Indonesia-China Kembangkan Vaksin mRNA DBD, BPOM Kawal dari Awal

BPOM sebagai regulator bantu percepat proses pengembangan produk dengan perhatikan aspek keamanan, khasiat dan mutu vaksin.

Diterbitkan 09 Juli 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terlibat sejak awal riset kerja sama Indonesia dengan China dalam mengembangkan vaksin demam berdarah dengue (DBD) tetravalen berbasis mRNA. Menurut Kepala BPOM Taruna Ikrar, keterlibatan pihak regulator sejak awal bisa mempercepat pengembangan vaksin karena memperhatikan aspek keamanan, khasiat dan mutu.

Paradigma BPOM hanya berperan pada tahap akhir pembuatan vaksin melalui penerbitan izin edar, menurut Taruna, harus diubah.

"Jangan berpikir BPOM hanya sebagai 'tukang stempel'," kata Taruna usai peluncuran prototipe vaksin dengue tetravalen berbasis mRNA di kantor Kementerian Kesehatan Jakarta, pada Rabu (8/7/2026).

"BPOM harus dilibatkan sejak awal karena kami memahami standar, metode, dan karakteristik produk yang harus dipenuhi. Banyak produk yang sebelumnya (telah diproses) tidak dapat dilanjutkan karena BPOM baru dilibatkan di tahap akhir. Padahal, kami memiliki standar yang mengacu pada regulasi global," kata Taruna.

Prototipe tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Indonesia, Tsinghua University, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia. Pengembangan vaksin mRNA dengue itu mendapat dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Sains dan Teknologi Republik Rakyat Tiongkok, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Taruna mengatakan pengembangan vaksin berbasis teknologi mRNA menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk menghasilkan inovasi kesehatan yang mampu menjawab tantangan penyakit menular. Selain itu, memperkuat kemandirian nasional di bidang farmasi dan bioteknologi.

"Dengue masih menjadi ancaman kesehatan yang serius, baik di tingkat global maupun nasional. Kondisi ini menuntut hadirnya inovasi yang lebih cepat, adaptif, dan berbasis ilmu pengetahuan, termasuk melalui pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA," ujar Taruna.

"Dalam pengembangan vaksin ini, BPOM memiliki tekad untuk mendukung secara maksimal karena kita sedang berupaya menciptakan sejarah, yaitu mengembangkan vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah," kata Taruna.

 

Pengembangan Vaksin Berbasis mRNA Setelah COVID-19

Pengembangan vaksin dengan teknologi mRNA untuk menghadang demam berdarah dengue merupakan pertama kali dalam sejarah. Sebelumnya, teknologi tersebut digunakan dalam mengembangkan virus COVID-19.

Jika berhasil, produk ini akan menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah, sekaligus menjadi antigen ke 6 yang mampu diproduksi Indonesia dari hulu ke hilir.

"Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam peluncuran prototipe vaksin mRNA dengue.

Budi mengatakan dari 16 jenis antigen yang dibutuhkan untuk program imunisasi rutin nasional, saat ini baru 11 antigen yang sudah mampu diproduksi lokal. Lalu, terdapat 5 antigen yang diproduksi secara mandiri dari hulu mulai riset, pembuatan bibit vaksin, hingga manufaktur. Sementara 6 antigen lainnya masih sebatas proses perakitan (assembly) atau formulasi akhir karena bahan bakunya masih diimpor dari Tiongkok dan India.

"Target saya, sebelum tahun 2030, ke-11 antigen sisanya harus bisa kita produksi utuh dari hulu ke hilir," tegas Budi.