Kunci Percepat Eliminasi TB Ternyata Bukan Sekadar Pengobatan

Eliminasi TB nasional dipercepat lewat deteksi dini, distribusi obat, dan layanan kesehatan terpadu.

Diterbitkan 15 Juli 2026, 12:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Upaya eliminasi TB nasional terus dipercepat sebagai salah satu prioritas kesehatan pemerintah. Untuk mencapai target eliminasi tuberkulosis (TB) pada 2030, dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, fasilitas layanan kesehatan, dan industri farmasi dalam membangun sistem penanganan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Berdasarkan Global TB Report 2024 dan data Kementerian Kesehatan tahun 2025, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TB tertinggi kedua di dunia setelah India. Diperkirakan terdapat sekitar 1,09 juta kasus TB dengan 125 ribu kematian setiap tahun. Sementara itu, sepanjang 2024 sebanyak 885 ribu kasus berhasil ditemukan dan dilaporkan.

Melihat tingginya angka tersebut, penanganan TB tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Dibutuhkan strategi yang mencakup deteksi dini, ketersediaan obat, distribusi logistik, hingga pendampingan pasien agar pengobatan dapat diselesaikan sesuai ketentuan.

Direktur Komersial PT Kimia Farma (Persero) Tbk, Hanadi Setiarto, mengatakan pihaknya telah menyiapkan ekosistem kesehatan yang terintegrasi untuk mendukung target eliminasi TB nasional pada 2030.

"KAEF memiliki ekosistem terintegrasi end-to-end dari produksi, distribusi, hingga layanan kesehatan untuk mendukung kesehatan nasional, termasuk eliminasi TB di tahun 2030," ujar Hanadi dalam Forum Nasional TB 2026: National Policy and Implementation of the TB Program.

Menurut Hanadi, dukungan tersebut mencakup kemampuan memproduksi bahan baku dan obat jadi, jaringan distribusi nasional, hingga layanan kesehatan yang saling terhubung sehingga penanganan pasien dapat berlangsung lebih efektif.

Deteksi Dini Jadi Langkah Awal

Salah satu strategi utama eliminasi TB nasional adalah memperkuat deteksi dini agar pasien segera memperoleh diagnosis dan memulai pengobatan. Untuk mendukung hal tersebut, tersedia fasilitas diagnostik seperti alat uji TB LAMP dan skrining berbasis X-Ray yang dapat mempercepat proses penemuan kasus.

Semakin cepat TB terdeteksi, semakin besar peluang pasien sembuh sekaligus menekan risiko penularan di masyarakat. Di sisi pengobatan, tersedia berbagai pilihan terapi untuk TB sensitif obat (DS-TB) maupun TB resisten obat (DR-TB).

Sejumlah obat telah dikembangkan dalam bentuk Fixed Dose Combination (FDC) yang dirancang bagi pasien dewasa maupun anak agar pengobatan lebih praktis dan meningkatkan kepatuhan terapi.

Selain itu, inovasi terapi juga terus dilakukan, termasuk kesiapan produksi obat anti-TB seperti Moxifloxacin guna mendukung penerapan regimen pengobatan yang lebih efektif di masa mendatang.

 

Distribusi dan Layanan Terpadu

Keberhasilan eliminasi TB nasional juga bergantung pada distribusi obat yang merata hingga ke seluruh Indonesia, termasuk wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Jaringan distribusi yang luas diharapkan mampu menjaga ketersediaan obat dan logistik program TB secara berkesinambungan.

Di tingkat layanan kesehatan, dukungan diberikan melalui jaringan apotek, klinik, dan laboratorium medis yang berperan dalam meningkatkan kepatuhan pasien menjalani terapi, mengelola rujukan, serta mengintegrasikan data pasien secara real-time ke Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Kementerian Kesehatan.

Direktur Utama PT Kimia Farma (Persero) Tbk, Djagad, menegaskan bahwa pendekatan terintegrasi menjadi salah satu kunci untuk mencapai target eliminasi TB di Indonesia.

"Integrasi end-to-end value chain ini adalah kontribusi KAEF sebagai mitra strategis pemerintah untuk mewujudkan target eliminasi TB pada tahun 2030 dan bebas TB pada tahun 2050," kata Djagad.

Melalui penguatan deteksi dini, inovasi pengobatan, distribusi yang merata, serta layanan kesehatan yang saling terhubung, target eliminasi TB nasional pada 2030 diharapkan semakin realistis untuk dicapai sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia bebas TB pada 2050.