Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

18 Tahun

LanjutkanStop di Sini

Kenali Gejala Disfungsi Ereksi Sejak Awal, Jangan Tunggu Parah

Terapi penanganan disfungsi ereksi sejak awal lebih mudah ketimbang kondisi sudah berat.

Diterbitkan 17 Mei 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pria yang merasakan gejala awal disfungsi ereksi disarankan untuk segera memeriksakan ke dokter. Jangan tunggu hingga kondisi disfungsi ereksi semakin berat seperti disampaikan praktisi kesehatan seksual yang juga dokter spesialis urologi Dimas Tri Prasetya.

Disfungsi ereksi merupakan kondisi ketika pria mengalami gangguan pada kualitas ereksi. Dimas mengatakan kondisi ini tidak hanya soal sulit ereksi, tetapi juga bisa berupa ereksi yang mudah melemah hingga tidak cukup keras saat berhubungan seksual.

"Misalnya dulu keras seperti timun kok sekarang seperti pisang. Itu berarti sudah ada penurunan. Sudah harus aware ya," kata Dimas.

“Jangan menunggu sampai parah sekali. Karena semakin parah, semakin susah terapinya dan proses terapi juga lebih lama,” lanjutnya.

Selain mendapatkan terapi medis, keberhasilan penanganan disfungsi ereksi juga dipengaruhi gaya hidup pasien. Misalnya ketika pasien mau menghentikan kebiasaan merokok maka bisa meningkatkan perbaikan ereksi.

Penting bagi pasien untuk memiliki ekspektasi yang realistis selama menjalani terapi disfungsi ereksi. Misalnya pasien meminta penis bisa kembali ereksi sempurna dalam waktu cepat. Nyatanya target kenaikan kekerasan penis dilakukan secara bertahap.

“Pasien kadang maunya langsung normal dalam satu malam, padahal itu butuh proses,” ujar dokter yang praktik di Elysium Clinic Jakarta Selatan itu.

 

Ketahui Mana Kondisi Keras yang Tidak Normal

Dimas menjelaskan bahwa tingkat kekerasan ereksi dapat dinilai menggunakan metode Erection Hardness Score (EHS). Metode ini digunakan untuk menilai kualitas ereksi dari skala satu hingga empat.

Skor empat dianggap sebagai kondisi ereksi normal atau paling ideal, kekerasan seperti timun.

Skor tiga, disfungsi ereksi ringan seperti pisang belum dikupas. Sudah keras tapi belum maksimal.

Skor dua, kondisi disfungsi ereksi sedang, kekerasan seperti pisang yang sudah dikupas.

Skor satu, itu kondisi ereksi yang lembek seperti tahu. Kondisi ini dinamakan disfungsi ereksi berat. "Skor satu dan dua itu tidak cukup keras untuk penerasi," kata Dimas.