Liputan6.com, Jakarta - Lingkungan kota dengan penduduk yang kian padat disebut-sebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus demam berdarah dengue (DBD). Penyakit yang disebarkan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus ini masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia.
Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperlihatkan bahwa peningkatan DBD dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berbeda di setiap wilayah. Begitu pula, risiko serta faktor penyebab infeksi dengue di wilayah perkotaan dan pedesaan memiliki karakteristik yang berbeda.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang melibatkan 877.531 responden dari 38 provinsi menemukan perbedaan angka DBD di desa dan kota. Angka kejadian infeksi DBD cenderung lebih tinggi di wilayah perkotaan dibandingkan pedesaan. Proporsi kasus di daerah perkotaan tercatat sebesar 0,73 persen, sedangkan di wilayah pedesaan sebesar 0,52 persen.
Advertisement
Periset Pusat Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Mara Ipa, menjelaskan, tingginya kasus DBD di wilayah perkotaan dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, mobilitas masyarakat, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan nyamuk Aedes aegypti.
Faktor lain seperti infrastruktur, perumahan, sanitasi, dan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan juga turut berperan dalam meningkatkan risiko penularan.
"Rumah dengan kepadatan penghuni tinggi, sumber air yang berada di dalam rumah, serta kebiasaan tidak rutin membersihkan tempat penampungan air menjadi faktor yang meningkatkan risiko infeksi di wilayah urban," ujar Mara, mengutip laman resmi BRIN pada Minggu, 7 Juni 2026.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Urban-Rural Disparities in Self-Reported Dengue Infection: A Comprehensive Analysis of the 2023 Indonesian Health Survey juga mengungkap kelompok paling rentan.
Menurut Mara, anak usia sekolah di wilayah perkotaan menjadi kelompok yang paling rentan terhadap infeksi dengue.
Tingginya aktivitas di luar rumah serta lingkungan padat penduduk diduga menjadi faktor yang meningkatkan paparan gigitan nyamuk Aedes aegypti. Kondisi lingkungan rumah juga berpengaruh besar terhadap penularan dengue.
Penanganan DBD Perlu Disesuaikan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4188927/original/083761900_1665554937-20221012-JALUR-SEPEDA-HERMAN-5.jpg)
Sementara itu, Periset Pusat Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Muhammad Choirul Hidajat, menilai bahwa kelompok ekonomi tinggi di perkotaan lebih banyak dilaporkan terdiagnosis dengue. Kondisi ini kemungkinan dipengaruhi oleh akses terhadap layanan kesehatan dan pemeriksaan laboratorium yang lebih baik.
"Hal ini diduga karena kelompok tersebut lebih mudah mengakses layanan kesehatan dan pemeriksaan laboratorium sehingga kasus lebih banyak terdeteksi. Penelitian menemukan adanya asosiasi antara jenis sumber air rumah tangga dan risiko dengue, yang kemungkinan mencerminkan kondisi pengelolaan lingkungan serta praktik penyimpanan air di wilayah urban," ujar Choirul.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kebersihan tempat penampungan air. Masyarakat perkotaan yang tidak rutin membersihkan wadah penyimpanan air memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi dengue. Air yang menggenang menjadi tempat ideal bagi nyamuk berkembang biak dan meningkatkan potensi penyebaran penyakit.
Di sisi lain, masyarakat pedesaan yang rutin melakukan tindakan pencegahan gigitan nyamuk terbukti memiliki risiko lebih rendah terkena dengue. Namun, keterbatasan akses layanan kesehatan dan fasilitas pencegahan masih menjadi tantangan di wilayah rural.
"Pekerja sektor informal di pedesaan cenderung lebih jarang melaporkan infeksi dengue, yang kemungkinan dipengaruhi keterbatasan akses layanan kesehatan dan pemeriksaan medis," kata Choirul.
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti BRIN menegaskan bahwa dengue tidak hanya dipengaruhi faktor biologis, tetapi juga determinan sosial seperti kondisi perumahan, akses layanan kesehatan, perilaku pencegahan, dan pengelolaan lingkungan rumah tangga.
Selain itu, penanganan demam berdarah harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah. Daerah pedesaan membutuhkan peningkatan akses layanan kesehatan dan edukasi pencegahan, sedangkan wilayah perkotaan perlu memperkuat pengendalian lingkungan dan konsistensi perilaku hidup bersih.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5432608/original/039355600_1764817183-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-04T072013.095.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5300825/original/063294400_1753929347-20250721_132106.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542212/original/065975700_1774936641-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5523300/original/073953200_1772800710-IMG_0778.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6457833/original/035515200_1779321452-20150925144201-ini-kampung-di-bandung-yang-jadi-salah-satu-terpadat-di-dunia-008-dru.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4757067/original/064372000_1709175295-johnny-mcclung-uDM99xirqI4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3251556/original/099101400_1601292764-photo-1554574004-b5ed96682e9b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2716881/original/044833600_1548845032-pasien-DBD4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292389/original/041817400_1783593394-IMG_20260708_134930.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292072/original/001928600_1783583941-WhatsApp_Image_2026-07-09_at_11.25.29.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291616/original/077545600_1783569990-WhatsApp_Image_2026-07-09_at_10.59.54.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5254682/original/016436200_1750136014-Gemini_Generated_Image_r03v0or03v0or03v.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5166281/original/083529500_1742264656-30ac155b-e2f6-4cf5-8c97-ce0bc8c25cbb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4895998/original/057531400_1721381183-Screenshot_2024-07-19_162153.jpg)