Di Balik Nikmatnya Ikan Asin, Ada Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Dokter jelaskan hubungan ikan asin dengan kanker nasofaring dan cara menurunkan risikonya.

Diterbitkan 16 Juni 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ikan asin merupakan salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Rasanya yang gurih dan khas membuat lauk ini kerap menjadi pelengkap berbagai hidangan. Namun, di balik kenikmatannya, ikan asin sering dikaitkan dengan risiko kanker nasofaring.

Meski begitu masyarakat tidak perlu langsung khawatir. Sebab, menurut Ketua Health Collaborative Center (HCC), Dr. Ray Wagiu Basrowi, mengonsumsi ikan asin sesekali tidak serta-merta menyebabkan kanker.

"Bukan berarti sekali makan ikan asin langsung menyebabkan kanker. Yang menjadi perhatian adalah konsumsi yang sering, jangka panjang, terutama sejak masa anak-anak, pada jenis ikan asin yang diproses dengan penggaraman dan pengeringan tradisional tertentu," kata Ray dikutip dari akun Instagram @hcc.indonesia pada Selasa, 16 Juni 2026.

Dijelaskan Ray bahwa International Agency for Research on Cancer (IARC) --- yang berada di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) --- telah mengklasifikasikan Chinese-style salted fish sebagai karsinogen Grup 1 untuk kanker nasofaring.

Artinya, terdapat bukti ilmiah yang kuat bahwa paparan makanan tersebut dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring.

Namun, lanjut Ray, besarnya risiko tidak sama pada setiap orang karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti frekuensi konsumsi, jumlah yang dimakan, lama paparan, serta faktor genetik dan lingkungan.

Kenapa ikan asin bisa menyebabkan kanker nasofaring? Salah satu penyebabnya adalah proses pengawetan tradisional yang dapat menghasilkan senyawa nitrosamin. Senyawa ini diketahui mampu merusak DNA, memicu mutasi sel, dan meningkatkan risiko terbentuknya sel kanker.

"Pada proses pengawetan tradisional dapat terjadi pembentukan senyawa nitrosamin yang dikenal mampu merusak DNA, memicu mutasi sel, dan meningkatkan risiko terbentuknya sel kanker," ujar Ray.

Oleh sebab itu, paparan berulang dalam jangka waktu panjang menjadi perhatian utama para peneliti.

 

Risiko Tidak Hanya Berasal dari Makanan

Ray menekankan bahwa kanker nasofaring bukan hanya dipengaruhi oleh konsumsi ikan asin atau makanan tinggi garam. Penyakit ini memiliki penyebab yang kompleks dan melibatkan banyak faktor.

Beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring antara lain infeksi Epstein-Barr Virus (EBV), riwayat keluarga, paparan asap rokok, polusi udara, serta kebiasaan mengonsumsi makanan yang diawetkan secara berlebihan.

Kanker nasofaring sering sulit dikenali pada tahap awal karena gejalanya mirip dengan gangguan kesehatan sehari-hari, seperti flu atau pilek.

Meski begitu, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai, seperti benjolan di leher, hidung tersumbat pada satu sisi, mimisan berulang, telinga terasa penuh, gangguan pendengaran pada satu sisi, hingga sakit kepala yang menetap.

Jika gejala tersebut berlangsung terus-menerus, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

Untuk membantu menurunkan risiko kanker nasofaring, Ray menyarankan masyarakat membatasi konsumsi makanan yang tinggi garam dan diawetkan. Sebaliknya, perbanyak konsumsi ikan segar, buah, dan sayuran sebagai bagian dari pola makan sehat.

Selain itu, hindari kebiasaan merokok dan paparan asap rokok, serta jaga kesehatan saluran pernapasan.