Cek Tekanan Darah Sebaiknya Dimulai Sejak Usia 18, Dokter Ungkap Alasannya

Bukan saat sudah tua, dokter ingatkan cek tekanan darah sebaiknya dimulai sejak usia 18 tahun.

Diterbitkan 20 Mei 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis saraf sekaligus Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), Eka Harmeiwaty, mengatakan bahwa mencegah hipertensi dengan cek tekanan darah sebaiknya dilakukan sejak usia 18 tahun.

“Harusnya cek tekanan darah sejak usia 18 tahun,” kata Eka dalam temu media bersama Omron di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Bukan tanpa alasan, rajin mengecek tekanan darah sejak usia muda penting dilakukan lantaran hipertensi adalah silent killer alias pembunuh senyap. Artinya, penyakit kerap muncul tanpa gejala yang disadari. Gejala mulai terasa jika penyakit sudah terjadi lama sekitar 10 tahun.

“Kita anjurkan di usia 18 karena gejala hipertensi lamban, nggak (hari ini) hipertensi langsung ada gejala. Gejala sedikit-sedikit, biasanya 10 tahun baru muncul gejala,” kata Eka.

Sementara, cek tekanan darah di usia lebih muda biasanya dilakukan pada orang-orang dengan faktor risiko tertentu, misalnya masalah ginjal yang memicu kenaikan tekanan darah. Di usia 40, cek tekanan darah rutin cenderung menjadi sebuah keharusan.

“Kalau udah 40 tahun ke atas, harus diukur. Pasalnya, ada 50 juta kasus hipertensi di Indonesia dan yang terkontrol tidak sampai 6 persen, sehingga angka komplikasinya tinggi.”

Eka menambahkan, hipertensi tidak boleh diremehkan karena bisa memicu stroke, gangguan irama jantung, kerusakan pada retina, disfungsi seksual, dan pikun.

“Jadi, harus ukur tekanan darah secara teratur,” saran Eka.

Ukur Tensi di Rumah Harus dengan Cara yang Benar

Eka menambahkan, mengukur tensi di rumah harus dengan cara yang tepat. Dari posisi duduk, pasien perlu duduk bersandar.

“Karena kalau tidak bersandar bisa naik 10-15, kaki tidak bersilang, tidak boleh ngobrol, dan dilakukan sebelum makan, minum obat, dan beraktivitas,” kata Eka.

Bagi pemula, darah sebaiknya diukur tiga kali dan angka yang diambil adalah dua hasil pengukuran terakhir. Hasilnya ditambahkan lalu dibagi dua.

“Saat mengukur, jangan sambil lihat angkanya, bisa stres.”

Pengukuran sebaiknya dilakukan pada pagi dan malam sebelum tidur. Dan yang terpenting, angka darah normal di rumah berbeda dengan pengukuran di klinik.

“Kalau di rumah bukan 140/90 tapi 135/85,” ujar Eka.