Risiko Stroke Ternyata Bisa Datang dari Kebiasaan Sehari-hari

Dokter ungkap kebiasaan sehari-hari yang ternyata bisa memicu risiko stroke.

Diterbitkan 23 Juni 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K) menjelaskan bahwa stroke merupakan penyakit yang berkaitan erat dengan gangguan pembuluh darah di otak.

Menurutnya, stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu akibat masalah pada pembuluh darah. Kondisi ini membuat berbagai faktor risiko dapat memicu terjadinya stroke.

"Ketika stroke ini terjadi, memang ada banyak faktor risiko yang terlibat di sana. Ada darah tinggi, diabetes, sakit jantung, dan faktor-faktor yang tidak bisa dikontrol, misalnya ada keturunan," ujar Sena dikutip dari Antara pada Senin (22/6/2026)

Apa penyebab orang terkena stroke? Dia, menjelaskan, stroke tidak berdiri sendiri, melainkan sering dipicu oleh kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya, seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.

Selain itu, terdapat faktor lain yang juga berperan, seperti:

  • Riwayat keluarga atau faktor genetik
  • Kelainan pembuluh darah
  • Gangguan kekentalan darah

Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami stroke.

Apakah riwayat keluarga meningkatkan risiko stroke? Sena menegaskan bahwa faktor keturunan memiliki pengaruh signifikan.

Sejumlah studi menunjukkan, risiko stroke bisa meningkat hingga sekitar 20 persen pada orang yang memiliki riwayat keluarga dengan stroke.

"Dan itu menunjukkan bahwa ketika ada orang tua yang mengalami stroke, maka penting sekali untuk keturunannya, anak-anaknya itu, untuk menjaga pola hidupnya, mendeteksi dini faktor risikonya," tambahnya.

 

Kasus Stroke di Indonesia

Dia juga menyoroti meningkatnya kasus stroke dalam beberapa dekade terakhir. Jika dulu disebut '1 dari 6 orang berisiko stroke', kini bahkan bisa mencapai '1 dari 4 orang'.

Namun, menurutnya, peningkatan ini juga dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat yang lebih tinggi dalam memeriksakan kesehatan, sehingga kasus lebih banyak terdeteksi.

Di sisi lain, perubahan gaya hidup turut menjadi pemicu utama. Pola makan yang bergeser dari makanan alami ke makanan ultra-proses, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok menjadi faktor yang meningkatkan risiko stroke.

"Karena jarang olahraga, merokok, mengonsumsi makanan yang tidak sehat, itu yang membuat berisiko. Ditambah stres dari kemajuan sosial media juga tidak bisa dipungkiri," pungkasnya.