Digital Hoarding Bisa Turunkan Produktivitas

Digital hoarding adalah kebiasaan menimbun foto, potongan chat, screenshot dan data digital lain yang sampai membuat kewalahn.

Diterbitkan 06 Juli 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di era serba digital, kebiasaan menimbun foto, video, screenshot, hingga percakapan di ponsel sering dianggap hal yang wajar. Namun, jika terlalu berlebihan hingga sulit menghapusnya, kondisi tersebut dapat menjadi tanda digital hoarding.

"Digital hoarding terjadi ketika seseorang terus-menerus menyimpan file digital hingga tidak lagi mampu membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang sebenarnya sudah tidak diperlukan. Akibatnya, alih-alih memberikan rasa aman, tumpukan data justru memunculkan stres dan perasaan kewalahan,” kata dosen program studi Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) IPB University, Agung Minto Wahyu, SPsi, MSi.

Agung mengatakan digital hoarding dapat menurunkan produktivitas. Tumpukan data yang tidak terorganisasi membuat seseorang menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari file yang dibutuhkan. Kondisi ini juga meningkatkan risiko information overload, yaitu ketika terlalu banyak informasi justru menyulitkan seseorang menentukan mana yang benar-benar relevan.

Digital Hoarding Terkait dengan Kesehatan Mental

Agung mengatakan orang yang mengalami digital hoarding berkaitan erat dengan kecemasan (anxiety), fear of missing out (FOMO), serta kebutuhan untuk merasa aman melalui kepemilikan informasi.

“Seseorang merasa cemas kalau tidak menyimpan, tetapi juga merasa kewalahan karena terlalu banyak menyimpan. Di sinilah muncul lingkaran psikologis yang sulit diputus,” jelasnya mengutip laman IPB University, Senin (6/7/2026).

 

Bangun Kebiasaan yang Lebih Sehat

Untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, Agung menyarankan agar masyarakat mulai membangun membangun kesadaran mengenai alasan menyimpan suatu file.

Luangkan waktu sekitar 10–15 menit setiap minggu guna menyortir data, membuat kriteria sederhana sebelum menyimpan file, serta belajar membedakan antara kenangan yang benar-benar bermakna dan file yang hanya tersimpan karena rasa cemas.

“Kekuatan sebuah kenangan tidak ditentukan oleh apakah file-nya masih ada di ponsel kita atau tidak. Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang lebih sadar dengan informasi digital kita tahu apa yang kita simpan, mengapa kita menyimpannya, dan berani melepaskan apa yang sudah tidak lagi kita butuhkan,” pungkasnya.