Jawa Barat Catat Kasus DBD Tertinggi, 36 Orang Meninggal

Lebih dari 9 ribu orang di Jawa Barat terkena DBD hingga Mei 2026. Angka kematian akibat dengue pun tinggi dari wilayah ini.

Diterbitkan 15 Juni 2026, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan mencatat Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data hingga 19 Mei 2026, tercatat 9.526 kasus DBD di Jawa Barat dengan 36 kematian. Angka ini menjadikan Jawa Barat sebagai daerah dengan beban kasus dan kematian DBD tertinggi secara nasional.

"Jawa Barat masih yang tertinggi, besar sekali, lebih dari 9.000 kasus dengan 36 kematian," kata Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dokter Prima Yosephine pada konferensi pers Senin, 15 Juni 2026 di Jakarta.

Setelah Jawa Barat, jumlah kasus DBD terbanyak ditemukan di Jawa Timur dengan 5.300-an serta angka kematian 12. Lalu, posisi ketiga adalah Jawa Tengah dengan 3.792 kasus DBD dengan 9 orang meninggal dunia. 

Prima berharap pemerintah daerah dapat memperkuat pengawasan dan upaya pengendalian vektor sehingga jumlah kasus DBD dapat terus ditekan.

"Kami berharap masing-masing daerah bisa melakukan pengawasan kuat sehingga kasus bisa turun," tekan Prima.

Secara nasional, hingga Mei 2026 tercatat 39.672 kasus dengan 105 kematian akibat DBD. Ini artinya case fatality rate (CFR) sekitar 0,3 persen. 

Indonesia sendiri memiliki target nol kematian akibat DBD pada 2030. Menurut Prima hal tersebut bisa terwujud bila semua sektor mulai dari pemerintah, masyarakat hingga swasta turut bekerja sama.

 

Tangeran Selatan Nol Kasus Kematian DBD

Di kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Tangerang Selatan, dokter Allin Hendalin Mahdaniar mengungkapkan bahwa wilahnya pada tahun ini ada 192 kasus DBD dengan nol kematian.

"Dari tahun 2024 sampai sekarang kami pertahankan angka kematian di nol," kata Allin. 

Ia mengatakan keberhasilan menekan kasus kematian DBD hingga nol berkat kerja sama berbagai pihak. Mulai dari aspek pencegahan lalu masyarakat mengenali tanda dan gejala DBD sejak awal. Selain itu, penegakan diagnosis di fasilitas kesehatan dilakukan dengan baik. Lalu, pasien yang terkena DBD dapat memperoleh penanganan sesuai prosedur yang tepat dan benar.

Â