juga terus menyusun regulasi pelayanan kesehatan dengan mempertimbangkan kemampuan pembiayaan.

“Penyakit-penyakit yang harus ditolong wajib ditolong. Karena itu penting koordinasi antara Kemenkes, BPJS Kesehatan, fasilitas kesehatan, dan kolegium dokter agar pelayanan tetap berjalan dan pembiayaan tetap terjaga,” katanya.