Pesan Dokter untuk Perempuan: Keluhan Ini Tak Selalu Depresi

Dokter jelaskan bahwa perubahan mood dan gangguan tidur tidak selalu tanda depresi

Diterbitkan 20 Juni 2026, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Prodia Women’s Health Center, Dr. dr. Ratna Dewi Puspita Sari, SpOG, MARS, FISQua mengatakan bahwa keluhan seperti perubahan suasana hati, gangguan tidur, hingga rasa mudah lelah tidak selalu menandakan depresi atau gangguan mental lainnya.

Menurutnya, gejala tersebut pada banyak perempuan justru berkaitan dengan perubahan hormon, terutama saat memasuki fase perimenopause.

"Kalau mengalami hal-hal ini jangan buru-buru bilang depresi," ujar Ratna dalam diskusi media pada Sabtu, (20/6/2026)

Ratna, menjelaskan, tubuh perempuan mengalami perubahan hormonal yang kompleks sepanjang siklus hidup. Hormon seperti estrogen, progesteron, hingga prolaktin dan hCG (Human Chorionic Gonadotropin) berperan dalam fungsi reproduksi sekaligus metabolisme tubuh.

Ketidakseimbangan hormon ini dapat memunculkan gejala yang sering disalahartikan sebagai depresi, seperti mood swing, kecemasan, hingga gangguan tidur. "Perubahan hormon bisa sangat memengaruhi kondisi fisik dan emosional," tambahnya.

Tanda tanda perimenopause adalah? Dia menegaskan bahwa perimenopause bukan penyakit, melainkan fase transisi alami sebelum menopause. Pada fase ini, kadar hormon mulai menurun dan tidak stabil.

Gejala yang kerap muncul antara lain hot flash atau rasa panas berlebih, mudah berkeringat, sulit tidur, serta perubahan emosi yang cukup cepat.

Dalam beberapa kasus, kata Ratna, perempuan bisa mengalami perubahan suasana hati yang drastis dalam waktu singkat.

Masalah utama yang terjadi adalah banyak perempuan mengira kondisi tersebut sebagai depresi. Akibatnya, tidak sedikit yang melakukan self-diagnosis tanpa memahami penyebab sebenarnya.

Ratna pun mengingatkan agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. "Bisa jadi ini karena hormon yang sedang beradaptasi," ujarnya.

Dia menekankan pentingnya pemahaman yang tepat agar penanganan tidak salah arah dan tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan.

 

Disarankan Cek Hormon di Usia 40 Tahun

Ratna juga menyarankan perempuan, terutama yang memasuki usia 40 tahun ke atas, untuk mulai melakukan pemeriksaan hormon. Pemeriksaan ini meliputi estrogen, progesteron, FSH, LH, hingga prolaktin.

"Jangan tunggu sakit baru diperiksa. Lebih baik tahu lebih awal kondisi hormon kita," katanya.

Dengan mengetahui kondisi hormon sejak dini, perempuan dapat melakukan langkah pencegahan seperti mengatur pola makan, olahraga, serta menjaga keseimbangan stres.

 

Menopause dan Faktor yang Mempengaruhi

Menopause terjadi ketika seorang perempuan tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Namun, fase menuju menopause bisa dimulai lebih awal dan berbeda pada setiap individu.

Faktor genetik dari ibu juga disebut dapat memengaruhi kondisi hormon, termasuk risiko menopause lebih cepat atau lebih lambat.

"Setiap perempuan itu unik. Kondisi hormon sangat dipengaruhi faktor genetik dan gaya hidup," pungkasnya.

Â