Fatty Liver Kerap Tidak Disadari, Orang dengan Obesitas Perlu Skrining Dini

Fatty liver atau perlemakan hati terjadi ketika terdapat penumpukan lemak berlebih di hati. Kondisi ini kerap berkembang secara diam-diam.

Diterbitkan 13 Juni 2026, 12:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Fatty liver atau perlemakan hati merupakan salah satu kondisi kesehatan sering kali berkembang diam-diam tanpa gejala yang jelas. Biasanya orang dengan kondisi obesitas yang mengalami ini.

"Salah satu pemicu utama dibalik kondisi ini adalah obesitas, yang kini menjadi tantangan kesehatan serius di Tanah Air. Seiring meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia, risiko terjadinya fatty liver dan berbagai penyakit kronis lainnya juga semakin tinggi," kata Nadia di Jakarta beberapa hari lalu. 

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa usia di atas 18 tahun mencapai 23,4 persen. Lalu, obesitas sentral pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 36,8 persen.

"Angka ini menunjukkan pentingnya perhatian bersama terhadap obesitas sebagai salah satu faktor hulu dari berbagai penyakit kronis, termasuk penyakit perlemakan hati," katanya.

Nadia menjelaskan perlemakan hati terjadi ketika terdapat penumpukan lemak berlebih di hati. Pada kondisi yang berkaitan dengan gangguan metabolik, penyakit ini dikenal sebagai penyakit hati berlemak terkait gangguan metabolik (Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease atau MASLD).

Seseorang yang obesitas dapat menyebabkan gangguan metabolik dan penumpukan lemak di berbagai organ, termasuk hati. Karena itu, obesitas harus menjadi perhatian agar tidak menyebabkan atau memperberat MASLD.

Pada sebagian pasien, MASLD dapat berkembang menjadi bentuk lebih berat dengan peradangan/kerusakan sel hati, yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko fibrosis, sirosis, hingga kanker hati mengutip Antara.

 

Menangani Obesitas

Berbicara mengenai obesitas, kondisi ini merupakan masalah medis kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif.

"Karena obesitas merupakan salah satu faktor hulu yang berperan dalam MASLD, pengelolaan berat badan menjadi bagian penting dalam pendekatan pencegahan dan tata laksana risiko metabolik," kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, metabolik, dan diabetes Dicky Levenus Tahapary di kesempatan yang sama. 

Kelebihan lemak tubuh, terutama lemak viseral, dapat memicu resistensi insulin, inflamasi, dan gangguan metabolik yang berdampak pada berbagai organ, termasuk hati, jantung, dan pembuluh darah. Maka dari itu tujuan tata laksana obesitas bukan hanya menurunkan angka berat badan, tetapi juga mendukung penurunan berat badan yang berkualitas dan kesehatan metabolik jangka panjang. 

Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Nordisk Indonesia Riyanny Meisha Tarliman menyatakan komitmen pihaknya untuk mendukung penanganan obesitas sebagai penyakit kronis yang berkaitan dengan berbagai komplikasi metabolik, seperti melalui inovasi dan edukasi.

"Melalui inovasi GLP-1 RA untuk manajemen berat badan serta edukasi melalui situs NovoCare.id, kami berharap semakin banyak masyarakat dapat memahami risiko obesitas, termasuk kaitannya dengan perlemakan hati, dan mengambil langkah proaktif untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” ujar Riyanny.