Video El Barack Viral, Psikolog Jelaskan Hal Penting di Baliknya

Psikolog mengungkap alasan di balik sikap El Barack yang viral dan banjir pujian dari warganet.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 10:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Video yang memperlihatkan kepedulian anak pertama Jessica Iskandar, El Barack Alexander, kepada adiknya, Hagia Alyara Verhaag, viral di media sosial. Dalam video tersebut, El mengambil alih menjaga sang adik agar suster yang mengasuh Hagia bisa makan dengan tenang.

"Ayo main sama Kakak El biar Sus-nya makan," kata El sambil menggendong Hagia.

"Makan, Sus," lanjutnya kepada sang pengasuh.

Tak hanya itu, El juga tampak cekatan menyuapi Hagia potongan buah di samping suster yang sedang menikmati makan.

Video singkat tersebut pun menuai banyak respons positif dari warganet. Sebagian netizen menilai sikap El mencerminkan pribadi yang penuh empati dan beretika. Ada pula yang memuji Jessica Iskandar karena dinilai berhasil mendidik anaknya dengan baik.

Menanggapi video tersebut, Psikolog Anak, Remaja, & Keluarga di Fyn Clinic, Ayoe Sutomo, mengatakan, perilaku El menunjukkan karakter anak yang memiliki secure attachment atau kelekatan yang aman dengan orang tuanya.

"Jadi, karena memang punya kelekatan aman dengan orang tuanya, biasanya dia jadi lebih mudah untuk kemudian hadir buat orang lain, membantu orang lain," kata Ayoe kepada Kesehatan Liputan6.com, Selasa (21/7/2026).

Menurutnya, anak dengan secure attachment memiliki kondisi emosi yang lebih stabil sehingga mampu memberikan perhatian kepada orang lain.

"Kenapa? Karena dia sendiri sudah penuh secara emosi, sehingga dia punya kapasitas lebih secara emosi untuk hadir buat orang lain, bantu orang lain, atau memudahkan pekerjaan orang lain," tambahnya.

Ayoe menjelaskan bahwa salah satu output dari secure attachment adalah munculnya rasa tanggung jawab terhadap saudara, bukan persaingan antarsaudara.

"Jadi, relasinya dengan adik itu nggak berupa rivalitas, tapi output-nya adalah dalam bentuk saling menjaga. Nah, itu yang bisa kelihatan, ya nyuapin atau nemenin main," katanya.

Yang lebih menarik, lanjut Ayoe, El juga menawarkan agar sang suster bisa bergantian beristirahat dan makan. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan tingkat empati yang tinggi.

"Sebenarnya anak ini punya empati yang tinggi untuk tahu kondisi orang lain, berusaha untuk menempatkan dirinya dalam posisi orang lain, dan kemudian melakukan sesuatu untuk membantu orang lain yang dia tahu mungkin butuh bantuan dalam situasi-situasi tertentu," ujarnya.

@risnawatiryznha Masya Allah dewasa dan pengertian banget sikap Kakak El ambil alih jagain Noni Hagia supaya sus ucu' juga bisa makan 🤍🥰🤗 #elbarack #hagia #artis ♬ suara asli - risnawatiryznha

Didikan Orang Tua seperti Apa yang Bisa Membentuk Anak Seperti El?

Menurut Ayoe, perilaku seperti yang ditunjukkan El bisa menjadi hasil dari pola asuh orang tua yang sejak dini melibatkan kakak dalam pengasuhan adik.

"Ini bisa merupakan output hasil dari orang tua yang senantiasa melibatkan kakak dalam momen-momen pengasuhan adik sejak dini. Jadi, bukannya dimarahi kalau dia memegang adiknya atau dilarang saat dia memegang adiknya, tetapi memang sudah diajak untuk terlibat sejak si adik masih kecil," katanya.

Dengan cara tersebut, rasa tanggung jawab, rasa mampu, dan rasa percaya diri dalam membantu adik akan tumbuh karena anak terbiasa dilibatkan.

Selain itu, Ayoe menilai sikap El juga bisa terbentuk dari teladan orang tua dalam memperlakukan pengasuh sebagai bagian dari keluarga yang patut dihargai.

"Pengasuh itu juga merupakan bagian dari rumah kita yang setara. Orang tua mencontohkan bagaimana menghargai waktu pengasuh dan bagaimana memperlakukannya. Pada akhirnya anak-anak pun akan mencontoh tindakan orang tuanya," katanya.

 

Pentingnya Berkata Baik di Rumah

Ayoe juga menekankan pentingnya nilai-nilai yang terus diucapkan dalam keseharian di rumah.

Misalnya, orang tua berkata,"Eh, Sus belum makan nih, kita gantian dulu dong. Sus belum sempat minum nih, dari tadi berdiri saja. Gantiannya Sus yang duduk deh, kita yang pegangin dulu."

Menurut Ayoe, kalimat-kalimat sederhana seperti itu, jika terus diucapkan, akan menjadi nilai yang terinternalisasi dalam diri anak.

"Hal-hal tersebut dijadikan nilai dalam keluarga dan, sadar atau tidak sadar, sering diverbalkan atau terucap. Kalau sering terucap, itu kan bisa terinternalisasi," pungkasnya.