4 Fakta Baru tentang Efektivitas Plester Kinesio Nyeri Sendi

Jurnal British Medical Publisher mengungkap fakta baru soal efektivitas penggunaan plester kinesio.

Diterbitkan 22 Juni 2026, 10:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa atlet kerap terlihat menggunakan plester warna-warni di bagian tubuhnya, ini adalah plester kinesio atau kinesio taping. Plester elastis ini dirancang untuk membatasi gerakan sendi yang nyeri tanpa membuatnya kaku sepenuhnya.

Namun, studi analisis besar yang diterbitkan oleh jurnal British Medical Publisher (BMJ) Evidence-Based Medicine (Maret 2026) mengungkapkan fakta baru, yakni:

Hanya Efektif Jangka Pendek

Penelitian terhadap lebih dari 15.000 peserta menunjukkan bahwa plester Kinesio hanya mampu mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi sendi secara ringan dan dalam jangka waktu singkat.

Tidak Memberi Efek Penyembuhan

Untuk jangka waktu yang lebih lama, plester ini hampir tidak memberikan efek penyembuhan atau pengurangan rasa sakit yang berarti.

Risiko Efek Samping

Penggunaan yang terlalu sering atau tidak tepat dapat memicu efek samping berupa iritasi kulit, kemerahan, dan rasa gatal.

Bukan Solusi Utama

Plester Kinesio boleh digunakan sebagai alat bantu darurat atau pereda nyeri sementara, tapi bukan solusi utama untuk menyembuhkan gangguan otot dan sendi kronis.

“Jika plester Kinesio hanya memberikan manfaat singkat, maka latihan beban atau latihan penguatan otot (resistance training) adalah jawaban jangka panjangnya,” kata dokter spesialis ortopedi dan traumatologi, konsultan cedera olahraga, M. Alvin Shiddieqy Pohan dari RS EMC Tangerang, mengutip laman EMC, Senin (22/6/2026).

“Sayangnya, banyak orang dewasa enggan melakukannya karena membayangkan harus pergi ke gym setiap hari dan mengangkat beban yang sangat berat,” imbuhnya.

Latihan Beban dan Otot Tak Hanya untuk Atlet

Latihan beban dan otot tak hanya penting dilakukan oleh para atlet, semua orang juga perlu melakukannya demi kesehatan tubuh.

Faktanya, panduan resmi dari American College of Sports Medicine (ACSM) menyatakan bahwa manfaat kesehatan terbesar justru didapatkan oleh orang yang beralih dari tidak berolahraga sama sekali menjadi mulai melakukan latihan penguatan sederhana.

Secara alami, tubuh manusia akan kehilangan massa dan kekuatan otot seiring bertambahnya usia. Jika dibiarkan tanpa latihan, penurunan kondisi fisik akan terjadi secara drastis, seperti:

  • Kesulitan berdiri dari kursi atau menaiki tangga
  • Gangguan keseimbangan yang meningkatkan risiko terjatuh.
  • Nyeri sendi kronis dan pengeroposan tulang (osteoporosis).

“Latihan beban berfungsi untuk membangun kembali massa otot, memperkuat kepadatan tulang, dan menjaga sendi tetap stabil serta bebas nyeri,” ujar Alvin.

Latihan Penguatan Otot di Rumah

Berdasarkan rekomendasi medis ACSM, masyarakat disarankan melakukan latihan penguatan otot minimal dua kali seminggu dengan melibatkan seluruh kelompok otot utama.

“Anda tidak harus menggunakan alat gym, memanfaatkan berat badan sendiri (bodyweight) atau tali elastis (resistance band) di rumah sudah sangat efektif,” kata dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, Sagung Adi Sresti Mahayana dalam keterangan yang sama.

Berikut adalah pola gerakan dasar yang seimbang untuk melatih otot tubuh:

  • Mendorong tubuh bagian bawah seperti paha depan, paha belakang, dan bokong dengan gerakan squat (jongkok-berdiri) dan lunge.
  • Mendorong tubuh bagian atas termasuk dada dan lengan bagian belakang (triceps) dengan gerakan push-up, bisa dimulai dengan bertumpu pada dinding atau meja jika bertumpu pada lantai terasa terlalu berat.
  • Menarik tubuh bagian atas termasuk otot-otot punggung dan postur dengan gerakan mendayung (rowing) menggunakan tali elastis (resistance band)
  • Penguatan inti (core) yakni perut, punggung bawah, dan panggul dengan plank dan gerakan bird dog.

“Agar otot terus berkembang dan menjadi lebih kuat, Anda harus menerapkan prinsip beban progresif, yaitu meningkatkan tantangan secara bertahap,” kata Sagung.

Jika menggunakan beban ringan dan sudah bisa melakukan 3 set dengan 10 kali pengulangan secara sangat mudah, saatnya meningkatkan berat beban sedikit dan menurunkan jumlah pengulangannya. Secara bertahap, tingkatkan lagi jumlah pengulangannya hingga tubuh beradaptasi menjadi lebih kuat.