Santri Kena Kudis, Dokter: Jangan Dianggap Biasa

Kudis seolah menjadi hal biasa yang terjadi pada santri, begini tanggapan dokter.

Diterbitkan 09 Juli 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit kulit scabies atau kudis kerap menyerang santri akibat lingkungan dan kebiasaan hidup yang kurang bersih. Bahkan ada istilah ‘bukan santri kalau tidak kudis’, padahal penyakit ini tidak boleh dianggap hal normal.

“Jangan sampai ada stigma ‘bukan santri kalau tidak kudisan’ saya dulu juga santri tapi tidak kudisan. Jadi jangan sampai membuat penyakit kudis, koreng, scabies ini menjadi hal yang normal dan tidak diobati karena kan sebetulnya bisa diobati dan dicegah,” kata Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII), dr. Dicky Budiman, Ph.D., kepada Kesehatan Liputan6.com lewat pesan suara, Selasa (7/7/2026).

Maka dari itu, kebersihan personal dan lingkungan menjadi hal penting. Menjaga kesehatan santri dimulai dengan mengatur kepadatan pesantren. Pasalnya, kepadatan tinggi dapat memudahkan penularan berbagai penyakit secara kontak dari satu santri ke santri lain.

Kondisi kamar perlu diperhatikan. Ventilasi atau lubang udara serta pencahayaan kamar menjadi hal penting untuk mencegah risiko penyakit kulit serta penyakit lain seperti tuberkulosis (TBC).

“Kemudian perlu ada larangan berbagi barang pribadi, anak pesantren kerap tukar pinjam pakaian, handuk, sarung, bantal, guling, dan kasur, ini yang bisa menjadi faktor penyebab penularan penyakit kulit,” katanya.

Selain kontrol lingkungan fisik, hal lain yang perlu jadi perhatian adalah kebersihan personal dan edukasi berkelanjutan.

“Ini penting dan sudah ada studi misalnya di Tebu Ireng, santri dengan kebersihan personal buruk 80 persen mengidap scabies, sementara pada santri dengan kebersihan personal baik angkanya hanya 41 persen.”

Untuk itu, pendidikan kebersihan di setiap gelombang santri baru harus terus dilakukan.

Skrining Rutin

Dicky juga menilai bahwa setiap pesantren perlu menggelar skrining kesehatan rutin bagi para santri.

“Misalnya dengan melakukan skrining TBC, pemeriksaan cepat (rapid test) yang juga bisa memeriksa beberapa penyakit.”

Tak kalah penting, kesehatan mental para santri juga perlu mendapat perhatian khusus. Pasalnya, santri rentan mengalami rindu rumah (homesick).

Homesick ini bukan sekadar rindu biasa, saya dulu juga mengalami, 83 persen anak ini mengalami kangen rumah saat pertama kali berpisah dari keluarga. Dan ini bisa parah pada sebagian dari mereka, sayangnya dukungan kesehatan mental ini masih belum terlalu umum di pesantren,” katanya.