Sama-sama Bisa BAB Berdarah, Ini Beda Gejala Ambeien dan Penyakit Radang Usus

Ambeien dan penyakit radang usus (inflammatory bowel disease) sama-sama memiliki gejala buang air besar berdarah.

Diterbitkan 26 Mei 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ambeien dan penyakit radang usus atau Inflammatory Bowel Disease atau Penyakit Radang Usus sama-sama bisa menyebabkan keluhan di area pencernaan, termasuk buang air besar (BAB) berdarah. Karena gejalanya mirip, banyak orang sering tertukar. Padahal keduanya berbeda.

Masyarakat perlu memahami perbedaan gejala IBD yang kerap mirip dengan ambeien seperti disampaikan dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi Murdani Abdullah.

Pada ambeien, darah yang keluar biasanya berwarna merah segar dan menetes setelah buang air besar. Kondisi ini juga umumnya disertai rasa nyeri, gatal di area anus, hingga muncul benjolan.

“Biasanya pada ambeien muncul perasaan BAB belum tuntas,” ujar Murdani yang praktik di Eka Hospital MT Haryono Jakarta ditemui, Senin, 25 Mei 2026.

Ia mengatakan sebagian besar ambeien dapat membaik dengan perubahan pola hidup, seperti memperbanyak minum dan konsumsi serat. Lalu, keluhan ambeien juga sering berkaitan dengan konstipasi atau sulit buang air besar.

Sementara itu, pada Inflammatory Bowel Disease (IBD) atau Penyakit Radang Usus, darah yang keluar biasanya bercampur lendir pada tinja dan keluhan berlangsung lebih dari dua minggu. Kondisi ini juga kerap disertai nyeri perut, diare, penurunan berat badan, hingga demam pada kasus yang lebih berat.

 

Apa Itu Penyakit Radang Usus?

Penyakit radang usus adalah kondisi medis jangka panjang yang ditandai dengan adanya peradangan progresif pada dinding saluran pencernaan. 

Secara medis, IBD dikelompokkan menjadi dua jenis utama berdasarkan lokasi dan kedalaman peradangannya:

1. Kolitis ulseratif (ulcerative colitis)

Peradangan kronis ini hanya terjadi pada lapisan usus besar dan rektum. Ciri khasnya adalah munculnya luka terbuka yang merata pada dinding saluran pencernaan menyebabkan perdarahan terus-menerus.

2. Penyakit Crohn (Crohn's disease)

Peradangan ini menyerang bagian mana pun dari saluran pencernaan, mulai dari mulut hingga anus. Selain itu, peradangan pada Penyakit Crohn dapat menembus seluruh ketebalan dinding usus secara acak.

Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab IBD. Namun, kehadiran penyakit ini ada kaitan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh (autoimun). Kondisi ini membuat pasien mengalami gangguan, bukannya melawan virus atau bakteri, mereka justru menyerang sel-sel sehat di saluran pencernaan sendiri secara agresif.

Murdani juga mengungkapkan fakta bahwa industrialisasi turut berpengaruh terhadap angka kasus penyakit radang usus.

"Suatu negara yang lebih dulu mengalami industrialisasi kasus IBD-nya lebih dulu dari yang masih tertinggal. Faktor makanan, gaya hidup tampaknya berpengaruh di sini," tuturnya.

 

Pengobatan IBD

Ketika seorang pasien sudah tegak mengalami IBD, maka pengobatan penyakit radang usus akan disesuaikan dengan kondisi. Pada beberapa kasus pemberian obat tahap awal sudah membantu pasien. Namun, jika kondisi tidak membaik maka perlu dilakukan pemberian atau mencari obat yang lebih tepat.

Tindakan bedah adalah pilihan terakhir jika obat-obatan sudah tidak mempan atau telah terjadi komplikasi serius seperti kebocoran dan penyumbatan usus.

Murdani juga mengungkapkan bahwa penyakit radang usus adalah penyakit kronik yang berarti belum ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkannya secara tuntas.

Namun, kabar baiknya adalah dengan pengobatan dan perawatan yang tepat, peradangan dapat dikontrol, gejala bisa diredakan, dan penderita bisa mencapai fase remisi yang panjang, bahkan hidup normal. Lalu, pasien pun diminta untuk mengatur pola makan salah satunya menghindari gula dan produk yang mengandung emulsifier.

"Penanganan medis dapat menekan peradangan secara signifikan hingga pasien mencapai fase remisi (fase bebas gejala)," pesannya.