Kulit Sensitif adalah Tanda Skin Barrier Terganggu yang Dipicu Hal Tak Terduga

Jangan anggap sepele kulit sensitif, dokter sebut bisa jadi tanda skin barrier sedang rusak.

Diterbitkan 26 Mei 2026, 13:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kulit sensitif kerap dianggap sebagai jenis kulit tertentu. Padahal, menurut Dermfluencer and Founder Dermis Clinic, dr. Hafiza Fathan, Sp.DVE, FINSDV, kondisi ini lebih tepat disebut sebagai tanda adanya gangguan pada skin barrier atau lapisan pelindung kulit.

"Sebenarnya kulit sensitif itu bukan selalu jenis kulit, tapi bisa merupakan kondisi ketika skin barrier sedang terganggu. Jadi kulit yang awalnya normal pun bisa menjadi sensitif," kata Hafiza kepada Kesehatan Liputan6.com di sela-sela acara ISISPHARMA Dermfluencer Movement  dan peluncuran SECALIA Series belum lama ini.

Skin barrier berfungsi melindungi kulit dari polusi, bahan kimia, hingga perubahan lingkungan. Saat lapisan ini rusak, kulit menjadi lebih mudah bereaksi seperti kemerahan, perih, kering, dan terasa panas.

Yang sering tidak disadari, kulit sensitif bisa muncul akibat kebiasaan perawatan kulit yang berlebihan. Misalnya, penggunaan skincare yang terlalu keras, layering produk terlalu banyak, atau melakukan perawatan klinik secara beruntun dalam waktu dekat.

"Overtreatment atau penggunaan produk yang terlalu harsh bisa membuat skin barrier rusak. Akhirnya kulit yang awalnya normal jadi sensitif," tambahnya.

Fenomena ini cukup sering terjadi, terutama pada orang yang ingin mendapatkan hasil instan seperti kulit glowing dalam waktu singkat.

Tanpa disadari, kata Hafiza, kombinasi berbagai treatment justru membuat kulit kehilangan keseimbangan alaminya.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa ketika kulit sudah masuk fase sensitif, langkah yang perlu dilakukan bukan langsung mengganti produk skincare, melainkan menenangkan kondisi kulit terlebih dahulu.

Fokus utama adalah memperbaiki skin barrier. Pendekatan yang dilakukan biasanya bersifat calming dan soothing agar kulit bisa kembali ke kondisi normal.

"Yang kita lakukan biasanya mengembalikan skin barrier dulu. Setelah itu baru kita evaluasi lagi jenis kulitnya seperti apa," ujarnya.

 

Proses Pemulihan Kulit Sensitif

Proses pemulihan ini tidak bisa disamakan pada setiap orang. Ada yang hanya membutuhkan beberapa hari. Namun, ada juga yang memerlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, tergantung tingkat kerusakan kulit.

Pada kasus ringan, kata Hafiza, kulit sensitif dapat pulih sepenuhnya setelah pemicu dihentikan. Namun, pada kondisi tertentu, kerusakan bisa lebih serius dan memerlukan waktu lebih lama untuk perbaikan.

Bahkan, dalam beberapa kasus ekstrem, kerusakan skin barrier atau sel pigmen bisa bersifat permanen.

"Kalau misalnya sampai melanositnya rusak akibat energi treatment yang terlalu tinggi, bisa muncul perubahan warna kulit yang sulit dikembalikan," katanya.

Pemicu kulit sensitif tidak hanya berasal dari skincare atau treatment, tapi juga faktor lingkungan seperti perubahan suhu ekstrem.

Pada usia lanjut, kulit yang lebih tipis juga lebih rentan mengalami gangguan, termasuk risiko rosacea akibat paparan suhu yang berubah-ubah.

Hafiza menekankan bahwa penanganan kulit sensitif harus disesuaikan dengan penyebabnya. Jika karena skincare atau kebiasaan, cukup dengan menghentikan pemicu dan fokus memperbaiki skin barrier.

"Intinya tergantung penyebabnya," pungkasnya.