Penyakit Jantung Punya Banyak Pilihan Obat, Kapan Masing-Masing Digunakan?

Penyakit jantung punya beragam obat. Kenali jenis obat dan kapan digunakan sesuai kondisi pasien.

Diterbitkan 22 Juli 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit jantung tidak dapat diobati dengan satu jenis obat. Pengobatan akan disesuaikan dengan jenis penyakit, tingkat keparahan, serta kondisi kesehatan masing-masing pasien. Itulah sebabnya penggunaan obat penyakit jantung harus berdasarkan hasil pemeriksaan dokter spesialis jantung.

Hal ini menjadi perhatian setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), nanik s deyang, mengundurkan diri untuk menjalani pengobatan jantung di luar negeri. Meski belum diketahui jenis penyakit jantung yang dideritanya, kasus tersebut menjadi pengingat bahwa penyakit jantung memiliki banyak jenis dan memerlukan penanganan yang berbeda-beda.

Mengutip Primaya Hospital, dokter akan menentukan jenis pengobatan setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, mulai dari wawancara riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, elektrokardiografi (EKG), ekokardiografi, hingga pemeriksaan penunjang lainnya.

"Mengobati penyakit jantung tidak bisa disamaratakan. Pemilihan obat harus disesuaikan dengan jenis penyakit, kondisi pasien, dan faktor risiko yang dimiliki," tulis Primaya Hospital.

Jenis Obat Penyakit Jantung

Salah satu obat yang paling sering diresepkan adalah statin, yaitu obat penurun kolesterol yang membantu mengurangi kadar kolesterol jahat (LDL). Dengan begitu, pembentukan plak di pembuluh darah dapat diperlambat sehingga risiko penyumbatan berkurang.

Dokter juga dapat meresepkan antikoagulan atau obat pengencer darah untuk mencegah terbentuknya bekuan darah yang dapat menyumbat arteri maupun vena. Pada kondisi tertentu, pasien juga membutuhkan obat antiplatelet yang berfungsi mencegah keping darah saling menggumpal.

Bagi pasien dengan tekanan darah tinggi atau denyut jantung yang terlalu cepat, beta blocker menjadi salah satu pilihan terapi. Obat ini bekerja menurunkan tekanan darah, memperlambat denyut jantung, serta mengurangi beban kerja jantung sehingga kebutuhan oksigen jantung ikut berkurang.

Sementara itu, calcium channel blocker berfungsi melebarkan pembuluh darah sehingga aliran darah ke jantung menjadi lebih lancar. Obat ini juga dapat membantu mengendalikan tekanan darah dan denyut jantung, bahkan pada beberapa pasien digunakan bersamaan dengan beta blocker.

Untuk pasien yang mengalami nyeri dada (angina) akibat penyakit jantung koroner, dokter biasanya memberikan nitrogliserin. Obat ini membantu melebarkan pembuluh darah sehingga suplai darah ke otot jantung meningkat dan keluhan nyeri dada dapat mereda.

Pilihan lainnya adalah ACE inhibitor, yaitu obat yang berfungsi menurunkan tekanan darah sekaligus meringankan kerja jantung. Obat ini kerap diberikan kepada pasien dengan gagal jantung atau fungsi jantung yang mulai menurun.

"Pengobatan penyakit jantung bertujuan mengurangi gejala, mencegah komplikasi, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Karena itu, pasien perlu rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter."

 

Tidak Semua Pasien Cukup dengan Obat

Meski obat menjadi terapi utama, tidak semua kasus penyakit jantung dapat ditangani hanya dengan pengobatan. Pada kondisi tertentu, pasien memerlukan tindakan medis seperti kateterisasi jantung, angioplasti dengan pemasangan stent, operasi perbaikan atau penggantian katup jantung, pemasangan alat pacu jantung, hingga transplantasi jantung.

Oleh sebab itu, masyarakat diimbau tidak mengonsumsi obat penyakit jantung tanpa resep dokter. Setiap jenis obat memiliki indikasi, dosis, serta efek samping yang berbeda sehingga harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Apabila muncul gejala seperti nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar, atau mudah lelah, segera periksakan diri ke dokter. Diagnosis yang tepat akan membantu dokter menentukan jenis obat maupun terapi yang paling sesuai, sehingga risiko komplikasi akibat penyakit jantung dapat ditekan.