Patah Tulang Saat Masih dalam Kandungan, Kenali Osteogenesis Imperfecta

Kondisi osteogenesis imperfecta memiliki beberapa tingkatan, dari ringan hingga berat.

Diterbitkan 30 Juni 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anak dapat mengalami patah tulang bahkan sejak dalam kandungan. Hal ini dapat terjadi akibat kondisi khusus osteogenesis imperfecta.

“Biasanya terjadi pada anak-anak dengan kondisi tertentu, osteogenesis imperfecta itu punya beberapa grade (tingkat) ada grade paling berat sampai paling ringan. Kasus ringan masih bisa jalan pasiennya kalau yang terberat bahkan bisa patah dan meninggal dalam kandungan,” kata dokter spesialis ortopedi divisi anak, Gabriel Klemens Wienanda kepada Kesehatan Liputan6.com dalam temu media di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Kasus lain, ada anak lahir dan tidak diketahui memiliki osteogenesis imperfecta sehingga mengalami patah tulang leher saat proses persalinan. Ada pula anak yang berhasil lahir tapi tulangnya mudah patah, misalnya saat berdiri kemudian patah.

Anak dengan kondisi osteogenesis imperfecta ringan masih bisa diberi penanganan dan hidup dengan baik.

“Penanganannya banyak, satu dia harus konsumsi obat dan vitamin D dan masih banyak lagi. Dan yang menangani itu multi tim (multi disiplin), jadi bukan hanya ortopedi anak, perlu ada endokrin anak, harus ada bagian tumbuh kembang anak, gizi anak.”

Para dokter perlu menangani secara komprehensif dan simultan sehingga anak dapat tumbuh layaknya anak lain.

“Anak dengan osteogenesis imperfecta bisa tumbuh seperti anak lainnya tapi dia punya risiko lemah pada tulangnya. Jadi komposisi tulangnya ada bagian yang gagal terbentuk sehingga tidak sekuat tulang normal.”

Akibatnya, tubuh anak bisa bengkok. Hal-hal seperti ini perlu dicegah sejak awal agar kualitas hidupnya di masa depan menjadi lebih baik dan mandiri.

Pertolongan Pertama Patah Tulang Anak

Bukan melulu pada anak dengan osteogenesis imperfecta, anak tanpa kondisi khusus pun bisa mengalami patah tulang.

Rasa ingin tahu yang besar dan gerakan tubuh aktif membuat anak kerap jatuh bahkan hingga patah tulang.

Gabriel mengingatkan, jika anak jatuh dan menunjukkan gejala cedera tulang berat, maka orang tua dapat melakukan langkah pertolongan pertama berikut secara tenang:

  1. Jangan digerakkan: Jangan mencoba meluruskan, menarik, atau mengubah posisi tangan/kaki anak yang tampak bengkok. Pastikan untuk menjaga area cedera agar tidak bergerak.
  2. Pasang penyangga darurat: Gunakan benda yang kaku dan lurus, seperti papan kayu, penggaris panjang, atau majalah tebal yang digulung di bawah atau di samping tungkai yang cedera. Ikat longgar dengan kain atau perban untuk menyangga tulang agar posisinya stabil.
  3. Kompres dingin: Tempelkan kompres dingin yang dibungkus kain pada area yang bengkak selama 15–20 menit untuk membantu meredakan nyeri dan mengurangi pembengkakan. Jangan menempelkan es langsung ke kulit.
  4. Bawa ke rumah sakit: Segera bawa anak ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan X-Ray untuk melihat kondisi pasti di dalam tulang.

Penanganan cedera tulang pada anak membutuhkan ketelitian dan pendekatan medis khusus demi menjaga masa depan tumbuh kembang mereka. Hindari mengambil risiko dengan metode urut yang tidak terukur secara ilmiah.

“Jika buah hati Anda mengalami cedera, jatuh, atau diduga mengalami gangguan pada sistem otot dan tulangnya, Anda dapat melakukan pemeriksaan komprehensif, rontgen, serta penanganan medis yang aman bersama tim spesialis ortopedi anak,” kata dokter yang bertugas di Eka Hospital Cibubur dalam temu media di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Penanganan patah tulang anak juga perlu didukung oleh fasilitas diagnostik dan penanganan cedera tulang yang modern serta dokter spesialis berpengalaman.