Fatty Liver dan Hepatitis Bisa Picu Kanker Hati, Kerap Terdeteksi Stadium Lanjut

Pada tahap awal, kanker hati umumnya tidak menimbulkan gejala yang spesifik.

Diterbitkan 27 Mei 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kanker hati merupakan salah satu kanker dengan tingkat kematian yang tinggi karena kerap terdeteksi sudah stadium lanjut. 

"Penyakit ini bermula dari sel-sel yang berasal dari hati. Sayangnya, kanker ini menjadi salah satu kanker dengan tingkat kematian yang tinggi karena kerap terdiagnosa saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut," ungkap dokter spesialis radiologi intervensi Sugianto Santoso dari Rumah Sakit Mandaya Royal Puri.

Sugianto menerangkan banyak faktor yang bisa memicu munculnya kanker pada organ hati. Yang sering terjadi karena adanya infeksi hepatitis B dan hepatitis C kronis. Lalu, adanya sirosis atau adanya peradangan lanjut sehingga membuat jaringan rusak.

Lalu, perlemakan hati atau dikenal dengam fatty liver juga menjadi salah satu faktor risiko munculnya kanker hati. Serta gaya hidup tak sehat yang dilakukan berulang kali dalam jangka waktu yang panjang. "Seperti mengonsumsi alkohol secara berlebihan, juga adanya riwayat keluarga," ujarnya.

Sayangnya, pada tahap awal, kanker hati umumnya tidak menimbulkan gejala yang spesifik. Maka sering luput terdeteksi dan baru dirasakan pada saat stadium atau fase lanjut.

"Seiring perkembangan penyakit, pasien dapat mengalami keluhan seperti nyeri di perut kanan atas, penurunan berat badan yang signifikan, pembesaran perut akibat penumpukan cairan, hingga penurunan fungsi hati yang berdampak pada kondisi tubuh secara keseluruhan," tutur Sugianto pada Senin, 25 Mei 2026 saat peluncuran layanan Selective Internal Radiation Therapy Yttrium-90 (SIRT Y-90), di Rumah Sakit Mandaya Royal Puri, Tangerang.

Untuk itu, dia menyarankan agar masyarakat terlebih memiliki faktor risiko, untuk rajin melakukan medical check up ke rumah sakit terdekat. Jangan sampai terdeteksi pada saat sudah stadium lanjut.

 

Pengobatan Kanker Hati

Pilihan terapi kanker hati ditentukan berdasarkan stadium kanker, ukuran dan lokasi tumor, serta kondisi fungsi hati pasien. Pada beberapa kasus stadium awal, operasi pengangkatan tumor maupun transplantasi hati masih dapat dilakukan sebagai terapi utama.

"Tidak sedikit pasien yang baru terdiagnosis ketika tumor sudah berukuran besar, jumlahnya lebih dari satu, atau berada dekat pembuluh darah besar sehingga tindakan operasi memiliki risiko tinggi," katanya. 

Salah satu terapi kanker minimal invasif yang diterapkan di rumah sakit tersebut adalah Selective Internal Radiation Therapy Yttrium-90 (SIRT Y-90). SIRT Y-90 dapat digunakan pada pasien kanker hati stadium awal maupun stadium lanjut, baik kanker hati primer maupun kanker yang telah menyebar (metastasis) ke hati.

"SIRT Y-90 merupakan terapi kanker hati yang menggunakan zat radioaktif Yttrium-90 untuk menghantarkan radiasi langsung ke inti tumor melalui aliran darah. Terapi ini memungkinkan radiasi diarahkan lebih presisi ke tumor sehingga sel kanker dapat dihancurkan secara maksimal dengan risiko kerusakan lebih minimal pada jaringan hati sehat di sekitarnya," kata Assoc Profesor Too Chow Wei yang merupakan Senior Consultant dari Departemen Radiologi Intervensi Singapore General Hospital di kesempatan itu. 

 

Proses Terapi dengan Radiasi

Sebelum prosedur dilakukan, pasien akan menjalani pemeriksaan pencitraan untuk memetakan pembuluh darah dan menentukan jalur terbaik menuju tumor. Lalu, dokter memasukkan kateter melalui pembuluh darah di area paha dekat selangkangan untuk menyalurkan partikel Y-90 langsung ke tumor hati, yang kemudian melepaskan radiasi dosis tinggi dalam jarak dekat.

Kehadiran SIRT Y-90 di rumah sakit tersebut demi membantu menangani pasien kanker seoptimal mungkin seperti disampaikan Co-founder & President Director Mandaya Hospital Group, Dr. Ben Widaja, MBChB(UK).

“Semuanya kami harapkan dan maksimalkan untuk para pejuang kanker hati. Semoga Mandaya bisa membantu sebanyak-banyaknya pasien kanker hati untuk penyembuhan mereka," kata Ben.

Â